Ponticity post authorKiwi 14 Mei 2026

Dari Warung Kopi, Mahasiswa Pontianak Lawan Kejahatan Digital

Photo of Dari Warung Kopi, Mahasiswa Pontianak Lawan Kejahatan Digital Kelompok mahasiswa dan mahasiswi di Kota Pontianak tampak berdiskusi asyik di Warkop.Ist

PONTIANAK, SP - Aroma kopi Liberika asli Kalimantan Barat (Kalbar), bercampur asap rokok tipis memenuhi sudut warung kecil di kawasan Pontianak Selatan sore itu.

Di antara gelas kopi yang mulai dingin, Agus Suryadi dan Rine Agustin justru semakin panas membicarakan sesuatu yang jauh dari obrolan santai mahasiswa.

Awalnya, obrolan itu terdengar seperti percakapan mahasiswa biasa. Tentang tugas kuliah, uang bulanan, dan aplikasi mobile banking yang makin sering dipakai.

Sampai lah pada diskusi tentang maraknya kejahatan perbankan digital yang mulai menyeret orang-orang di sekitar mereka.

Mereka membahas satu isu yang kini makin terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka: meningkatnya kejahatan perbankan digital di Pontianak.

Tidak ada seminar resmi atau panggung besar. Namun justru di ruang informal itulah keresahan yang sama muncul: semakin mudahnya transaksi digital, semakin besar pula celah bagi pelaku kejahatan siber untuk masuk melalui kelengahan pengguna.

Dari link palsu, pesan penipuan yang mengatasnamakan bank, hingga rekayasa sosial yang menyasar mahasiswa sebagai pengguna aktif layanan keuangan digital.

Diskusi itu berkembang menjadi refleksi bersama. Bagi mereka, kejahatan perbankan bukan lagi isu jauh yang hanya terjadi di kota besar atau diberitakan sesekali di media, melainkan sesuatu yang sudah hadir di sekitar mereka, di grup pesan, media sosial, bahkan di lingkungan pertemanan sendiri.

“Banyak teman-teman menganggap sepele kalau ada link dari bank atau pesan undian. Padahal justru dari situ biasanya awal penipuan. Kami sadar bahwa edukasi harus dimulai dari lingkungan terdekat, dari mahasiswa sendiri dulu,” ujar Agus.

Ia beberapa kali menggeleng saat menunjukkan tangkapan layar pesan undian palsu di ponselnya.

Mahasiswa semester lima Prodi Administrasi Bisnis itu mengaku pernah hampir menekan tautan serupa ketika sedang terburu-buru.

Agus melihat bahwa mahasiswa hari ini berada pada posisi yang sangat dekat dengan teknologi, namun belum semuanya memiliki kesadaran penuh terhadap risiko yang menyertainya.

“Terbaru, beberapa hari lalu, ada temen satu kost sye juga hampir termakan bujuk rayu penipuan, yaitu melalui pesan atau email palsu (phishing),” ujarnya dengan dialek Pontianak yang kental.

“Sudah semestinya, kita, di kalangan mahasiswa bisa dengan jelas memahami berbagai bentuk kejahatan digital perbankan ini. Sehingga kita bisa membagikan pengalaman dan pengetahuan ke masyarakat,” lanjut Agus.

Selain pesan atau email palsu (phishing), ada juga vishing (telepon menyamar sebagai petugas bank), skimming (pencurian data kartu di ATM), serta account takeover (pengambilalihan akun).

“Pelaku sering mengincar kode OTP atau PIN untuk menguras rekening korban,” timpal Rine, mahasiswa semester lima Prodi Sistem Informatika STIMK Pontianak.

Rine menyoroti sisi yang lebih teknis namun tetap berakar pada perilaku pengguna.

Menurutnya, pelaku kejahatan digital kini tidak hanya menyerang sistem, tetapi memanfaatkan psikologi korban agar secara sukarela menyerahkan data pribadi.

“Sering kali bukan sistemnya yang diretas, tapi penggunanya yang dibohongi. OTP, PIN, password itu sebenarnya tidak pernah dicuri secara teknis, tapi diberikan tanpa sadar oleh korban sendiri,” paparnya.

“Seperti yang dialami Dosen kami di STMIK. Beliau mendapatkan telpon dari seseorang yang menyatakan bahwa beliau menang undian dan harus mengirim sejumlah uang sebagai syarat pengambilan hadiah,” ujar Rine dengan mimik wajah yang tidak menyangka bahwa seorang dosen masih bisa hampir tertipu.

Pertemuan itu kemudian melahirkan satu tekad bersama: membentuk peran sebagai agen literasi atau “duta keamanan digital” di lingkungan kampus dan masyarakat sekitar.

Mereka ingin menjadi penghubung antara dunia teknologi yang kompleks dengan masyarakat yang rentan terhadap modus penipuan yang semakin canggih.

Bagi Agus, langkah itu adalah bentuk tanggung jawab sosial mahasiswa di era digital. Sementara Rine menyebutnya sebagai cara sederhana namun berdampak untuk mempersempit ruang gerak pelaku kejahatan siber.

“Kalau bukan kita yang mulai mengingatkan orang di sekitar kita, maka korban akan terus bertambah,” ujar Rine.

Tatkala sore mulai turun di warung kopi itu, ketika diskusi akhirnya bubar, tekad mereka semakin kuat.

Agus, Rine, dan teman-temannya, ingin percakapan hari itu bukan sekadar obrolan kampus.

Di tengah kehidupan yang semakin digital, mereka sadar satu hal: menjaga keamanan data kini sama pentingnya dengan menjaga dompet sendiri.

Bagi mereka, kolaborasi dengan BRI bukan sekadar kerja sama kampus dan bank.

Ada harapan bahwa semakin banyak mahasiswa memahami keamanan digital, semakin sempit pula ruang bagi pelaku kejahatan siber.

Dari obrolan itu, muncul satu kesadaran kolektif: ancaman kejahatan perbankan di Pontianak tidak akan bisa diselesaikan hanya dengan teknologi keamanan dari institusi perbankan.

Dibutuhkan peran aktif pengguna, terutama generasi muda yang paling akrab dengan layanan digital.

Keresahan yang dibicarakan mahasiswa itu ternyata juga menjadi perhatian sektor perbankan.

Dalam beberapa bulan terakhir, BRI Pontianak mulai aktif masuk ke lingkungan kampus untuk memperkuat literasi keamanan digital.

Melalui berbagai kanal resmi, kampanye literasi digital, hingga edukasi langsung di lingkungan kampus, bank tersebut terus mengingatkan pentingnya menjaga kerahasiaan data pribadi.

“Di saat yang sama, sistem keamanan berbasis kecerdasan buatan juga dikembangkan untuk mendeteksi transaksi mencurigakan secara real time,” kata Pimpinan Cabang BRI Pontianak, Ardika Prasetyo. (aep mulyanto)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda