BENGKAYANG,SP - Pemerintah Kabupaten Bengkayang terus memperkuat ketahanan pangan berbasis kearifan lokal melalui pelaksanaan Gawai Dayak Maka Dio ke-V Tahun 2026 yang digelar di Desa Cipta Karya, Kecamatan Sungai Betung.
Kegiatan yang berlangsung di Lapangan eks Timbangan Dusun Ketiat A pada Senin sore tersebut dibuka langsung oleh Bupati Bengkayang Sebastianus Darwis dan dihadiri sejumlah pejabat daerah, unsur Forkopimda, tokoh adat, serta masyarakat setempat.
Bupati Bengkayang Sebastianus Darwis mengatakan, kegiatan Maka Dio merupakan wujud syukur masyarakat atas hasil panen sekaligus menjadi sarana memperkuat ketahanan pangan berbasis potensi lokal.
“Pemerintah daerah sangat mendukung kegiatan ini karena tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga mendorong kemandirian pangan masyarakat melalui sektor pertanian,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa penguatan sektor pangan saat ini menjadi perhatian penting, seiring dinamika global yang turut berdampak terhadap ketahanan energi dan pangan. Menurut dia, masyarakat perlu terus berinovasi dalam memanfaatkan lahan pertanian guna menjaga ketersediaan pangan di daerah.
Bupati juga mengapresiasi peran Pemerintah Desa Cipta Karya yang dinilai berhasil menggerakkan masyarakat dalam mengembangkan sektor pertanian secara mandiri dan berkelanjutan.
Ia menambahkan, Pemerintah Kabupaten Bengkayang bersama DPRD berencana mengusulkan dukungan anggaran untuk pelaksanaan Maka Dio pada tahun mendatang guna memperkuat program tersebut.
Sementara itu, Kepala Desa Cipta Karya Benyamin Kalvin menyampaikan komitmennya dalam mengembangkan sektor pertanian sebagai tulang punggung ekonomi masyarakat desa. Ia mengatakan berbagai upaya telah dilakukan, mulai dari optimalisasi lahan pertanian, penyediaan sarana air bersih, hingga pengembangan sistem pertanian berkelanjutan.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin mengajak masyarakat terus menjaga semangat gotong royong dan memanfaatkan potensi yang ada untuk meningkatkan kesejahteraan,” ujarnya.
Ketua panitia kegiatan Darmanto menambahkan, pelaksanaan Maka Dio ke-V tahun ini tetap digelar secara sederhana dengan menyesuaikan ketersediaan anggaran, namun tidak mengurangi makna sebagai ungkapan syukur atas hasil panen masyarakat.
Kegiatan tersebut diisi dengan berbagai rangkaian acara, antara lain penyerahan cenderamata, pertunjukan seni budaya seperti tarian hantaran padi, doa pemberkatan, serta makan bersama sebagai simbol kebersamaan.
Selain itu, kegiatan juga melibatkan partisipasi anak-anak melalui lomba mewarnai sebagai upaya menanamkan nilai budaya sejak dini.(nar)