Ponticity post authorelgiants 13 April 2026

Penambang Speed Dibentuk Jadi Pokdarwis, Tata Wisata Sungai Kapuas

Photo of Penambang Speed Dibentuk Jadi Pokdarwis, Tata Wisata Sungai Kapuas SADAR WISATA - Disporapar Kalbar membentuk kelompok sadar wisata penambang speed di Sungai Kapuas untuk meningkatkan kualitas pariwisata dan layanan wisatawan di Pontianak.

PONTIANAK, SP - Di balik lalu lintas perahu tradisional yang hilir mudik di Sungai Kapuas, tersimpan potensi wisata yang belum tergarap maksimal di Kota Pontianak. 

Melihat peluang tersebut, Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) mulai menginisiasi pembentukan kelompok sadar wisata (pokdarwis) bagi para penambang speed.

Hal ini sebagai langkah strategis menata wisata susur sungai agar lebih profesional, aman, dan bernilai ekonomi bagi masyarakat lokal.

Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Wisata Disporapar Kalbar, Rita Hastarita, menegaskan bahwa Sungai Kapuas merupakan salah satu destinasi unggulan Kota Pontianak yang memiliki daya tarik besar bagi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.

Menurutnya, para penambang speed di Pangkalan Seduit selama ini tidak hanya berperan sebagai motoris, tetapi juga kerap membawa wisatawan menyusuri Sungai Kapuas. Peran tersebut dinilai penting dan perlu ditata agar lebih terorganisir dan profesional.

“Kawan-kawan penambang speed ini selain sebagai motoris juga membawa wisatawan. Karena itu perlu upaya untuk mengorganisir mereka dalam satu kelompok sadar wisata,” ujar Rita pada Senin (13/4/2026).

Upaya tersebut kini mulai direalisasikan. Para penambang speed telah sepakat untuk dibentuk menjadi Pokdarwis yang nantinya akan dibina langsung oleh Disporapar Kalbar.

Melalui pembentukan Pokdarwis, pemerintah akan memberikan pendampingan dan pembinaan, mulai dari peningkatan sumber daya manusia, edukasi kepariwisataan, hingga aspek keamanan dan keselamatan dalam pelayanan wisata.

Tak hanya itu menurut Rita, Disporapar Kalbar juga berkomitmen membantu mencarikan mitra pendamping dan donatur untuk mendukung peningkatan sarana prasarana, termasuk mempercantik armada speed agar lebih menarik bagi wisatawan.

“Kami akan bantu mereka dari sisi pembinaan, pelatihan, hingga bagaimana melayani wisatawan dengan baik. Ini menjadi kewajiban kami di Disporapar,” jelas Rita.

Langkah awal yang akan dilakukan adalah pembentukan struktur pengurus Pokdarwis, dilanjutkan dengan pelatihan peningkatan kompetensi, serta pembenahan sarana prasarana. Selain itu, para penambang juga akan dibimbing untuk menyusun paket wisata lengkap dengan penentuan tarif yang sesuai.

“Nanti mereka akan kami ajari membuat paket-paket wisata, termasuk menentukan tarifnya. Itu fungsi dari kelompok sadar wisata ini,” tambah Rita.

Di sisi lain, harapan besar juga datang dari para penambang. Sandi Fikriansyah, salah satu penambang speed, mengaku telah menekuni profesi tersebut sejak kecil, mengikuti jejak orang tuanya sejak sebelum ia bersekolah.

“Saya sudah menambang sejak kecil, dari tahun 2009 sampai sekarang,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, penghasilan sebagai penambang masih bergantung pada jumlah penumpang. Dalam sehari, ia bisa memperoleh sekitar Rp100 ribu jika penumpang ramai, namun bisa turun menjadi Rp80 ribu saat sepi itu pun belum dipotong biaya operasional seperti bahan bakar, makan, dan kebutuhan lainnya.

Dengan adanya program pengembangan pariwisata ini, Sandi mengaku optimistis. Ia melihat peluang peningkatan pendapatan sekaligus peran baru bagi penambang sebagai bagian dari pelaku wisata.

“Dengan adanya kolaborasi ini, kami sangat bersyukur. Ini bisa mendukung pariwisata dan berdampak langsung ke penambang,” katanya.

Ia juga menyoroti besarnya potensi wisata Sungai Kapuas yang dapat dikembangkan. Wisatawan dapat diajak menyusuri sungai sambil mengunjungi sejumlah ikon Kota Pontianak, seperti Istana Kadriah, Jembatan Kapuas, Makam Sultan Syarif Abdurrahman, Tugu Khatulistiwa, hingga Alun-Alun Kapuas.

Sejauh ini, mayoritas penumpang masih didominasi warga lokal untuk aktivitas harian, yakni sekitar 75 persen. Sementara sisanya, sekitar 25 persen, merupakan wisatawan dari luar daerah hingga mancanegara yang datang untuk menikmati wisata susur Sungai Kapuas.

Dengan penataan yang lebih terarah, para penambang tidak lagi sekadar menjadi penggerak transportasi air, tetapi juga ujung tombak pengalaman wisata. Di titik itulah, Sungai Kapuas berpeluang naik kelas dari sekadar lintasan, menjadi destinasi. (din)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda