PONTIANAK, SP – Dunia pendidikan di Kalimantan Barat (Kalbar) menghadapi persoalan serius. Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Provinsi Kalbar menyebut Kalbar berada dalam kondisi darurat krisis guru.
Ketua PGRI Kalbar, Muhamad Firdaus, mengatakan kekurangan tenaga pendidik untuk jenjang SMA, SMK, dan SLB mencapai lebih dari 5.000 orang. Sementara itu, kebutuhan guru SD dan SMP juga masih tinggi.
Menurutnya, kondisi tersebut harus menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Kalbar karena berdampak langsung terhadap kualitas proses belajar mengajar. Jika tidak segera diantisipasi melalui pengangkatan guru secara bertahap, krisis guru akan semakin memburuk.
“Berdasarkan data di lapangan, kekurangan guru untuk jenjang SMA, SMK, dan SLB mencapai lebih dari 5.000 orang. Untuk SD dan SMP, data rinci ada di pemerintah kabupaten dan kota,” ujar Firdaus, Selasa (14/7).
Firdaus menilai pengangkatan guru ASN maupun PPPK selama ini belum mampu menutup kebutuhan. Dengan asumsi pemerintah merekrut sekitar 1.000 guru setiap tahun, dibutuhkan sedikitnya lima tahun untuk memenuhi kekurangan guru SMA, SMK, dan SLB.
“Kalau satu angkatan sekitar 1.000 orang, maka perlu lima angkatan atau sekitar lima tahun untuk menutupi kekurangan guru ASN maupun PPPK,” katanya.
Ia menambahkan, persoalan ini diperparah oleh banyaknya guru yang memasuki masa pensiun setiap tahun sehingga kebutuhan guru terus bertambah.
“Dalam setahun ada ratusan guru SMA sederajat yang pensiun. Karena itu, pemerintah perlu mempercepat pengangkatan guru PNS dan PPPK penuh waktu agar kekurangan guru tidak semakin besar,” tegasnya.
PGRI Kalbar juga meminta Pemprov Kalbar menjadikan pemenuhan kebutuhan guru sebagai program prioritas. Menurut Firdaus, pengangkatan guru harus didasarkan pada kebutuhan riil di setiap sekolah dan diusulkan kepada pemerintah pusat melalui Dinas Pendidikan Provinsi Kalbar.
Ia mengakui pemerintah telah merekrut lebih dari 1.000 guru PPPK, baik penuh waktu maupun paruh waktu. Namun jumlah tersebut masih belum sebanding dengan kebutuhan guru di berbagai daerah.
Firdaus mengatakan kekurangan guru berdampak langsung pada kualitas pembelajaran. Di sejumlah sekolah, guru harus mengajar beberapa kelas bahkan mengampu mata pelajaran di luar bidang keahliannya.
“Kalau guru bidang studi harus mengajar mata pelajaran lain, tentu kompetensinya tidak maksimal. Kondisi ini berdampak pada kualitas proses belajar mengajar,” jelasnya.
PGRI berharap pemerintah pusat dan daerah mempercepat pemenuhan kebutuhan guru secara bertahap agar kualitas pendidikan, sumber daya manusia, dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kalbar dapat terus meningkat.
Caption: Ketua PGRI Kalbar, Muhamad Firdaus, menyebut Kalbar berada dalam kondisi darurat krisis guru. Jenjang SMA, SMK, dan SLB masih kekurangan lebih dari 5.000 guru. (din)