Opini post authorKiwi 09 Mei 2026

Mahasiswa yang Berdaya Tahan

Photo of Mahasiswa yang Berdaya Tahan

Syamsul Kurniawan / Wakil Direktur Pascasarjana IAIN Pontianak

DI SEBUAH ruang kelas yang pengap, atau mungkin di pojok kafe yang riuh oleh mesin espreso, kita sering melihat mereka yang sedang berjuang.

Sepasang mata yang lelah namun terjaga, jemari yang menari di atas papan ketik, serta tumpukan buku yang tampak seperti benteng pertahanan.

Menjadi mahasiswa adalah sebuah fase sekaligus sebuah jeda antara masa kanak-kanak yang riang dan masa dewasa yang sering kali tak kenal ampun.

Namun di balik atribut jaket almamater dan kartu identitas yang menggantung, tersimpan sebuah narasi yang lebih sunyi mengenai daya tahan.

Kita sering merayakan kelulusan dengan pesta dan bunga, tapi kita jarang membicarakan tentang apa yang membuat seseorang tetap berdiri ketika teori terasa mencekik dan masa depan tampak seperti kabut tebal di atas puncak gunung.

Daya tahan dalam konteks ini bukanlah sekadar ketegaran otot atau kerasnya kepala. Ia adalah sebuah percakapan batin yang panjang. Mengapa mereka bertahan? Mengapa mereka tidak menutup laptop, mengemasi tas, dan pulang ke kenyamanan masa lalu?

Jawabannya sering kali tidak ditemukan dalam kurikulum, melainkan dalam apa yang disebut Simon Sinek (2009) sebagai lingkaran emas.

Banyak mahasiswa yang tahu apa yang mereka kerjakan seperti membaca jurnal, mengikuti seminar, atau mengerjakan skripsi. Beberapa tahu bagaimana melakukannya dengan strategi belajar yang canggih.

Namun hanya sedikit yang benar-benar memegang teguh mengapa mereka berada di sana. Tanpa sebuah alasan yang jernih, pendidikan hanya akan menjadi serangkaian beban yang menunggu untuk dilepaskan.

Sinek mengingatkan kita bahwa orang tidak membeli apa yang Anda lakukan melainkan mengapa Anda melakukannya. Demikian pula dengan ilmu. Mahasiswa yang hanya mengejar gelar akan mudah patah saat sistem birokrasi kampus menghambatnya.

Namun mereka yang memiliki alasan kuat bahwa ilmu ini adalah alat untuk mengubah nasib keluarga akan memiliki bahan bakar yang tak kunjung padam.

Daya tahan ini kemudian termanifestasi dalam tindakan kecil yang rutin, sebuah disiplin yang oleh James Clear (2018) disebut sebagai kebiasaan atomik. Kesuksesan seorang mahasiswa bukanlah hasil dari satu malam suntuk sebelum ujian melainkan akumulasi dari peningkatan satu persen setiap harinya. Ia adalah kemenangan kecil atas rasa malas untuk sekadar membaca satu halaman lagi sebelum tidur.

Clear memberikan perspektif yang membumi bahwa kita tidak naik ke level tujuan kita melainkan jatuh ke level sistem kita.

Seorang mahasiswa boleh bermimpi menjadi pemenang Nobel, namun jika sistem hariannya berantakan maka mimpi itu hanyalah fatamorgana. Daya tahan adalah kemampuan untuk menjaga sistem tetap berjalan meskipun suasana hati sedang tidak mendukung.

Di sini identitas menjadi kunci. Alih-alih berkata bahwa saya ingin lulus, seorang mahasiswa yang tangguh akan berkata bahwa saya adalah seorang pembelajar.

Pergeseran identitas ini mengubah beban menjadi kebutuhan. Jika Anda adalah seorang pembelajar, maka membaca buku sulit bukan lagi sebuah tugas melainkan sebuah konfirmasi atas siapa diri Anda sebenarnya.

Namun dunia universitas adalah rimba yang penuh kontradiksi. Di satu sisi ada tekanan untuk menjadi yang terbaik secara kompetitif. Di sisi lain ada kehampaan makna jika segalanya hanya diukur dengan angka di atas kertas transkrip. Di sinilah letak ujian sesungguhnya bagi daya tahan itu.

Apa yang Membedakan Satu dan yang Lain?

Pertanyaan ini membawa kita pada sebuah pemandangan yang jamak saat dua mahasiswa duduk di meja yang sama dan menghadapi tugas yang sama namun dengan ekspresi yang berbeda.

Yang satu tampak terbebani sedangkan yang lain tampak tekun meski lelah. Apa yang membedakan mereka bukan sekadar kecerdasan atau fasilitas orang tua melainkan kejernihan niat dan konsistensi sistem.

Perbedaan itu terletak pada kemampuan seseorang untuk mengomunikasikan alasan mendalam kepada dirinya sendiri saat malam mencapai titik paling sunyi. Saat kegagalan datang dalam bentuk nilai yang buruk atau penolakan magang, mereka yang memiliki tujuan kuat tidak melihatnya sebagai titik henti melainkan sebagai data untuk memperbaiki sistem.

Mereka yang tangguh memahami bahwa proses adalah jembatan antara keyakinan dan hasil nyata. Mereka tidak memanipulasi diri sendiri dengan janji palsu atau kesenangan instan. Mereka tidak mencari jalan pintas karena mereka tahu bahwa jalan pintas sering kali memotong bagian paling berharga dari perjalanan yaitu pembentukan karakter.

