Opini post authorKiwi 13 Mei 2026

Inklusivitas dalam Tutur Kata: Komunikasi Santun Lintas Generasi di Pontianak

Photo of Inklusivitas dalam Tutur Kata: Komunikasi Santun Lintas Generasi di Pontianak
Penulis: Rafsanjani, M.Pd / Dosen dan Akademisi Bahasa
 
 
Keberagaman di Kalimantan Barat yang multikultur tentunya menjadi keunikan bagi masyarakat lintas daerah yang ada, khususnya di kota Pontianak. Keterbukaan informasi menjadikan masyarakat berbagai lintas usia dapat membaur menjadi satu. Inklusivitas terasa diberbagai element masyarakat. Hal ini berdampak pada munculnya ruang dialog lintas usia yang massif. Intensitas dialog tersebut mempengaruhi kesantunan dan produktivitas dalam bertutur kata.
 
Penulis beranggapan diperlukan kesantunan berbahasa dalam mengahadapi kebaruan informasi serba digital saat ini. Hal ini dikarenakan keberagaman profesi, status, dan usia mempunyai peran penting dalam menciptakan ruang inklusif untuk semua stakeholder. Akan tetapi, kebebasan yang berlebihan juga dapat menjadi momok dalam bertutur kata, baik verbal maupun non verbal. 
 
Ruang kontrol sosial masih diperlukan agar kesantunan dan kebebasan berpikir dapat lebih representatif dan komunikatif. Selain itu, dibutuhkan cara pandang yang modern dan inklusif dalam menyikapi hal terebut. Karena fenomenanya, selama ini khususnya generasi muda cenderung masih takut akan stigma lama yang masih menormalisasikan kebiasaan “yang lahir dan hadir duluan itu segalanya”, konteks tersebutlah yang mengakibat generasi muda enggan berpartisipasi aktif dalam membangun kota Khatulistiwa ini. Karena pada dasarnya kebebasan dan menghargai lawan bicara merupakan hal mutlak dalam antar generasi ketika bertukar pikiran.  
 
Hal tersebut  sejalan dengan bunyi UUD 1945 Pasal 28E Ayat (3) yang menyatakan: "Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat. Penulis beranggapan, bahwa perubahan akan datang ketika komunikasi yang bersahabat tanpa sekat menjadi produk mulia dalam hal memanusiakan manusia, khusus semua lintas usia di kota Pontianak tercinta.
 
Apabila kita uraikan, rangkaian peristiwa terkait bagaimana Pontianak hari ini dapat dilihat peran generasi muda dan tua dalam berdialog diberbagai aspek. Adapun sumber kearifan lokal seperti warung kopi dan ruang terbuka hijau menjadi latar pendukung terciptanya ruang dan waktu bahkan dapat menjadi sumber perekat obrolah kedua lintas usia tersebut. Ingar-bingar persaudaraan terasa setiap sela obrolan. Kini, generasi muda Pontianak yang banyak di wakili oleh mahasiswa sudah tidak menjadi audien pasif, tetapi menjadi mesin baru terkait opini-opini lugasnya. Apalagi sesekali obrolan antara tua dan muda bercampur dialek Melayu Pontianak menghiasi di sela obrolan, seperti pada penggalan kutipan berikut “udah betol kate Pak We tu ….”, “Nah, setuju saye”, “saye lihat, kote Pontianak udah mulai banyak bebenah, dan dialek lainnya yang benar-benar menambah keakraban lintas generasi muda maupun tua di Kota Pontianak.  
 
Berbagai ulasan terkini terkait modernitas kota, teknologi, maupun ekonomi kreatif di kota khatulistiwa ini menjadi daya tarik perbincangan lainnya. Yang tua pun sudah mampu keluar dari zona idealismenya dengan menerima informasi lewat gaya kekinian generasi muda sekarang.
 
Semuanya berjalan santun dan menghargai orang yang lebih tua dengan tanpa harus menghilangkan wibawa. Sebaliknya, yang muda pun menaruh rasa hormat  terhadap mereka generasi tua dengan pengalaman dan cara berpikir mereka yang matang. Keberhasilan tersebut benar-benar menjadi simbiosis positif terkait inklusivitas dan kesantuan bertutur kata di kota tercinta ini. 
 
Penulis meyakini, pengalaman dilapangan yang telah berjalan hingga hari ini adalah puncak keberhasilan lintas generasi di kota Pontianak dalam bertutur kata. Karena dikemas dalam kesantunan dan percakapan yang inklusif.  Tanpa disadari terkadang ruang kesadaran muncul secara tidak disengaja, karena respon kita terbentuk bisa jadi muncul disituasi yang tidak terduga. Kemajuan berpikir yang disampaikan sudah memicu ruang bicara yang dinamis, Keberagaman masyarakat tersebut menjadikan tindak tutur menjadi aspek krusial dalam ruang sosial di kota Pontianak. Ruang bicara bagi generasi muda dan tua.
 
Menutup pembicaraan ini, dapat penulis pertegas kembali bahwa bertutur kata yang santun adalah bentuk investasi nyata dalam berkomunikasi. Generasi muda maupun tua sudah sepatutnya dapat menempatkan diri dalam proses menghargai lawan bicara. Karena tutur kata yang santun sebagai bukti apresiatif kita semua. Semoga intensitas bertutur kata dan berbahasa santun di ruang publik semakin bertumbuh positif, demi tercipta inklusivitas dalam peradaban baru dalam berkomunikasi di kota kita tercinta. Pontianak.(*)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda