Opini post author Kiwi 19 Oktober 2026

Brain Rot? Saatnya Reset, Pelan-Pelan

Photo of Brain Rot? Saatnya Reset, Pelan-Pelan

Oleh: Ahmad Jais

Dosen IAIN Pontianak, Kalimantan Barat
Founder & Master Trainer, Mind Healing Technique of Indonesia | [email protected] | www.mhtindonesia.com

"Di antara tanda baiknya keislaman seseorang adalah ia meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya." (HR. At-Tirmidzi no. 2317 dan Ibnu Majah no. 3976)

"Cuma satu video saja." Begitu niat kita ketika membuka ponsel. Tahu-tahu satu jam berlalu, jempol masih bergerak, dan kita tak ingat apa yang barusan ditonton.
Setelah layar gelap, kepala terasa penuh tetapi hati terasa kosong. Kita susah menamatkan satu halaman bacaan, mudah bosan, dan lebih hafal meme terbaru daripada pesan kecil dari orang tercinta.

Anak muda menyebut kondisi ini brain rot. Oxford sampai memilihnya sebagai Word of the Year 2024, dengan definisi anggapan memburuknya kondisi mental atau intelektual karena terlalu banyak menyantap konten daring yang remeh atau tidak menantang.
Uniknya, kata ini pertama kali tercatat dalam buku Walden karya Henry David Thoreau pada 1854. Jadi keresahan ini ternyata jauh lebih tua daripada layar ponsel kita.

Di sini perlu ditegaskan bahwa brain rot bukan diagnosis medis. Penelitian memang menemukan keterkaitan antara kebiasaan menonton video pendek dan menurunnya kendali diri serta daya ingat kerja, tetapi belum cukup bukti bahwa konten itu langsung mengubah otak.
Yang lebih mapan, Ophir, Nass, dan Wagner (2009) menunjukkan bahwa orang yang sangat sering berpindah-pindah media lebih sulit menyaring informasi yang tidak penting. Sparrow, Liu, dan Wegner (2011) menemukan bahwa ketika kita yakin informasi bisa dicari kapan saja, kita cenderung kurang berusaha mengingatnya.
Jika dibiarkan, perhatian yang terus terpecah membuat tidur terganggu, hubungan menjadi dangkal, dan rasa ingin tahu pelan-pelan memudar. Jadi persoalannya bukan pada teknologinya, melainkan pada cara kita menjaga perhatian.

Menariknya, agama kita sudah lama mengajarkan cara menjaga perhatian itu. Rasulullah saw menyebut meninggalkan hal yang tidak bermanfaat sebagai tanda baiknya keislaman seseorang.
Ibnul Qayyim menyebut hadis ini ringkasan seluruh sikap wara', dan maknanya mencakup ucapan, penglihatan, pendengaran, langkah, pikiran, serta seluruh gerak lahir maupun batin. Artinya, bukan hanya mulut yang perlu dijaga, tetapi juga mata, telinga, dan pikiran kita.

Al-Qur'an menyebut tiga hal itu secara berurutan. "Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang engkau tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya" (QS. Al-Isra': 36).
Ayat ini bagai tiga pintu rumah. Apa pun yang kita biarkan masuk lewat mata dan telinga akan menetap di ruang dalam bernama hati, dan kelak ditanyakan.

Kalau perhatian kita sudah terlalu ramai, apa obatnya? Rasulullah saw memberi teladan berupa jeda. Sebelum wahyu pertama turun, beliau gemar menyendiri di Gua Hira beberapa malam untuk beribadah dan merenung (HR. Bukhari no. 3 dan Muslim no. 160).
Beliau tidak lari dari manusia. Beliau memberi hatinya ruang untuk hening, dan dari keheningan itulah datang perintah yang pertama, "Bacalah" (QS. Al-'Alaq: 1). Hening bukan kekosongan. Ia tanah yang digemburkan sebelum benih ditanam.

Jeda semacam itu hanya mungkin bila kita menyadari nilai waktu luang. Beliau bersabda, "Dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang" (HR. Bukhari no. 6412).
Waktu luang adalah modal yang berharga. Jika ia habis oleh gulungan layar tanpa tujuan, kita sedang menukarnya dengan sesuatu yang tidak kita sadari.

Di era algoritma, godaan untuk terus menggulir memang dirancang untuk menahan kita. Maka hendaknya dijauhi kebiasaan melahap kabar dan drama kehidupan orang lain secara berlebihan, sebab ia bisa menyeret kita pada mencari-cari kesalahan dan bergunjing yang dilarang Allah (QS. Al-Hujurat: 12). Kita juga perlu jujur bertanya apakah kecerdasan buatan sedang membantu kita berpikir atau menggantikan proses berpikir kita.
Pesan hadis tadi pun tidak berarti kita acuh pada kebaikan. Para ulama menegaskan bahwa memahaminya sebagai larangan beramar makruf dan bernahi munkar adalah keliru. Yang dituntut adalah memilih, bukan menutup diri.

Lalu bagaimana mulai mereset? Pelan-pelan, sebab Rasulullah saw bersabda, "Amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling terus-menerus, walaupun sedikit" (HR. Bukhari no. 6464 dan Muslim no. 783).
Mulailah dari satu kebiasaan: makan ya makan, menonton ya menonton, satu hal dalam satu waktu. Beri jeda beberapa detik sebelum membuka layar dan tanyakan, "Untuk apa aku membukanya?" Sebelum bertanya kepada mesin, coba pikirkan dulu jawaban sendiri.
Sempatkan sepuluh menit di luar rumah setiap pagi, karena Allah memuji orang yang merenung, "yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau berbaring, dan memikirkan penciptaan langit dan bumi" (QS. Ali 'Imran: 191).
Bacalah satu halaman yang bergizi sebelum tidur, lalu biarkan malam benar-benar sunyi. Bila terasa sulit berhenti, suasana hati makin murung, atau tidur terganggu terus-menerus, lakukan relaksasi energi, atau bicarakan dengan orang yang dipercaya atau dengan tenaga profesional.

Seperti tanah yang terlalu sering diinjak menjadi keras, tetapi bila diistirahatkan dan digemburkan akan kembali subur, begitulah perhatian kita: ia tidak rusak selamanya, hanya perlu ruang untuk bernapas.

Jika hari ini kita merasa sudah terlalu jauh larut, tidak apa-apa. Tidak ada yang meminta kita membuang ponsel atau memusuhi hiburan. Kita hanya diajak memilih, sedikit demi sedikit, apa yang layak mendapat perhatian kita.
Hari ini mungkin cukup satu jeda yang kecil, satu halaman yang dibaca, satu panggilan telepon kepada ibu, istri atau suami.
Pelan-pelan, semoga fokus kita yang dulu terpecah akan kembali menyatu, dan kita akan menemukan bahwa rasa ingin tahu, ketenangan, dan kedekatan yang kita rindukan tidak pernah pergi jauh. Ia hanya menunggu kita menoleh.

Ya Allah, jagalah penglihatan, pendengaran, dan hati kami dari hal-hal yang sia-sia. Lapangkanlah dada kami untuk memulai kembali dengan sabar, anugerahkanlah fokus dan ketenangan, dan jadikanlah waktu luang kami sebagai ladang kebaikan. Bimbinglah kami memilih apa yang bermanfaat, dan ampunilah kelalaian kami. Amin. (*)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda