PONTIANAK, SP – Langkah ganda campuran Indonesia Rehan Naufal Kusharjanto/Melati Daeva Oktavianti harus terhenti di babak semifinal Polytron Pontianak Indonesia Masters 2026.
Tampil di hadapan publik GOR Terpadu Ahmad Yani Pontianak, Sabtu (5/9/2026), Rehan/Melati harus mengakui keunggulan pasangan China Liao Pin Yi/Zhang Jia Han dalam pertandingan dua gim.
Rehan/Melati kalah dengan skor 18-21 dan 18-21.
Pada gim pertama, Rehan/Melati sebenarnya mengawali pertandingan dengan cukup baik. Mereka mampu membuka keunggulan 4-1 dan kemudian menjauh hingga 8-5.
Namun, pasangan China perlahan mampu mengejar. Setelah kedudukan 9-9, Liao/Zhang berbalik memimpin 10-11 dan terus menjaga momentum hingga unggul 10-14.
Rehan/Melati sempat berusaha memperkecil ketertinggalan. Namun, pasangan China mampu mempertahankan permainan hingga kedudukan 14-18 sebelum akhirnya menutup gim pertama 18-21.
Memasuki gim kedua, pertandingan berlangsung lebih ketat. Kedua pasangan saling mengejar sejak awal hingga kedudukan 4-4.
Rehan/Melati kemudian mampu menemukan momentum dan berbalik unggul 9-6, sebelum memperlebar jarak menjadi 11-7.
Namun, keunggulan tersebut kembali terkejar. Pasangan China menyamakan kedudukan 13-13 dan pertandingan berlangsung semakin sengit.
Rehan/Melati sempat kembali memimpin 16-14. Akan tetapi, Liao/Zhang terus memberikan tekanan hingga menyamakan kedudukan 17-17.
Pertandingan semakin menegangkan ketika kedua pasangan kembali imbang 18-18. Setelah itu, pasangan China mampu mengambil dua poin berikutnya untuk unggul 18-20.
Rehan/Melati berusaha mengejar, tetapi momentum sudah berada di tangan lawan. Liao/Zhang akhirnya menutup gim kedua 18-21 sekaligus memastikan tiket ke final.
Melati mengatakan, kualitas pasangan China menjadi salah satu pelajaran penting bagi dirinya dan Rehan, terlebih keduanya masih berstatus pasangan baru.
Menurutnya, pemain China memiliki kualitas tinggi, baik yang berstatus junior maupun senior.
“Yang pasti kita tahu pemain China, mau junior maupun senior, semuanya punya kualitas yang sangat bagus. Ini jadi satu pelajaran buat kita sebagai partner baru,” ujar Melati.
Ia mengakui pertandingan tersebut memperlihatkan sejumlah kekurangan yang masih dimiliki keduanya.
Menurut Melati, salah satu persoalan muncul ketika pasangan China mengubah pola permainan setelah Rehan/Melati sempat memimpin.
“Kalau menurut saya, mereka mengubah pola permainan. Pas kita leading, mereka mengubah pola permainan dan kita lambat untuk mengatasi itu. Jadinya, kita banyak melakukan kesalahan sendiri,” jelasnya.
Situasi tersebut membuat keunggulan yang sempat diraih Rehan/Melati tidak mampu dipertahankan.
Selain perubahan pola permainan lawan, komunikasi di antara keduanya juga menjadi pekerjaan rumah setelah pertandingan semifinal.
Rehan mengakui apa yang disampaikan Melati. Menurutnya, pertandingan semifinal justru memberikan gambaran lebih jelas mengenai bagian permainan yang masih perlu diperbaiki.
“Benar seperti yang dikatakan Meli tadi, jadi kita tahu yang lemah kita di mana. Nanti ke depannya kita bakal perbaiki itu. Kita bakal tutup itu semua,” kata Rehan.
Bagi Rehan/Melati, perjalanan hingga semifinal juga menjadi pengalaman penting karena ini merupakan debut mereka sebagai pasangan di pertandingan.
Keduanya mengaku sudah terbiasa berlatih bersama. Namun, situasi pertandingan memberikan tekanan dan tantangan yang berbeda sehingga sejumlah kekurangan baru terlihat ketika berada di lapangan.
“Kalau latihan kita memang sudah biasa, tapi kalau di pertandingan lebih kelihatan. Jadi, tahu di pertandingan apa yang harus kita benahi lagi, apa yang kurang dari kita,” ungkap Rehan.
Ia mengatakan, belum ada rencana khusus mengenai agenda berikutnya. Rehan/Melati masih akan melihat perkembangan ke depan setelah menjalani debut bersama.
Meski gagal melangkah ke final, hasil semifinal menjadi modal penting bagi pasangan tersebut untuk mengevaluasi permainan.
Mereka bertekad menutup kekurangan yang terlihat selama pertandingan sekaligus meningkatkan kelebihan yang sudah dimiliki.
“Kalau bisa, kekurangan itu ditutup dan kelebihan kita ditambah lagi,” pungkas Rehan.
Perjalanan Rehan/Melati di Pontianak pun berakhir di empat besar. Namun, bagi pasangan baru tersebut, semifinal Indonesia Masters Super 100 menjadi pengalaman penting untuk membangun chemistry, memperbaiki komunikasi dan mematangkan pola permainan menghadapi persaingan di level internasional.