Dari lapangan basket hingga membesarkan Pontianak City Run sejak 2018, Ongky Lesmana menjalani perjalanan panjang di dunia olahraga Kalimantan Barat.
Kini, pengalaman tersebut menjadi modalnya untuk maju memimpin PASI Kalbar dan membawa atletik daerah berbicara lebih jauh di tingkat nasional hingga internasional.
PONTIANAK, SP - Ada masa ketika olahraga lari belum seramai sekarang di Kalimantan Barat. Jalan-jalan kota belum dipenuhi ribuan pelari dalam sebuah perlombaan, komunitas lari belum sebanyak sekarang, dan event lari belum menjadi salah satu kegiatan olahraga yang mampu menarik perhatian masyarakat dalam jumlah besar.
Dari situlah perjalanan Ongky Lesmana ikut mengambil peran. Sejak 2019, Ongky terlibat dalam mengembangkan Pontianak City Run, sebuah event yang secara perlahan ikut membawa olahraga lari lebih dekat dengan masyarakat Kalimantan Barat.
Dari tahun ke tahun, kegiatan tersebut berkembang, peserta datang dari berbagai daerah, komunitas lari semakin tumbuh, dan Pontianak City Run kemudian menjadi salah satu event lari berskala internasional yang mampu menarik ribuan peserta.
Bagi Ongky, ramainya peserta bukan semata-mata soal angka.
Di antara ribuan orang yang berlari itu terdapat anak-anak muda yang mulai mengenal olahraga, komunitas yang semakin aktif, pelari yang kemudian serius menekuni olahraga, sekaligus potensi atlet yang sebenarnya dapat dikembangkan lebih jauh.
Pengalaman panjang tersebut kini ingin dibawanya ke ruang yang lebih besar.
Ongky Lesmana menyatakan keseriusannya maju sebagai bakal calon Ketua Pengurus Provinsi Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) Kalimantan Barat.
Ia datang bukan sebagai nama yang tiba-tiba muncul ketika pemilihan ketua organisasi dimulai. Jauh sebelum itu, Ongky telah menjalani perjalanan cukup panjang di dunia olahraga, mulai dari pembinaan basket, membangun usaha perlengkapan olahraga, mengembangkan kegiatan olahraga melalui Sporta Indonesia, hingga ikut mempopulerkan olahraga lari melalui Pontianak City Run.
Kini, seluruh pengalaman tersebut ingin ia bawa untuk membangun atletik Kalimantan Barat.
“Dengan serius saya menyatakan bahwa kita akan maju menjadi calon Ketua Persatuan Atletik Seluruh Indonesia Kalimantan Barat,” kata Ongky saat menyerahkan surat dukungan kepada Tim Penjaringan dan Penyaringan (TPP) calon Ketua PASI Kalbar, Kamis (10/9/2026).
Tidak datang dengan tangan kosong, Ongky telah mengantongi tujuh surat dukungan dari Pengurus Kabupaten/Kota (Pengkab/Pengkot) PASI yang memiliki hak suara.
Jumlah tersebut telah melewati persyaratan minimal lima surat dukungan yang ditetapkan dalam proses penjaringan.
Dari 14 kabupaten/kota di Kalimantan Barat, menurut Ongky, saat ini terdapat 11 Pengkab/Pengkot yang memiliki hak suara. Sementara tiga lainnya disebut tidak dapat mengusung calon maupun menggunakan hak suara karena masa kepengurusannya telah berakhir.
Tujuh dukungan tersebut menjadi modal awal yang cukup kuat bagi Ongky untuk memasuki pertarungan perebutan kursi Ketua PASI Kalbar. Meski demikian, ia masih harus menunggu seluruh tahapan penjaringan dan verifikasi selesai karena peta persaingan belum sepenuhnya final.
Ketua TPP Penjaringan dan Penyaringan Ketua PASI Kalbar, Mimin Tami MPD, mengatakan hingga saat ini baru dua orang yang telah mengambil formulir pendaftaran.
“Yang sudah mengambil formulir baru dua orang. Nanti pengembaliannya apakah masih dua orang, satu atau lebih, kita tidak tahu. Kita tunggu sampai tanggal 13 pukul 14.00 WIB, itu waktu terakhir,” kata Mimin.
Setelah masa pengembalian formulir berakhir, TPP akan melakukan verifikasi administrasi pada 14 dan 15 September 2026, kemudian hasilnya diumumkan pada 16 September 2026.
Artinya, siapa saja yang benar-benar akan bertarung dalam pemilihan Ketua PASI Kalbar masih harus menunggu seluruh proses tersebut selesai.
Namun, Ongky sudah menyatakan sikap.
Ia siap maju dan membawa pengalaman yang telah dibangunnya selama bertahun-tahun di dunia olahraga.
Berawal dari Lapangan Basket
Ongky Lesmana lahir di Singkawang, 5 Mei 1989. Ketertarikannya terhadap olahraga tumbuh sejak usia muda dan kemudian berkembang menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Sebagai alumni SMA Santo Paulus Pontianak, Ongky pernah terlibat dalam pembinaan basket di sekolah tersebut. Ia bahkan dipercaya menjadi pelatih dan berhadapan langsung dengan anak-anak muda yang memiliki karakter serta kemampuan berbeda-beda.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu fase penting dalam perjalanan Ongky. Menjadi pelatih membuatnya memahami bahwa membangun prestasi olahraga tidak cukup hanya mengajarkan teknik permainan. Seorang pembina harus mampu membaca karakter atlet, menanamkan disiplin, membangun rasa percaya diri, menjaga kekompakan, sekaligus memahami bahwa setiap anak memiliki proses perkembangan yang berbeda.
Di dalam sebuah tim, ada pemain yang cepat berkembang, ada yang membutuhkan waktu lebih panjang, ada yang disiplin dan rajin berlatih, tetapi ada pula yang harus terus didorong agar mampu mencapai kemampuan terbaiknya.
Ongky belajar menghadapi semua itu. Ia juga belajar bahwa olahraga pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah, tetapi bagaimana proses latihan membentuk karakter dan mental seorang anak muda.
Kerja kerasnya ketika terlibat dalam pembinaan basket SMA Santo Paulus kemudian menghasilkan sejumlah prestasi, antara lain juara I kategori putri 3on3 di Singkawang 2011, juara III Petrus Cup 2011, juara III SBL kategori putra dan putri 2011, juara II DBL kategori putri 2012, juara III LBP kategori putri 2012 serta juara II LBP kategori putra 2012.
Pengalaman sebagai pelatih tersebut kemudian menjadi bekal ketika Ongky mulai melihat olahraga dari perspektif yang lebih luas.
Tidak Berhenti di Lapangan
Ongky kemudian tidak hanya berkutat di lapangan pertandingan. Ia masuk ke dunia usaha olahraga dengan membangun Lilo Sport di Jalan A.R. Hakim Nomor 92 Pontianak, yang menyediakan berbagai kebutuhan olahraga masyarakat, mulai dari perlengkapan latihan, sepatu, pakaian olahraga hingga kebutuhan pendukung lainnya.
Di saat bersamaan, aktivitasnya berkembang melalui Sporta Indonesia.
Di sinilah cara pandang Ongky terhadap olahraga semakin luas.
Ia melihat olahraga sebagai sebuah ekosistem yang tidak berdiri sendiri. Ada atlet, pelatih, sekolah, komunitas, penyelenggara event, pelaku usaha, sponsor, pemerintah dan masyarakat yang semuanya memiliki peran dalam membangun olahraga.
Menurutnya, prestasi tidak mungkin lahir hanya karena seorang atlet memiliki bakat.
Bakat harus ditemukan, kemudian dibina. Atlet harus mendapatkan pelatih yang tepat, fasilitas latihan, kompetisi yang berkelanjutan, dukungan pembiayaan serta lingkungan yang mampu membuat mereka terus berkembang.
Pemikiran tersebut kemudian semakin terlihat ketika Ongky terlibat dalam pengembangan olahraga lari.
Pontianak City Run dan Ribuan Orang yang Mulai Berlari
Sejak 2018, Ongky ikut mendorong Pontianak City Run sebagai salah satu event yang mempopulerkan olahraga lari di Kalimantan Barat.
Ketika itu, lari mulai berkembang sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat perkotaan. Namun, Ongky melihat potensi yang lebih besar daripada sekadar menjadikan lari sebagai aktivitas olahraga individu.
Menurutnya, lari bisa menjadi event besar. Lari bisa menjadi ruang pertemuan masyarakat. Lari bisa membangun komunitas. Lari bisa menjadi sarana promosi daerah.
Bahkan, lari bisa menggerakkan sektor ekonomi melalui kehadiran peserta dan pengunjung dari luar daerah. Gagasan tersebut kemudian dikembangkan melalui Pontianak City Run.
Perlahan tetapi pasti, event itu tumbuh dan semakin dikenal. Peserta tidak lagi hanya datang dari Pontianak dan sekitarnya, tetapi juga dari berbagai daerah, bahkan berkembang menjadi salah satu event lari berskala internasional dengan jumlah peserta mencapai ribuan orang.
Perkembangan Pontianak City Run menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan Ongky membangun olahraga di Kalimantan Barat.
Ia tidak sekadar menggelar perlombaan. Ia ikut membangun kebiasaan.
Masyarakat yang sebelumnya mungkin tidak pernah mengikuti lomba lari mulai mencoba.
