Oleh: Ahmad Jais / Dosen IAIN Pontianak, Kalimantan Barat
Founder & Master Trainer, Mind Healing Technique of Indonesia | [email protected] | www.mhtindonesia.com
“Perusahaan yang cerdas tidak berusaha menjual kepada semua orang; mereka menentukan pasar sasaran yang paling sesuai.” (Parafrasa pemikiran Philip Kotler, 2012)
Ada masa ketika kita ingin semua orang menyukai apa yang kita tawarkan. Kita membuka warung, menjual barang daring, memberi jasa, atau membagikan ilmu, lalu berharap semua yang lewat akan berhenti dan membeli. Ketika sepi, hati mulai bertanya, "Apa yang salah denganku?" Maka kita mengubah dagangan, menurunkan harga, menambah janji, dan menyesuaikan diri dengan setiap suara, sampai lelah dan lupa siapa yang sebenarnya ingin kita layani. Padahal, tidak semua orang membutuhkan apa yang kita tawarkan, dan itu bukan kegagalan. Itu kenyataan yang jujur.
Peter Drucker (1909-2005), perintis ilmu manajemen modern, menjelaskan bahwa tujuan pemasaran adalah mengenali pelanggan sedemikian dalam sehingga produk atau layanan cocok dengannya dan hampir menjual dirinya sendiri (Management: Tasks, Responsibilities, Practices, 1973). Kuncinya bukan menjangkau semua orang, melainkan memahami satu kelompok dengan sungguh-sungguh. Jika dipaksakan untuk semua, kita kehilangan arah, pesan menjadi kabur, dan energi habis di mana-mana. Hati pun ikut letih karena terus membandingkan diri dengan mereka yang terlihat lebih ramai.
Rasulullah saw memberi teladan yang indah dalam hal ini. Ketika beliau ditanya tentang amal yang paling utama atau paling dicintai Allah, jawabannya tidak selalu sama. Kepada Abdullah bin Mas'ud, beliau menyebut shalat pada waktunya, berbakti kepada kedua orang tua, lalu jihad di jalan Allah (HR. Bukhari no. 527 dan Muslim no. 85). Kepada Abu Dzar, beliau menyebut iman kepada Allah dan jihad di jalan-Nya (HR. Bukhari no. 2518 dan Muslim no. 84). Para ulama menjelaskan bahwa perbedaan jawaban itu mengikuti keadaan dan kebutuhan si penanya. Beliau mengenali siapa yang di hadapannya, lalu memberi apa yang paling dibutuhkan orang itu.
Al-Qur'an pun mengajarkan kepekaan untuk mengenali yang membutuhkan. Tentang orang-orang fakir yang menjaga kehormatan diri, Allah berfirman, "Orang yang tidak mengetahui menyangka mereka adalah orang kaya karena mereka menjaga diri dari meminta-minta. Engkau mengenal mereka dari ciri-cirinya; mereka tidak meminta secara mendesak kepada orang lain" (QS. Al-Baqarah: 273). Ayat ini bagai lentera kecil yang mengajak kita menatap lebih dalam. Pelayanan terbaik sering kali bukan kepada yang paling lantang memanggil, melainkan kepada yang paling membutuhkan namun diam.
Ada kisah bijak dari sahabat Abdurrahman bin Auf ra. Setelah hijrah ke Madinah tanpa membawa harta, ia dipersaudarakan dengan Sa'd bin Ar-Rabi', yang menawarkan membagi separuh hartanya. Abdurrahman menjawab dengan santun, "Semoga Allah memberkahi keluarga dan hartamu. Tunjukkan saja aku di mana pasarnya." Ia mulai berdagang dari yang kecil, dan tidak lama kemudian ia memperoleh keuntungan yang cukup untuk menikah (HR. Bukhari no. 2048 dan 3780). Ia tidak menjangkau semua pasar. Ia mencari tempat yang cocok dengan kemampuannya, lalu menekuninya dengan jujur.
Kejujuran itulah yang menjaga keberkahan. Rasulullah saw bersabda, "Dua orang yang berjual beli memiliki hak memilih selama belum berpisah. Jika keduanya jujur dan menjelaskan (keadaan barang), jual beli mereka diberkahi. Jika keduanya menyembunyikan dan berdusta, hilanglah keberkahan jual beli mereka" (HR. Bukhari no. 2079 dan Muslim no. 1532). Beliau juga bersabda, "Barangsiapa membantu kebutuhan saudaranya, Allah akan membantu kebutuhannya" (HR. Bukhari no. 2442 dan Muslim no. 2580). Melayani dengan jujur dan peduli adalah jalan keberkahan.
Di era media sosial, godaan semakin kuat. Kita melihat orang lain ramai pembeli dan pengikut, lalu tergoda melebih-lebihkan, menjanjikan hasil yang tidak pasti, atau menjatuhkan pesaing agar tampak unggul. Rasulullah saw mengingatkan, "Barangsiapa menipu, maka ia bukan dari golongan kami" (HR. Muslim no. 101). Hendaknya dijauhi pula sikap meremehkan mereka yang bukan "pasar" kita, sebab fokus bukan berarti menutup hati. Kita tetap menyapa semua dengan santun, karena "kata-kata yang baik adalah sedekah" (HR. Bukhari no. 2989 dan Muslim no. 1009).
Allah memberi arah yang menyejukkan, "Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu" (QS. Al-Qasas: 77). Maka melayani yang memang membutuhkan bukan soal menang dari siapa pun. Ini tentang menjadi sebab kebaikan bagi mereka yang Allah pertemukan dengan kita.
Seperti mata air di kaki bukit yang tidak berteriak memanggil orang lewat, ia tetap mengalir jernih di tempatnya, dan mereka yang haus akan menemukannya.
Kelak, bukan jumlah pembeli yang ditanyakan, melainkan kejujuran dan keikhlasan kita dalam melayani.Jika hari ini dagangan kita sepi atau karya kita belum banyak dilirik, itu bukan berarti kita tak berharga. Mungkin kita hanya belum bertemu dengan mereka yang memang membutuhkan. Tidak apa-apa. Rawatlah yang sudah ada, layani yang datang dengan hati yang lapang, dan percayalah bahwa kebaikan yang tulus pasti menemukan jalannya. Seperti kunci yang hanya cocok pada satu gembok, ia tidak gagal. Ia sedang menunggu pintunya, dan ketika pintu itu terbuka, kita akan tahu bahwa semua penantian ini tidak sia-sia.
Ya Allah, ajarilah kami melayani dengan jujur dan ikhlas. Pertemukanlah kami dengan mereka yang memang membutuhkan kebaikan yang Engkau titipkan melalui kami, jauhkan kami dari iri dan tipu daya, dan lapangkan hati kami ketika usaha belum berbuah. Cukupkanlah rezeki kami dengan cara yang Engkau ridhai. Amin. (*)