Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, resmi membuka Pekan Gawai Dayak (PGD) ke-40 Provinsi Kalimantan Barat di Rumah Radakng, Pontianak, pada Rabu (20/5/2026).
Norsan menegaskan bahwa Pekan Gawai Dayak bukan hanya milik masyarakat Dayak, tetapi menjadi milik seluruh masyarakat Kalimantan Barat yang hidup dalam keberagaman suku dan budaya.
“Sesungguhnya Pekan Gawai Dayak adalah milik kita bersama. Bukan hanya milik masyarakat Dayak, tetapi juga masyarakat Melayu, Tionghoa, Madura, Bugis, Jawa, dan seluruh suku yang ada di Kalimantan Barat,” katanya.
Menurutnya, Pekan Gawai Dayak menjadi simbol persatuan di tengah keberagaman masyarakat Kalbar. Ia menyebut terdapat 24 suku yang hidup berdampingan dan harus terus menjaga semangat kebersamaan serta saling menghormati.
“Di tengah perbedaan suku, agama, dan budaya, kita tetap berdiri dalam semangat kebersamaan, saling menghormati, dan menjaga persaudaraan,” tambahnya.
Ia juga mengapresiasi penyelenggaraan Pekan Gawai Dayak sebagai wadah memperkuat identitas budaya masyarakat Dayak sekaligus ruang kebersamaan bagi seluruh etnis di Kalimantan Barat.
Selain sebagai ajang pelestarian budaya, Norsan menilai Pekan Gawai Dayak memiliki potensi besar dalam mendukung sektor pariwisata dan perekonomian daerah. Keunikan tradisi, seni, kuliner, kerajinan, hingga kearifan lokal yang ditampilkan dinilai mampu menjadi daya tarik wisata budaya.
Selain itu, ia juga berharap Pekan Gawai Dayak dapat masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN), agenda nasional Kementerian Pariwisata yang memuat berbagai festival budaya unggulan di Indonesia.
“Tahun 2026 kemarin kita mencatatkan acara Saur-Saur di Kabupaten Sambas masuk dalam KEN. Mudah-mudahan tahun 2027 Pekan Gawai Dayak juga bisa masuk KEN,” katanya.
Pertumbuhan Ekonomi
Norsan menilai Pekan Gawai Dayak tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat.
“Saya sangat mendukung sekali kegiatan ini. Selain melestarikan nilai-nilai budaya, saya lihat multi efeknya juga terhadap pertumbuhan ekonomi,” kata Norsan.
Menurutnya, dampak ekonomi dari pelaksanaan Pekan Gawai Dayak dapat dirasakan oleh berbagai sektor, terutama pelaku UMKM dan kuliner yang turut meramaikan kegiatan tersebut.
“Karena ada kulinernya dan lain sebagainya, jadi banyak yang terkena dampaknya juga,” tambahnya.
Ia menegaskan Pemerintah Provinsi Kalbar tetap berkomitmen mendukung pelaksanaan Pekan Gawai Dayak ke depan. Meski mekanisme hibah pemerintah tidak dapat diberikan secara berturut-turut, pihaknya telah menyiapkan solusi agar kegiatan budaya tersebut tetap berjalan maksimal pada tahun berikutnya.
“Insya Allah untuk tahun depan kita akan diskusikan dengan panitia sebelum dilaksanakannya Gawai Dayak ini. Kita usahakan tahun depan tidak akan sampai kekurangan biaya,” ungkapnya.
Selain itu, Norsan berharap Pekan Gawai Dayak terus menjadi ruang mempererat persatuan dan menjaga keharmonisan masyarakat di Kalimantan Barat yang terdiri dari beragam suku dan budaya.
“Mudah-mudahan pelestarian budaya tetap kita pertahankan. Kemudian persatuan dan kesatuan lebih dikedepankan supaya Kalbar ini, rumah besar kita, bisa terjaga keharmonisannya,” tutupnya.
Terakhir, Norsan mengajak seluruh masyarakat untuk memeriahkan Pekan Gawai Dayak dengan penuh sukacita serta menjadikan budaya sebagai identitas dan kebanggaan bersama masyarakat Kalimantan Barat. (*)