Komunitas-komunitas baru bermunculan. Anak-anak muda memiliki ruang untuk berolahraga. Para pelari memiliki target baru untuk meningkatkan kemampuan mereka.
Dari situ muncul sebuah ekosistem yang semakin besar. Bagi Ongky, ribuan peserta yang mengikuti Pontianak City Run tidak hanya berarti sebuah event berhasil diselenggarakan.
Di antara ribuan peserta itu selalu ada kemungkinan lahirnya bibit atlet.
Ada pelari yang awalnya hanya ingin menjaga kesehatan, tetapi kemudian memiliki kemampuan untuk berkompetisi.
Ada anak muda yang semula berlari sekadar mengikuti teman, tetapi kemudian menemukan bakatnya. Di situlah olahraga masyarakat bertemu dengan olahraga prestasi.
Dari Membuat Orang Berlari ke Mencetak Atlet
Pengalaman tersebut pula yang kemudian membuat Ongky melihat tantangan yang lebih besar di tubuh PASI. Jika selama ini ia ikut mendorong masyarakat agar gemar berlari, maka pertanyaan berikutnya adalah bagaimana energi tersebut dapat diarahkan menjadi prestasi.
Sebab Kalimantan Barat memiliki banyak potensi atletik. Persoalannya bukan semata-mata mencari atlet berbakat, tetapi bagaimana memastikan mereka mendapatkan pembinaan yang benar dan berkesinambungan.
“Kita tahu atletik Kalbar punya banyak potensi, punya banyak atlet yang bisa kita raih dan kita capai prestasi untuk tingkat nasional maupun internasional,” ujarnya.
Menurut Ongky, event dan pembinaan tidak seharusnya berjalan sendiri-sendiri. Event dapat menjadi tempat untuk menemukan bakat. Komunitas dapat menjadi pintu masuk pembinaan. Sekolah dapat menjadi sumber pencarian bibit.
Sementara PASI harus memiliki sistem untuk mengarahkan atlet-atlet tersebut menjadi atlet prestasi.
“Ketika kita sudah berada di PASI, kita akan memaksimalkan prestasi atletik di Kalimantan Barat ke tingkat nasional maupun internasional,” tegasnya.
Kalimat tersebut menjadi gambaran dari target yang ingin dibawanya jika dipercaya memimpin PASI Kalbar.
Pengalaman Panjang Menjadi Modal
Ongky menyadari bahwa memimpin organisasi olahraga bukan pekerjaan sederhana. Ada persoalan pembinaan atlet, pelatih, fasilitas, kompetisi, pendanaan, regenerasi hingga hubungan antara Pengkab/Pengkot dengan Pengprov.
Namun, ia merasa memiliki pengalaman yang cukup beragam untuk menghadapi persoalan tersebut. Sebagai mantan pelatih basket, ia memahami bagaimana proses pembinaan dilakukan.
Sebagai pelaku usaha olahraga, ia memahami kebutuhan komunitas dan masyarakat. Sebagai penggerak event, ia memahami bagaimana membuat olahraga menjadi menarik dan mampu mengumpulkan masyarakat dalam jumlah besar.
Melalui Sporta Indonesia, ia juga memiliki pengalaman dalam membangun jaringan dan menjalankan berbagai aktivitas olahraga. Semua pengalaman itu ingin diterjemahkannya ke dalam pembinaan atletik Kalbar.
Baginya, organisasi olahraga harus lebih terbuka terhadap kolaborasi.
Sekolah harus dilibatkan dalam pencarian bibit. Komunitas harus diberikan ruang. Event olahraga harus diperbanyak dan dikembangkan. Atlet harus memiliki lebih banyak kesempatan bertanding.
Dan yang tidak kalah penting, pembinaan harus berjalan secara berkelanjutan, bukan hanya menjelang Pekan Olahraga Nasional atau kejuaraan tertentu.
Tujuh Dukungan Bukan Akhir Perjalanan
Tujuh surat dukungan yang sudah berada di tangan Ongky memang menjadi modal penting, tetapi perjalanan menuju kursi Ketua PASI Kalbar belum selesai.
Masih ada proses administrasi yang harus dilalui. Masih ada bakal calon lain yang mungkin muncul. Dan masih ada tahapan pemilihan yang harus dijalani.
Mimin Tami MPD memastikan syarat minimal dukungan calon adalah lima surat dukungan dari Pengkab/Pengkot PASI.
“Persyaratan minimal yang sekarang sudah memenuhi. Yang pertama adalah memberikan surat dukungan dari pengurus kabupaten/kota. Kita cantumkan minimal lima surat dukungan dan ini sudah ada tujuh,” ungkapnya.
Dengan demikian, secara persyaratan dukungan, Ongky telah memenuhi ketentuan yang ditetapkan TPP.
