PONTIANAK, SP – Di antara deru mesin Vespa, alunan musik reggae, dan obrolan santai yang menghangatkan suasana, ada sesuatu yang lebih bermakna dari sekadar pertemuan para pecinta skuter.
Temu Kangen Scooterist Kalbar menjadi ruang untuk merawat persaudaraan, berbagi pengalaman, sekaligus menumbuhkan gagasan agar kebersamaan komunitas bisa memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat.
Pandangan itu disampaikan Bruder Stephanus Paiman OFMCap, sesepuh Vespa Kalbar, sekaligus penasihat FRKP West Borneo Vespa Lovers, saat menghadiri Temu Kangen Scooterist Kalbar yang digelar di Cafe 168, dekat SPBU Sepakat, Pontianak, Minggu (18/10/2026) malam.
Kegiatan yang diprakarsai Scooteris Kalbar (SKB) di bawah koordinasi Ketua Panitia Emon tersebut berlangsung semarak.
Sejumlah komunitas Vespa dari berbagai daerah di Kalbar turut hadir, bersama scooterist dari Sulawesi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, hingga Simunjan, Sarawak, Malaysia.
Kehadiran para pecinta Vespa lintas daerah itu menjadikan pertemuan tersebut bukan sekadar ajang melepas rindu, melainkan juga kesempatan untuk saling mengenal, bertukar cerita, dan memperluas persaudaraan di antara sesama scooterist.
Di tengah suasana akrab itu, Bruder Stephanus tampil dengan gaya khasnya. Mengenakan atribut yang kerap diasosiasikan dengan komunitas Vespa bergaya gembel, berupa sandal jepit dan celana compang-camping, ia membaur tanpa sekat bersama para scooterist muda.
Baginya, persaudaraan tidak ditentukan oleh penampilan, usia, ataupun asal komunitas. Semangat kebersamaan justru tumbuh ketika setiap orang bersedia membuka diri, saling menghargai, dan menikmati perbedaan dalam satu kecintaan terhadap Vespa.
“Acara seperti ini selain untuk mempererat tali silaturahmi antarscooterist, juga menjadi ajang berbagi pengalaman dari masing-masing daerah,” ungkap Bruder Stephanus.
Menurutnya, pertemuan semacam ini memiliki arti penting, terutama bagi scooterist muda yang ingin mengenal lebih jauh perjalanan komunitas Vespa di berbagai daerah. Cerita tentang pengalaman di jalan, perjalanan antarkota, hingga dinamika mengelola komunitas menjadi pengetahuan berharga yang tidak selalu diperoleh melalui pertemuan formal.
“Kami saling berbagi pengalaman dan juga berdiskusi tentang dunia Vespa. Di samping itu, banyak cerita unik yang dialami teman-teman,” tuturnya.
Bagi Bruder Stephanus, obrolan santai yang berlangsung di antara sesama pecinta Vespa sering kali menjadi awal lahirnya gagasan positif. Dari percakapan sederhana, para scooterist dapat saling bertukar pandangan, membicarakan kegiatan komunitas, hingga merancang aksi bersama yang menyentuh kehidupan masyarakat.
Ia menilai, komunitas Vespa di Kalbar selama ini tidak hanya dikenal karena kecintaan terhadap kendaraan klasik, tetapi juga melalui berbagai kegiatan sosial yang manfaatnya dirasakan masyarakat.
Semangat itulah yang menurutnya perlu terus dijaga. Persaudaraan yang terbangun di jalanan maupun dalam pertemuan komunitas hendaknya tidak berhenti pada kegiatan berkumpul, tetapi berkembang menjadi kepedulian dan aksi nyata bagi sesama.
“Agenda-agenda seperti itulah yang biasanya tercetus saat acara temu kangen seperti ini,” ujarnya.
Bruder Stephanus berharap klub-klub Vespa di Kalimantan Barat dapat terus tumbuh dan mempertahankan eksistensinya. Lebih dari itu, ia ingin komunitas-komunitas tersebut mampu menghadirkan nilai tambah bagi lingkungan sekitar melalui kegiatan sosial, solidaritas, dan kepedulian kemanusiaan.
Sementara itu, Ketua Panitia Emon menyambut pertemuan tersebut sebagai kesempatan sederhana untuk mempertemukan kembali kawan-kawan lama sekaligus mempererat hubungan antarscooterist.
Suasana keakraban terus terasa hingga kegiatan berlangsung sekitar pukul 23.30 WIB. Bahkan, sejumlah peserta masih bertahan untuk menikmati kopi, berbincang santai, dan mendengarkan alunan musik reggae yang mengiringi malam.
Bagi Bruder Stephanus dan rekan-rekannya di FRKP West Borneo Vespa Lovers, pertemuan itu menjadi pengingat bahwa kecintaan terhadap Vespa dapat menyatukan banyak orang dari latar belakang berbeda. Dari sebuah skuter, persaudaraan tumbuh; dari obrolan sederhana, kepedulian bisa bersemi; dan dari komunitas, manfaat bagi masyarakat dapat terus dihadirkan.
Di situlah makna Temu Kangen Scooterist Kalbar: bukan semata-mata merayakan kecintaan pada Vespa, melainkan juga merawat persaudaraan agar tetap hidup dan berarti bagi sesama.
Bruder Stephanus Paiman: Temu Kangen Scooterist Bukan Sekadar Nongkrong, tetapi Ruang Berbagi dan Berbagi untuk Sesama. (*)