Ponticity post authorelgiants 17 Mei 2026

Ulama Doyan Nikah Batin Dilaporkan ke Polisi

Photo of Ulama Doyan Nikah Batin Dilaporkan ke Polisi

Heri Maulana, Pejuang Nahi Mungkar Kalimantan Barat (Kalbar) mengaku penasaran dan prihatin atas beredarnya narasi mengenai dugaan praktik pernikahan tidak lazim yang menyeret nama seorang tokoh agama Islam di Kalbar.

Isu tersebut mencuat setelah viralnya pengakuan dalam sebuah podcast di kanal YouTube milik Ari Untung bersama Syaikh Muhamad Ali Al Deep. Dalam tayangan itu, Syaikh Ali Al Deep mengungkap adanya dugaan praktik “nikah batin” yang dilakukan oleh seorang oknum ulama yang disebut memiliki pengaruh besar di Kalbar.

Narasi tersebut kemudian berkembang luas dan memicu berbagai pemberitaan. Salah satunya laporan yang mengangkat dugaan praktik “nikah tiap bulan di hotel tanpa wali”, penggunaan dalil palsu, hingga dugaan unsur sihir untuk menguras harta korban.

Merespons kegaduhan itu, Heri Maulana, pun melakukan tabayyun secara langsung melalui sambungan telepon dengan Syaikh Muhamad Ali Al Deep.

Dalam percakapan yang berlangsung serius, Heri Maulana menyampaikan keterkejutannya setelah menyaksikan podcast tersebut.

“Saya langsung terkejut, Syeikh. Karena ketika Syeikh di Masjid Al-Karim, saya sering melihat dan mendengar langsung bacaan salat Syeikh yang begitu merdu. Saya menjadikan Syeikh sebagai panutan,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Syaikh Ali Al Deep membenarkan bahwa dirinya memang pernah menjadi imam di Masjid Al-Karim Pontianak.

Percakapan kemudian mengarah pada inti persoalan terkait sosok ulama yang dimaksud dalam podcast viral tersebut.

“Saya mau tabayyun, siapa ulama itu sebenarnya, Syeikh?” tanya Heri Maulana.

Menjawab pertanyaan itu, Syaikh Ali Al Deep mengaku saat ini pihaknya tengah mengumpulkan bukti-bukti dan berkoordinasi dengan sejumlah pihak, termasuk pejabat tingkat tinggi.

“Barusan saya selesai telepon dengan jabatan tinggi di Istana. Kami sedang bekerja keras mengurus kasus ini. Bukti-bukti sudah banyak, tetapi untuk sementara saya belum bisa menyebut nama karena masih dalam proses pelengkapan data,” ungkapnya.

Ia juga meminta para ulama, habaib, dan tokoh masyarakat di Kalbar untuk tetap tenang hingga proses hukum berjalan.

“Kalau Bapak punya kenalan ulama, habib, atau kiai di Pontianak dan Kalbar, tolong sampaikan agar tenang dulu. Insya Allah semua baik-baik saja,” katanya.

Dalam percakapan itu, Heri Maulana  kembali memastikan apakah sosok yang dimaksud benar-benar berasal dari Kalbar. “Yakin ini ulama Kalbar atau ulama Pontianak, Syeikh?” tanyanya lagi.

Syaikh Ali Al Deep kemudian menegaskan bahwa sosok yang dimaksud bukan berasal dari Kalbar.

“Dia memang sering safari di Pontianak dan Kalbar, bahkan tinggal di sana serta memiliki pondok. Tapi bukan asli orang Kalimantan,” jelasnya.

Pernyataan tersebut kembali dipertegas ketika Heri Maulana menanyakan apakah sosok itu berasal dari kalangan habaib.

“Bukan habib, insya Allah. Semua habaib aman, mereka sahabat dan guru-guru saya,” jawab Syaikh Ali Al Deep.

Dalam percakapan itu, Syaikh Ali Al Deep juga menyebut dugaan adanya unsur pidana dalam kasus tersebut.

“Korban sudah melapor sampai enam kali, tetapi orang tersebut tidak hadir. Sekarang kami bekerja sama dengan pihak yang lebih tinggi,” katanya.

Syarif Abdullah pun menyatakan kesiapannya mendukung proses hukum apabila seluruh data dan bukti telah lengkap.

“Kalau datanya sudah lengkap, kita laporkan saja. Saya siap berada di barisan Syeikh untuk melaporkannya,” tegasnya.

Di akhir percakapan, Heri Maulana Pejuang Nahi Mungkar Kalbar meminta Syaikh Ali Al Deep menyampaikan pernyataan terbuka agar masyarakat Kalbar tidak terjebak fitnah.

Menanggapi permintaan itu, Syaikh Ali Al Deep menyampaikan klarifikasi:

“Saya tegaskan bahwa orang tersebut bukan berasal dari Kalbar dan bukan habib. Mohon doa dari para habaib dan guru-guru agar masalah ini segera selesai demi kebaikan umat Islam,” ucapnya.