Namun, ia tentu tidak bisa hanya mengandalkan angka tujuh. Jika kelak terpilih, tantangan yang sebenarnya justru dimulai setelah pemilihan selesai.
Sebab memimpin PASI bukan sekadar mendapatkan dukungan suara.
Memimpin PASI berarti harus mampu menjawab kebutuhan atlet.
Mimpi Besar di Balik Pencalonan
Ada satu benang merah yang dapat dilihat dari perjalanan Ongky. Ia selalu mencoba membawa olahraga keluar dari ruang yang terbatas.
Ketika menjadi pelatih basket, ia membangun olahraga dari sekolah. Ketika membuka Lilo Sport, ia masuk ke sisi industri dan kebutuhan masyarakat.
Ketika aktif melalui Sporta Indonesia, ia memperluas jejaring olahraga. Ketika ikut membesarkan Pontianak City Run, ia membawa olahraga lari menjadi sebuah gerakan yang melibatkan ribuan orang.
Kini, melalui PASI, ia ingin membawa pengalaman tersebut menuju olahraga prestasi. Tantangannya tentu tidak ringan. Membuat ribuan orang datang berlari dalam sebuah event berbeda dengan mencetak atlet nasional. Event membutuhkan manajemen, promosi dan kreativitas.
Sementara prestasi membutuhkan proses pembinaan panjang, pelatih berkualitas, fasilitas, kompetisi, pendanaan dan kesabaran. Namun, pengalaman mengembangkan event olahraga setidaknya memberikan Ongky satu modal penting: ia tahu bagaimana membuat masyarakat tertarik kepada olahraga.
Tantangan berikutnya adalah bagaimana ketertarikan itu dikonversi menjadi prestasi. Pontianak City Run telah menunjukkan bahwa masyarakat Kalimantan Barat memiliki antusiasme besar terhadap olahraga lari.
PASI memiliki pekerjaan berikutnya: memastikan dari antusiasme tersebut muncul atlet-atlet yang mampu bersaing di tingkat nasional dan internasional.
Bukan Sekadar Mengejar Kursi Ketua
Karena itu, pencalonan Ongky Lesmana menarik untuk dilihat bukan hanya dari sisi persaingan merebut kursi Ketua PASI Kalbar. Lebih jauh, pencalonan ini memperlihatkan upaya seorang pelaku olahraga yang selama bertahun-tahun bergerak dari berbagai sisi untuk masuk ke ruang pembinaan atletik secara lebih langsung.
Ia membawa pengalaman panjang. Ia membawa jaringan. Ia membawa pengalaman mengelola event. Dan ia membawa cerita tentang bagaimana olahraga lari di Kalimantan Barat perlahan berkembang dari aktivitas komunitas menjadi event yang mampu mengumpulkan ribuan peserta.
Kini, ia ingin mengambil tanggung jawab lebih besar.
Dari ribuan pelari yang pernah berkumpul dalam Pontianak City Run, Ongky ingin melihat lahirnya lebih banyak atlet. Dari event yang ramai, ia ingin lahir pembinaan yang kuat.
Dari komunitas yang tumbuh, ia ingin muncul prestasi. Dan dari potensi atlet Kalimantan Barat, ia ingin melihat nama daerah ini semakin sering berdiri di podium kejuaraan nasional maupun internasional.
Pada akhirnya, kursi Ketua PASI Kalbar hanyalah pintu masuk. Ukuran keberhasilannya nanti bukan seberapa banyak surat dukungan yang berhasil dikumpulkan, bukan pula seberapa ramai sebuah event diselenggarakan.
Ukuran keberhasilan seorang pemimpin olahraga adalah ketika anak-anak muda memiliki tempat untuk berkembang, atlet mendapatkan pembinaan yang layak, kompetisi berjalan secara berkelanjutan, dan prestasi benar-benar lahir dari proses yang dibangun bersama.
Ongky Lesmana kini siap mengambil tantangan itu. Perjalanannya dimulai dari lapangan basket, berlanjut ke dunia usaha olahraga, kemudian mengembangkan event lari dan menggerakkan ribuan masyarakat untuk berolahraga.
Kini ia berdiri di depan tantangan baru, memimpin PASI Kalbar dan mengubah potensi besar atletik daerah menjadi prestasi yang nyata.
Tujuh surat dukungan telah menjadi langkah awal.
Selebihnya, waktu dan proses pemilihan yang akan menentukan.
Tetapi satu hal sudah jelas, Ongky tidak datang ke PASI dengan cerita yang kosong.
Ia datang membawa pengalaman panjang dari dunia olahraga yang telah dijalaninya sendiri. Dan kini, ia ingin pengalaman itu menjadi bagian dari babak baru atletik Kalimantan Barat. (*)