PONTIANAK, SP - Terik matahari siang menyengat kawasan Terminal Siantan Indah, Jalan Gusti Situt Mahmud, Pontianak Utara.
Deretan opelet yang dulu hilir mudik mengangkut penumpang kini hanya tersisa beberapa unit. Sebagian sopir tampak duduk termenung di balik kemudi, menunggu penumpang yang tak kunjung datang.
Terminal yang pernah menjadi salah satu pusat denyut ekonomi masyarakat Pontianak Utara itu perlahan berubah wajah. Aktivitas angkutan umum tak lagi seramai masa jayanya.
Warga kini lebih mengandalkan kendaraan pribadi, sepeda motor maupun mobil, untuk beraktivitas sehari-hari.
Namun di tengah perubahan zaman itu, satu sudut terminal tetap hidup.
Di antara kios-kios sederhana dan hiruk pikuk Pasar Puring, berdiri sebuah kantin kecil bernama Kantin Love-Love.
Tempat ini mungkin terlihat biasa saja bagi orang yang melintas. Menjual nasi lengkap, gorengan, kopi, jajanan pasar, hingga minuman dingin untuk para sopir, penumpang, dan warga sekitar.
Tetapi di balik kesederhanaannya, kantin milik Sandra, yang akrab disapa Kak Ngah, menyimpan cerita tentang ketekunan, perubahan, dan inklusi keuangan dari pinggir Kota Pontianak.
Kantin itu bukan lagi sekadar tempat makan dan singgah.
Sejak 2019, Kak Ngah mulai menjalani peran baru sebagai Agen BRILink. Keputusan itu awalnya muncul dari keinginannya membantu masyarakat sekitar yang kesulitan mengakses layanan perbankan.
“Di sini banyak warga yang kadang malas ke bank karena jauh atau antre. Jadi saya pikir kenapa tidak sekalian membantu mereka di kantin,” ujarnya.
Perlahan, Kantin Love-Love berubah fungsi menjadi titik layanan keuangan masyarakat.
Warga kini bisa melakukan setor tunai, tarik tunai, transfer uang, membayar listrik, cicilan, hingga membeli pulsa hanya dari kantin sederhana di tengah terminal.
Tak sedikit sopir opelet yang menggantungkan transaksi hariannya di tempat itu. Ada pula pedagang pasar yang datang pagi-pagi untuk transfer uang dagangan. Bahkan ibu-ibu rumah tangga juga rutin mampir membayar tagihan sambil membeli gorengan hangat.
Salah satunya adalah Bu Irin Sauna, pedagang sayur di Pasar Puring. Hampir setiap hari ia menyempatkan diri singgah ke Kantin Love-Love setelah selesai berdagang.
Bagi Bu Irin, keberadaan Kak Ngah sangat membantu kehidupannya, terutama sejak anaknya melanjutkan kuliah di salah satu kampus negeri di Kota Yogyakarta.
Dulu, setiap kali hendak mengirim uang untuk kebutuhan kuliah anaknya, ia harus menyempatkan pergi ke bank.
Artinya, ia harus meninggalkan lapak dagang lebih lama, mengantre, bahkan terkadang menunda transaksi karena sibuk berjualan. Kini, semuanya jauh lebih mudah.
“Kalau dulu mau kirim uang ke anak saya harus ke bank. Kadang capek juga karena habis jualan sayur dari pagi, belum lagi antreannya panjang.
Sekarang tinggal datang ke Kak Ngah, bilang mau transfer berapa, langsung selesai. Saya bisa tetap jaga dagangan dan tidak perlu repot lagi,” ujarnya.
Ia mengaku layanan sederhana seperti itu sangat berarti bagi pedagang kecil seperti dirinya.
“Orang seperti kami ini waktunya sangat berharga. Kalau pagi tinggal lama sedikit di pasar, pembeli bisa pindah ke lapak lain.
Jadi adanya layanan di Kantin Love-Love ini sangat membantu. Apalagi Kak Ngah orangnya sabar dan sudah seperti keluarga sendiri. Kami percaya menitipkan uang di dia,” katanya.
Bu Irin bahkan menyebut Kantin Love-Love bukan lagi sekadar tempat makan atau tempat transfer uang, tetapi sudah menjadi tempat masyarakat saling membantu.
“Kadang kami datang bukan cuma transfer. Bisa sambil minum kopi, cerita soal anak, soal dagangan, soal kebutuhan rumah.
Jadi terasa dekat. Anak saya juga senang karena uang kiriman bisa cepat masuk tanpa saya harus jauh-jauh ke bank,” tuturnya.
Kak Ngah mengaku, menjadi Agen BRILink membuat dirinya banyak belajar tentang literasi dan inklusi keuangan. Ia mulai memahami pentingnya akses layanan keuangan bagi masyarakat kecil.
“Dulu orang pikir urusan bank itu susah. Sekarang mereka jadi terbiasa menabung, transfer, bayar tagihan sendiri. Saya senang bisa bantu,” katanya sambil tersenyum.
Kehadiran layanan itu secara perlahan mengubah pola masyarakat sekitar. Warga yang sebelumnya bergantung pada jasa orang lain untuk bertransaksi kini mulai berani mengelola kebutuhan keuangan sendiri.
Namun bukan hanya layanan perbankan yang membuat Kantin Love-Love dikenal warga Siantan.
Kak Ngah juga dikenal sebagai “Emak Arisan Barang”. Ia mengelola arisan kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan Lebaran yang diikuti banyak ibu-ibu di kawasan Pontianak Utara.
Menjelang Idulfitri, arisan itu menjadi sangat ramai. Berbagai kebutuhan seperti sirup, kue kering, bahan membuat kue basah, hingga perlengkapan dapur menjadi barang favorit peserta.
Tradisi itu tumbuh karena budaya masyarakat Pontianak yang sangat lekat dengan sajian Lebaran. Di rumah-rumah warga, aneka kue basah dan minuman selalu tersedia untuk menyambut tamu.
Bagi sebagian warga, arisan barang menjadi cara ringan untuk memenuhi kebutuhan hari raya tanpa harus terbebani biaya besar sekaligus.
“Kalau dicicil lewat arisan kan terasa lebih ringan. Pas Lebaran tinggal ambil barang,” kata salah seorang pelanggan setia Kantin Love-Love.
Di tengah terminal yang mulai kehilangan kejayaannya, Kantin Love-Love justru menemukan cara baru untuk tetap hidup dan relevan. Bukan hanya menjual makanan, tetapi juga membangun kedekatan sosial dan membantu masyarakat memahami layanan keuangan modern.
Kantin kecil itu kini menjadi ruang pertemuan banyak cerita. Tempat sopir melepas lelah, pedagang bertransaksi, warga membayar tagihan, hingga ibu-ibu merancang kebutuhan Lebaran.
Terminal Siantan Indah mungkin tak lagi seramai dahulu. Namun dari sebuah kantin sederhana di sudut terminal, denyut kehidupan itu masih terasa.
Dan Kak Ngah, dengan senyum ramahnya, terus menjaga denyut itu tetap hidup. (aep mulyanto)