Percakapan itu kemudian ditutup dengan harapan agar situasi di Kalbar tetap aman dan kondusif sambil menunggu proses hukum dan pengungkapan identitas pihak yang dimaksud.

Segera Ungkap Identitas

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Daerah Pemilihan (Dapil) Kalbar, Syarief Abdullah Al-Kadrie pun menyoroti dugaan praktik “nikah batin” yang disebut melibatkan seorang oknum tokoh agama asal Kalbar.

Ia menegaskan bahwa pernikahan sejatinya bertujuan membina rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah, bukan justru merugikan pihak perempuan secara materi maupun psikologis.

“Pernikahan itu membina rumah tangga yang sakinah mawaddah warahmah. Apabila dengan nikah seperti itu jelas merugikan perempuan secara materi dan psikologis,” kata Syarief Abdullah.

Ia juga meminta pihak yang pertama kali menyampaikan statmen tersebut agar dapat menyebutkan secara jelas identitas tokoh agama yang dimaksud. Menurutnya, isu yang berkembang tanpa penjelasan terang justru memunculkan bisik-bisik di tengah masyarakat yang berpotensi mengarah pada fitnah dan praduga terhadap pihak tertentu.

“Makanya saya meminta kepada orang yang membuat statement bisa menyebutkan identitas tokoh agama yang melakukan praktik tersebut, karena sekarang terjadi bisik yang mengarah fitnahan dan praduga pada pihak tertentu,” ujarnya.

Syarief menilai apabila memang terdapat pelaku yang melakukan praktik tersebut, maka persoalan itu perlu diklarifikasi secara terbuka, baik ditinjau dari sisi agama maupun berdasarkan hukum positif yang berlaku di Indonesia.

“Apabila ada pelakunya perlu dilakukan klarifikasi baik ditinjau dari sisi agama maupun pada hukum positif,” tegasnya.

Selain itu, ia juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya apabila ada seseorang yang mengatasnamakan ulama ataupun tokoh masyarakat untuk merayu maupun melakukan doktrin tertentu dengan dalih agama.

“Saya menghimbau kepada masyarakat apabila ada seorang yang mengatasnamakan ulama atau tokoh masyarakat merayu atau dengan doktrin atas nama agama jangan dipercaya,” katanya.

Berawal Podcast Arie Untung Viral

Publik Kalbar sempat dibuat heboh setelah muncul pengakuan mengejutkan dalam sebuah podcast di kanal YouTube ceritauntungs. Dalam tayangan yang beredar, Ustadz Syaikh Muhamad Ali Al Deep mengungkap adanya dugaan praktik pernikahan tidak lazim yang dilakukan oleh seorang oknum ulama ternama di Kalbar, Rabu (13/5/2026).

Pengakuan tersebut langsung menyita perhatian publik lantaran menyangkut persoalan serius dalam syariat Islam, yakni dugaan pelaksanaan pernikahan tanpa wali resmi. Dalam Islam, wali merupakan salah satu rukun utama yang menentukan sah atau tidaknya sebuah akad nikah.

Dalam potongan video yang viral di media sosial, sang Ustadz menyebut oknum tersebut diduga kerap melakukan pernikahan dalam waktu yang berulang.

“Ada oknum ulama terkenal di Kalbar yang setiap bulan menikah tanpa wali,” ungkapnya dalam podcast tersebut.

Pernyataan itu sontak memancing respons dari pembawa acara podcast, Arie Untung. Bahkan, Arie secara terbuka meminta agar identitas oknum tersebut dibongkar agar tidak menjadi spekulasi liar di tengah masyarakat.

“Bongkar aja sekalian Ustadz,” pinta Arie dalam perbincangan tersebut.

Namun demikian, Ustadz Syaikh Muhamad Ali Al Deep mengaku belum dapat membuka identitas sosok yang dimaksud karena masih mengumpulkan sejumlah bukti dan keterangan dari pihak-pihak yang disebut sebagai korban.

Ia menyebut saat ini terdapat sekitar lima hingga enam curhatan yang sedang dikumpulkan untuk memperkuat dugaan tersebut sebelum dipublikasikan lebih lanjut.

Di akhir percakapan, Arie Untung juga menyinggung kemungkinan isu ini akan menjadi perhatian besar masyarakat Kalbar apabila bukti-bukti tersebut benar-benar dibuka ke publik.

“Untuk warga Kalimantan kita tunggu saja viralnya nanti. Mudah-mudahan kita bisa undang Syeikh lagi untuk membuka karena ini belum terbuka kan ya,” ujar Arie.

Meski demikian, hingga kini belum ada identitas maupun bukti resmi yang dipublikasikan kepada masyarakat.

Karena itu, publik diminta tetap bijak menyikapi informasi yang beredar dan tidak mudah mengaitkan tuduhan kepada pihak tertentu sebelum ada klarifikasi serta fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.

Kasus ini pun memunculkan berbagai reaksi di media sosial. Sebagian meminta persoalan tersebut diusut secara terbuka, sementara lainnya mengingatkan pentingnya menjaga asas praduga tak bersalah agar tidak menimbulkan fitnah yang lebih luas di tengah masyarakat. (din/mul/dok)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda