Oleh: Ahmad Jais / Dosen IAIN Pontianak, Kalimantan Barat. Founder & Master Trainer, Mind Healing Technique of Indonesia | [email protected] | www.mhtindonesia.com
"Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-'Ankabut: 69)
Kita sering menunggu semangat seperti menunggu balasan pesan dari seseorang yang kita harapkan: ponsel di tangan, mata sesekali melirik layar, berharap ia segera datang.
Laptop sudah terbuka, tetapi kursor hanya berkedip. Sepatu olahraga tergeletak di sudut kamar. Tugas menumpuk, dan dalam hati kita berkata, "Nanti saja, kalau sudah semangat."
Hari berganti, semangat tak kunjung muncul, lalu kita menyalahkan diri, "Kenapa aku tidak termotivasi?" Mungkin masalahnya bukan kurang semangat. Mungkin kita hanya menunggu di pintu yang salah. Semangat jarang datang sebelum kita memulai. Ia sering menunggu di seberang langkah pertama.
Psikologi klinis punya temuan yang sejalan. Pendekatan aktivasi perilaku (behavioral activation), yang diteliti Neil Jacobson dan rekan-rekannya (1996), menunjukkan bahwa melakukan aktivitas bermakna, sekecil apa pun, bahkan sebelum suasana hati membaik, dapat membantu memperbaiki suasana hati itu sendiri.
Urutan yang kita kira "semangat dulu, baru bertindak" ternyata sering terbalik: bertindak dulu, semangat menyusul. B.J. Fogg (2020), dalam Tiny Habits, menganjurkan memulai dari langkah yang sangat kecil agar terasa ringan dilakukan.
Sejarah para nabi menyimpan gambaran yang indah tentang hal ini. Ketika Hajar ditinggalkan bersama bayinya, Ismail, di lembah yang tandus, ia tidak duduk menunggu pertolongan.
Ia berlari dari bukit Shafa ke Marwa sebanyak tujuh kali mencari air, padahal tak tampak apa-apa di hadapannya. Setelah itu air Zamzam memancar (HR. Bukhari no. 3364). Perhatikan urutannya: air tidak muncul ketika ia menunggu, tetapi setelah ia bergerak. Hajar mencari sebelum jawabannya terlihat, dan langkah-langkahnya diabadikan hingga kini oleh jutaan orang yang berjalan di antara dua bukit itu.
"Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka" (QS. Ar-Ra'd: 11). Ayat ini bagai layar perahu.
Angin boleh saja berembus, tetapi ia tidak akan membawa perahu yang layarnya belum dibentangkan. Pertolongan Allah selalu ada, dan tugas kita adalah membentangkan layar.
Rasulullah saw juga memberi perumpamaan yang menyentuh. Beliau bersabda, "Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Dia memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung: ia pergi di pagi hari dalam keadaan lapar, dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang" (HR. At-Tirmidzi no. 2344, Ibnu Majah no. 4164).
Para ulama menjelaskan bahwa burung tidak duduk di sarangnya menunggu rezeki datang, melainkan berangkat di pagi hari dalam keadaan lapar untuk mencarinya. Tawakal yang sebenarnya adalah berangkat dengan perut kosong dan hati yakin, bukan menunggu dengan tangan terlipat.
Karena itu, memulai tidak perlu menunggu besar. Rasulullah saw bersabda, "Amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling terus-menerus, walaupun sedikit" (HR. Bukhari no. 6464 dan Muslim no. 783).
Satu halaman yang dibaca, satu kalimat yang ditulis, lima menit berjalan kaki, semuanya layak dimulai. Sejarah mencatat, Ibnu Sina menulis beberapa karyanya ketika ia dipenjara. Ia tidak menunggu keadaan tenang. Ia menulis di tempat ia berada.
Di era digital, kita punya cara baru untuk menunda. Kita menonton video motivasi berjam-jam, lalu merasa sudah bergerak, padahal belum melangkah sama sekali. Motivasi berubah menjadi tontonan, bukan tenaga.
Hendaknya dijauhi kebiasaan menunggu "suasana hati yang sempurna" yang tidak pernah tiba. Hendaknya dijauhi pula sikap sebaliknya, yaitu memaksa diri tanpa jeda sampai ambruk. Mulai dari yang kecil bukan berarti berhenti beristirahat. Ia berarti bergerak dengan ritme yang bisa kita jaga.
Allah memberi arah yang menenangkan, "Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertawakal" (QS. Ali 'Imran: 159). Bulatkan tekad, bergeraklah, lalu serahkan hasilnya. Kita tidak diminta menunggu yakin sepenuhnya.
Seperti senter di malam yang gelap, ia hanya menerangi beberapa langkah di depan, tetapi setiap langkah yang diambil membuka terang berikutnya. Jika hari ini hati kita masih enggan, tidak apa-apa.
Tidak ada yang meminta kita untuk bersemangat sebelum memulai. Cukup buka file itu dan tulis satu kalimat, lima menit saja. Semangat sering datang menyapa tanpa kita sadari, di langkah ketiga atau kelima atau kesepuluh, dan kita akan tersenyum karena ia ternyata tidak pernah pergi jauh. Jika tetap terasa berat, itu pun tidak mengapa.
Beristirahatlah sebentar, lalu coba lagi dengan langkah yang lebih kecil, karena ia akan menjadi jalan, dan jalan itu akan membawa kita ke tempat yang dulu hanya kita bayangkan.
Ya Allah, bukakanlah hati kami untuk memulai dengan ikhlas, meski langkah pertama terasa berat. Lindungilah kami dari kelemahan dan kemalasan, anugerahkanlah semangat sebagai hadiah bagi yang melangkah, dan tunjukkanlah kepada kami jalan-jalan-Mu yang terbaik. Kuatkan kami berikhtiar dengan sabar dan bertawakal sepenuhnya kepada-Mu. Amin. (*)