Ponticity post author Kiwi 11 September 2026

PGSD UPGRI Pontianak Jadi Penggerak Transformasi Pembelajaran Matematika Sekolah Dasar

Photo of PGSD UPGRI Pontianak Jadi Penggerak Transformasi Pembelajaran Matematika Sekolah Dasar PGSD Universitas PGRI Pontianak menggelar Seminar Nasional tentang transformasi pembelajaran matematika, diikuti 396 peserta dari 19 provinsi di Indonesia.

PONTIANAK, SP - Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Ilmu Pendidikan dan Pengetahuan Sosial (FIPPS) Universitas PGRI Pontianak menunjukkan komitmennya mendorong inovasi pendidikan dasar melalui forum akademik berskala nasional.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui Seminar Nasional bertajuk “Transformasi Pembelajaran Matematika Sekolah Dasar: Inovasi, Literasi Numerasi, dan Penguatan Perspektif Multikultural” yang digelar secara daring, Kamis (10/9/2026).

Seminar ini diikuti lebih dari 396 peserta dari 19 provinsi dan 63 institusi pendidikan di Indonesia. Peserta berasal dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa calon guru, guru, dosen hingga praktisi pendidikan.

Kegiatan dibuka langsung Wakil Rektor Universitas PGRI Pontianak, Suherdiyanto. Ia mengapresiasi inisiatif Prodi PGSD yang menghadirkan ruang akademik untuk membahas perkembangan dan tantangan pembelajaran matematika di sekolah dasar.

“Ini adalah bukti bahwa dari Pontianak, inovasi pendidikan dapat menyentuh seluruh nusantara,” ungkap Suherdiyanto dalam sambutannya.

Seminar menghadirkan tiga narasumber dari perguruan tinggi berbeda dengan perspektif yang saling melengkapi. Ketiganya membahas bagaimana pembelajaran matematika di sekolah dasar perlu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, penguatan kemampuan numerasi, serta keberagaman peserta didik.

Hodiyanto dari Universitas PGRI Pontianak membawakan materi “Transformasi dan Inovasi Pembelajaran Matematika Sekolah Dasar di Era Digital”. Ia menyoroti pemanfaatan teknologi digital dalam pembelajaran yang tidak sekadar ditempatkan sebagai alat bantu, tetapi menjadi bagian dari pengalaman belajar yang lebih interaktif dan bermakna.

Sementara Iwan Usma Wardani dari Universitas Hamzanwadi mengangkat konsep “Literasi Numerasi Bermakna” melalui materi “Reorientasi Pembelajaran Matematika Sekolah Dasar untuk Penguatan Literasi Numerasi”.

Menurut Wardani, pembelajaran matematika perlu diarahkan agar peserta didik tidak hanya mampu mendapatkan jawaban, tetapi juga memahami alasan, proses dan penerapan konsep matematika dalam kehidupan sehari-hari.

“Anak tidak hanya bisa menghitung, tetapi memahami mengapa dan bagaimana matematika digunakan,” jelas Wardani.

Perspektif lain disampaikan Bambang Parmadi dari Universitas Bengkulu melalui materi “Pengembangan Pembelajaran Matematika Sekolah Dasar Berbasis Perspektif Multikultural”. Ia menekankan pentingnya melihat keberagaman latar belakang peserta didik sebagai kekuatan dalam menciptakan pembelajaran yang inklusif dan relevan.

Kolaborasi antara PGSD Universitas PGRI Pontianak, Universitas Hamzanwadi dan Universitas Bengkulu menjadi salah satu kekuatan dalam pelaksanaan seminar tersebut. Forum ini diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan satu kali, tetapi menjadi awal dari penguatan jejaring akademik dan forum bersama yang berkelanjutan.

“Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka meningkatkan suasana akademik serta memperkuat kolaborasi antarperguruan tinggi,” demikian dijelaskan dalam dokumen seminar.

Antusiasme peserta juga terlihat dari keterlibatan aktif selama sesi diskusi dan tanya jawab. Kehadiran peserta dari berbagai daerah menunjukkan tingginya kebutuhan terhadap forum yang membahas transformasi pembelajaran secara mendalam sekaligus dapat diterapkan dalam praktik pendidikan.

Seminar tersebut membawa tiga pesan utama dalam transformasi pembelajaran matematika sekolah dasar. Pertama, inovasi digital perlu dimanfaatkan untuk memperkaya pengalaman belajar dan membuat pembelajaran lebih adaptif serta interaktif tanpa menggantikan peran guru.

Kedua, literasi numerasi harus dibangun secara bermakna dengan menghubungkan konsep matematika dengan pengalaman konkret dan persoalan kehidupan nyata. Peserta didik tidak hanya dituntut mengikuti prosedur, tetapi memahami konsep dan penggunaannya.

Ketiga, perspektif multikultural perlu menjadi bagian dari pembelajaran. Keberagaman budaya dan konteks sosial peserta didik dapat menjadi kekuatan untuk menciptakan proses belajar yang lebih inklusif.

Dari forum tersebut, para peserta diharapkan tidak hanya memperoleh tambahan pengetahuan, tetapi juga membawa gagasan baru untuk diterapkan di sekolah, perguruan tinggi maupun lembaga pendidikan masing-masing.

Dukungan Wakil Rektor Universitas PGRI Pontianak Suherdiyanto dan Dekan Fakultas IPPS Eka Jaya Putra Utama turut memperkuat komitmen institusi terhadap pengembangan pendidikan dan riset. Kesuksesan kegiatan juga tidak lepas dari dukungan panitia dosen Prodi PGSD.

Melalui seminar nasional tersebut, PGSD Universitas PGRI Pontianak menegaskan perannya tidak hanya sebagai lembaga yang mencetak calon guru sekolah dasar, tetapi juga sebagai bagian dari jejaring akademik yang aktif mendorong inovasi dan transformasi pendidikan di tingkat nasional.(din)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda