Ponticity post author Kiwi 20 Oktober 2026

Bruder Steph Dengarkan Keluh Kesah Tukang Parkir di Jalan Diponegoro, Pendapatan Turun hingga Sulit Beli Nasi Bungkus

Photo of Bruder Steph Dengarkan Keluh Kesah Tukang Parkir di Jalan Diponegoro, Pendapatan Turun hingga Sulit Beli Nasi Bungkus

PONTIANAK, SP – Di balik pembangunan yang diharapkan membawa kemajuan bagi kota, ada cerita lain dari masyarakat kecil yang setiap hari menggantungkan hidup pada aktivitas di ruang publik. Bagi Iwan, petugas parkir resmi di kawasan Jalan Diponegoro, Pontianak, proyek pembangunan yang tengah berjalan kini membawa dampak langsung terhadap penghasilannya.

Sudah sekitar dua minggu terakhir, Iwan merasakan pendapatannya menurun drastis. Setiap hari, ia harus menerima kenyataan penghasilannya berkurang sekitar Rp30 ribu hingga Rp50 ribu. Kondisi itu membuatnya kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, bahkan untuk sekadar membeli nasi bungkus seharga Rp10 ribu.

Keluh kesah tersebut disampaikan Iwan ketika bertemu Bruder Stephanus Paiman OFMCap, yang akrab disapa Bruder Steph. Dengan nada prihatin, Iwan menceritakan bagaimana kondisi pekerjaannya berubah sejak proyek pembangunan berlangsung di kawasan tersebut.

“Udah dua minggu ni, Bang. Untuk beli nasi bungkus pun yang harga Rp10 ribu, dibelikan kawan, Pak Dino,” ungkap Iwan.

Mendengar cerita itu, Dino, seorang pekerja jasa stempel yang beraktivitas di samping lokasi tersebut, turut membenarkan kondisi yang dialami Iwan. Ia berharap keluhan itu dapat didengar oleh pihak-pihak yang memiliki kewenangan untuk mencari jalan keluar.

“Iye, Bang. Kebetulan ade abang, make kamek sampaikan ini. Mungkin ade solusi, Bang,” timpal Dino.

Bagi Bruder Steph, yang juga dikenal sebagai penasihat pedagang kaki lima (PKL), cerita Iwan menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak hanya berbicara tentang infrastruktur dan besarnya anggaran, tetapi juga tentang bagaimana dampaknya dirasakan masyarakat yang berada di sekitarnya.

Dengan senyum dan sikap bersahaja, Bruder Steph meminta Iwan tetap bersabar dan menjalankan pekerjaannya seperti biasa. Ia memahami bahwa pembangunan merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk menghadirkan kemajuan, tetapi dampak yang muncul terhadap masyarakat kecil juga perlu mendapat perhatian.

“Sabar dan tetaplah bekerja seperti biasa. Ini proyek pemerintah yang diusulkan oleh Pak Lazarus, DPR RI, di pusat. Seingatku anggarannya sekitar Rp1,7 triliun. Alhamdulillah, proyek ini berjalan,” ujar Bruder Steph.

Namun, menurutnya, ketika pembangunan membawa dampak terhadap mata pencaharian masyarakat, perlu ada komunikasi dan upaya bersama untuk mencari solusi.

“Bahwa ada dampak, itu biasa. Tinggal cari solusi untuk meringankan atau menghilangkan dampak tersebut. Coba bicarakan dengan Pak Edi Kamtono sebagai Wali Kota atau pimpinan proyek ini. Sampaikan keluh kesah kalian. Semoga mereka punya hati untuk ikut memberikan solusi yang bisa meringankan beban kalian,” pesannya.

Pesan tersebut disampaikan Bruder Steph dengan senyum, sembari memberikan semangat agar Iwan tidak kehilangan harapan di tengah kondisi yang sedang dihadapinya.

Kisah Iwan menjadi potret kecil tentang bagaimana pembangunan berskala besar dapat bersinggungan langsung dengan kehidupan pekerja informal. Bagi sebagian orang, pembangunan mungkin terlihat sebagai perubahan wajah kota. Namun, bagi mereka yang mencari nafkah di sekitar lokasi proyek, perubahan itu juga bisa berarti berkurangnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan paling mendasar.

Harapannya, keluhan seperti yang disampaikan Iwan tidak berhenti sebagai cerita di pinggir jalan. Komunikasi antara pekerja terdampak, pemerintah daerah, dan pihak pelaksana proyek diharapkan dapat membuka ruang bagi solusi yang adil, sehingga pembangunan tetap berjalan tanpa mengabaikan kehidupan masyarakat kecil yang ikut merasakan dampaknya.

Sebab, kemajuan sebuah kota bukan hanya diukur dari berdirinya bangunan baru, melainkan juga dari kepedulian terhadap orang-orang yang berjuang memenuhi kebutuhan hidup di tengah perubahan tersebut. (*)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda