PONTIANAK,SP – Dunia usaha di Kalimantan Barat berduka. Tokoh bisnis ternama sekaligus pemilik Hotel Golden Tulip Pontianak, Siman Bahar, dikabarkan mengembuskan napas terakhir di Tiongkok pada Minggu sore waktu setempat.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Suara Pemred dari pihak kerabat dan keluarga di Pontianak, almarhum meninggal dunia setelah sempat menjalani perawatan intensif selama beberapa hari di sebuah rumah sakit di Tiongkok. Kondisi kesehatan almarhum dikabarkan sempat kritis sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia.
"Benar, kami menerima informasi beliau telah tiada kemarin sore. Sebelumnya memang sempat dirawat beberapa hari dalam kondisi kritis di rumah sakit di sana (Tiongkok)," ungkap salah satu sumber dari pihak keluarga yang enggan disebutkan namanya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak keluarga di Pontianak maupun di Jakarta sedang melakukan koordinasi intensif terkait kepulangan jenazah. Belum ada keputusan final mengenai lokasi tempat peristirahatan terakhir almarhum.
Pihak keluarga masih mempertimbangkan apakah jenazah akan dipulangkan ke Jakarta, dibawa kembali ke Pontianak, atau menjalani prosesi pemakaman di Tiongkok.
"Saat ini keluarga sedang mempersiapkan segala sesuatunya. Mengenai apakah akan dibawa ke Jakarta, Pontianak, atau tetap di Tiongkok, masih dalam tahap perundingan internal keluarga," tambah sumber tersebut.
Siman Bahar dikenal sebagai salah satu pengusaha besar yang memiliki kontribusi signifikan dalam sektor perhotelan dan investasi di Kalimantan Barat. Kehadiran Hotel Golden Tulip di Pontianak menjadi salah satu bukti dedikasinya dalam memajukan ekonomi dan pariwisata di Kota Khatulistiwa.
Kepergian sosok yang akrab disapa Siman ini meninggalkan duka mendalam bagi rekan sejawat, karyawan, serta relasi bisnisnya. Ucapan duka cita pun mulai mengalir dari berbagai kalangan di media sosial dan karangan bunga yang mulai tampak disiapkan oleh para kolega.
Nama Siman Bahar alias Bong Kin Phin sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Kalimantan Barat, khususnya di dunia usaha. Dikenal dengan julukan "Manusia Banyak Harta"—merujuk pada akronim namanya—ia merupakan salah satu figur Crazy Rich asal Pontianak yang memiliki rekam jejak panjang di berbagai sektor industri, mulai dari properti hingga pertambangan logam mulia.
Di Kalimantan Barat, pengaruh bisnis Siman Bahar terlihat jelas melalui sejumlah aset properti ikonik. Salah satu unit usaha terkenalnya adalah Hotel Golden Tulip Pontianak, sebuah hotel bintang empat yang menjadi salah satu tengara modernitas di ibu kota provinsi tersebut.
Selain perhotelan, Siman juga sempat menginisiasi proyek ambisius bernama Mall of Borneo. Proyek pusat perbelanjaan yang direncanakan seluas 6 hektare ini sempat digadang-gadang akan menjadi mal terintegrasi terbesar di Kalimantan. Meski sempat dilakukan peletakan batu pertama pada tahun 2014, pembangunan proyek ini sempat mengalami kendala dan menjadi sorotan publik terkait keberlanjutannya.
Nama Siman Bahar semakin mencuat di level nasional melalui kiprahnya di industri pemurnian emas. Ia menjabat sebagai Direktur Utama PT Loco Montrado, perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan anoda logam. Melalui perusahaan ini, Siman menjalin kerja sama strategis dengan perusahaan plat merah, PT Aneka Tambang (Antam) Tbk.
Terlepas dari berbagai kontroversi hukum yang menjeratnya, Siman Bahar dikenal sebagai sosok pengusaha yang merangkak dari bawah. Meski hanya menamatkan pendidikan tingkat SMP, ia berhasil membangun imperium bisnis yang cukup disegani di Kalimantan Barat.
Kegigihannya dalam berbisnis menjadikannya salah satu tokoh pengusaha paling berpengaruh di wilayah tersebut selama lebih dari satu dekade terakhir.
Hingga saat ini, perkembangan kasus hukum yang melibatkan namanya masih terus menjadi perhatian media, sembari aset-aset bisnisnya tetap beroperasi dan memberikan kontribusi pada dinamika ekonomi di Kalimantan Barat. (bob)