Perbedaan lainnya adalah kesadaran akan waktu. Mahasiswa yang rapuh sering kali terobsesi dengan transformasi besar yang instan. Mereka ingin pintar dalam semalam.

Sebaliknya mahasiswa yang memiliki daya tahan adalah penganut aturan satu persen. Mereka percaya pada keajaiban bunga majemuk dalam belajar. Kecerdasan bagi mereka adalah tabungan dari ribuan jam perhatian yang terfokus.

Ketelitian pada tujuan memberikan mereka kepercayaan diri. Di tengah bisingnya media sosial yang memamerkan pencapaian orang lain, mereka tetap fokus pada lintasan sendiri.

Mereka tahu bahwa membandingkan hasil orang lain dengan alasan diri sendiri adalah resep menuju depresi. Mereka memilih untuk setia pada proses yang lambat namun pasti.

Inspirasi dan bukan manipulasi adalah apa yang mereka cari dalam lingkungan sosial. Mereka mencari lingkaran pertemanan yang saling menguatkan tujuan dasar dan bukan sekadar teman nongkrong yang menghabiskan waktu tanpa arah. Dalam perspektif Sinek, mereka membangun loyalitas terhadap visi masa depan mereka sendiri.

Konsistensi adalah hasil akhir yang diharapkan. Ketika hasil dan metode belajar selaras dengan tujuan hidup, maka terbentuklah sebuah integritas intelektual. Inilah yang membedakan mereka yang hanya lewat di kampus dengan mereka yang benar-benar hadir dan meninggalkan jejak.

Kembali ke James Clear (2018), perbedaan itu juga terlihat dari cara mereka memandang kegagalan sistem. Mahasiswa yang tangguh tidak menyalahkan diri sendiri secara destruktif saat gagal menjaga kebiasaan.

Mereka hanya segera kembali ke jalur. Mereka tahu bahwa melewatkan satu hari adalah kecelakaan tetapi melewatkan dua hari adalah awal dari kebiasaan baru yang buruk.

Daya tahan mahasiswa pada akhirnya adalah sebuah simfoni antara idealisme yang melangit dan praktikalitas yang membumi. Ia adalah pertemuan antara filosofi Sinek yang mencari inti jiwa dan metodologi Clear yang mengurus detail harian.

Tanpa sebuah alasan, kebiasaan kecil akan terasa hambar dan mudah ditinggalkan. Tanpa kebiasaan kecil, tujuan mulia hanya akan menjadi slogan indah yang terpajang di dinding kamar tanpa pernah menjadi kenyataan. Keduanya harus berkelindan dalam napas yang sama.

Kita butuh mahasiswa yang tidak hanya pintar menghafal rumus, tapi juga paham mengapa rumus itu penting bagi kemanusiaan. Kita butuh mereka yang tahan banting bukan karena mereka tidak punya rasa takut, melainkan karena tujuan mereka jauh lebih besar daripada rasa takut itu sendiri.

Menjadi mahasiswa adalah menjadi pengelana di antara tumpukan teori. Daya tahan adalah kompasnya. Ia memastikan bahwa meskipun badai ketidakpastian menerjang, sang pengelana tetap tahu ke mana arah pulang yaitu kepada tujuan awal mengapa ia melangkahkan kaki ke dunia ilmu.

Setiap lembar skripsi yang ditulis dengan peluh, setiap diskusi yang berakhir hingga larut malam, serta setiap kegagalan yang diterima dengan lapang dada adalah monumen bagi daya tahan tersebut. Itu adalah bukti bahwa manusia bisa melampaui keterbatasannya jika ia tahu alasannya dan menjaga langkah kecilnya.

Mungkin pada akhirnya pendidikan bukan tentang apa yang kita dapatkan melainkan tentang menjadi siapa kita setelah melewati semua ujian itu. Menjadi pribadi yang utuh yang memiliki arah dan memiliki disiplin yang kuat.

Daya tahan bukanlah tentang tidak pernah jatuh. Ia adalah tentang bagaimana kita mengatur sistem untuk selalu bangkit kembali menjadi satu persen lebih baik dari sebelumnya. Ia adalah tentang menjaga api tujuan tetap menyala di tengah hujan deras skeptisisme dunia.

Di akhir perjalanan nanti saat toga dikenakan dan ijazah digenggam, yang paling berharga bukanlah tinta di atas kertas itu. Yang paling berharga adalah jejak ketangguhan yang telah terukir di dalam jiwa.

Sebab dunia di luar kampus tidak akan bertanya apa nilai ujianmu. Dunia akan bertanya seberapa kuat kau bertahan saat rencana tidak berjalan mulus dan seberapa konsisten kau menjaga nilai-nilaimu di tengah godaan untuk menyerah.

Maka tetaplah bertahan. Temukan alasanmu, susun sistemmu, dan biarkan kebiasaan kecilmu membentuk siapa dirimu. Karena pada titik itulah pendidikan benar-benar dimulai.

Di sebuah ruang yang sunyi, seorang mahasiswa masih terjaga. Ia tidak sedang mengerjakan tugas demi nilai. Ia sedang membangun sebuah masa depan melalui langkah-langkah kecil dengan sebuah alasan yang hanya ia dan Tuhan yang tahu. Dan itu sudah lebih dari cukup. (*)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda