Opini post author Kiwi 16 Oktober 2026

Mudah Tersinggung dan Emosi Tidak Stabil

Photo of Mudah Tersinggung dan Emosi Tidak Stabil

Oleh: Ahmad Jais / Dosen IAIN Pontianak, Kalimantan Barat. Founder & Master Trainer, Mind Healing Technique of Indonesia | [email protected] | www.mhtindonesia.com

"Orang kuat bukanlah yang menang dalam bergulat, tetapi orang yang mampu menahan dirinya ketika marah." (HR. Bukhari no. 6114 dan Muslim no. 2609)

Pernahkah hal sepele tiba-tiba terasa seperti api yang disiram bensin? Nada bicara pasangan yang sedikit ketus, pesan yang dibaca tapi tak dibalas, anak yang menumpahkan segelas air, atau komentar teman yang sebenarnya hanya bercanda.
Dalam sekejap dada terasa panas, suara meninggi, dan kata-kata keluar sebelum sempat disaring. Beberapa menit kemudian datang penyesalan: "Kenapa aku jadi begini? Dulu aku tidak seperti ini." Kalau itu sering Anda alami, tenanglah. Itu tidak otomatis berarti Anda orang yang buruk.

Dalam psikologi, kondisi ini disebut iritabilitas, yaitu mudah kesal, mudah tersinggung, dan emosi naik-turun tanpa terkendali. Sering kali ia bukan watak, melainkan alarm bahwa tubuh dan hati sedang kewalahan.
Penyebabnya bisa kurang tidur, kelelahan, stres yang menumpuk, cemas berkepanjangan, perubahan hormon, atau beban pikiran yang tak pernah sempat diceritakan.

Penelitian neurosains Matthew Walker dan kawan-kawan (2007) menunjukkan bahwa setelah kurang tidur, bagian otak pengolah emosi (amigdala) menjadi jauh lebih reaktif.

Daniel Goleman (1995) menyebut fenomena ledakan yang tiba-tiba itu amygdala hijack: bagian otak yang bertugas mendeteksi bahaya bereaksi lebih cepat daripada bagian yang bertugas menimbang.
Kita meledak sebelum sempat berpikir. Jika dibiarkan, siklusnya melelahkan. Hubungan jadi renggang, orang terdekat mulai berhati-hati, kita merasa bersalah, makin lelah, lalu makin mudah meledak lagi.

Islam tidak meminta kita membuang rasa marah. Islam mengajarkan cara mengelolanya. Suatu hari seorang lelaki meminta wasiat kepada Rasulullah s
SAW.
Beliau menjawab, "Jangan marah," dan ketika lelaki itu mengulang permintaannya beberapa kali, jawabannya tetap sama (HR. Bukhari no. 6116). Maknanya bukan "jangan pernah merasakan marah", tetapi jangan biarkan marah menjadi sopir hidup kita. Allah memuji hamba-hamba yang "menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan" (QS. Ali 'Imran: 134).

Lihatlah bagaimana Nabi sendiri menghadapi orang yang menyulut emosi. Anas bin Malik ra bercerita bahwa seorang Arab badui menarik selendang beliau dengan sangat kasar, sampai bekasnya terlihat di leher Nabi, lalu menuntut harta dengan nada keras.
Rasulullah menoleh, tersenyum, dan memerintahkan agar ia diberi (HR. Bukhari no. 3149 dan Muslim no. 1057). Beliau tetap manusia yang merasakan sakit, tetapi memilih menjawab dengan kelapangan.

Sahabat Umar bin Khattab ra pun pernah di titik yang sama. Uyainah bin Hishn menegurnya dengan kata-kata kasar, dan Umar sangat murka hingga hampir memukulnya. Al-Hurr bin Qais mengingatkan sebuah ayat, "Jadilah engkau pemaaf, suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh" (QS. Al-A'raf: 199).
Umar langsung berhenti. Ibnu Abbas menuturkan bahwa Umar adalah orang yang sangat cepat berhenti ketika dibacakan Kitab Allah (HR. Bukhari no. 4642). Orang sekuat Umar pun butuh pengingat, dan kita boleh dibantu orang lain untuk berhenti.

Lalu apa yang bisa kita lakukan di tengah ledakan itu? Mulailah dari jeda. Rasulullah saw mengajarkan, "Apabila salah seorang di antara kalian marah dalam keadaan berdiri, hendaklah ia duduk. Jika belum hilang marahnya, hendaklah ia berbaring" (HR. Abu Dawud no. 4782).
Mengubah posisi tubuh memberi otak waktu untuk menyusul. Tambahkan kebiasaan sederhana: tidur yang cukup, makan teratur, mengambil napas pelan sebelum menjawab, dan bercerita kepada orang yang dipercaya.
Teknik Terapi Pikiran (Mind Healing) bisa menjadi ikhtiar pendamping: duduk nyaman, relakskan tubuh sambil mengucap dalam hati "Relaks... Tenang... Damai", lalu ucapkan, "Dengan izin Allah, hatiku tenang dan aku mampu menanggapi dengan lembut. Apa yang menjadi urusanku, aku serahkan sepenuhnya kepada-Nya."
Jika mudah tersinggung ini berlangsung lebih dari dua minggu, makin berat, disertai murung atau hilang minat, atau muncul dorongan menyakiti diri sendiri atau orang lain, segera praktikan teknik terapi PemBersihan Energi negatif (BEN) di masing-masing lapisan jiwa, terutama pada wilayah “Ego-Amarah-Keinginan” (E-A-K) bagi yang sudah mengikuti pelatihan MHT.

Hal terpenting yang juga perlu disadari, jauhi kebiasaan melampiaskan emosi lewat kata-kata kasar, apalagi lewat unggahan di media sosial yang jejaknya tinggal lama.
Jauhi pula kebiasaan menyalahkan orang terdekat atas hal yang sebenarnya berasal dari kelelahan Anda sendiri, dan hindari kalimat "memang begini wataknya". Watak bisa dilatih, dan hati bisa dilembutkan.

Seperti air keruh yang diaduk, ia tampak gelap dan penuh. Tetapi biarkan ia tenang sejenak, dan lumpurnya perlahan mengendap, lalu airnya jernih kembali. Kalau akhir-akhir ini Anda gampang kesal, mungkin Anda bukan marah pada mereka.
Mungkin Anda hanya lelah. Sumbu pendek hari ini bukan cap seumur hidup. Setiap kali Anda memilih diam sejenak, menarik napas dalam, atau mengucap maaf meski gengsi, Anda sedang menyembuhkan diri sedikit demi sedikit. Dengan izin Allah, hati yang dulu mudah meledak bisa belajar tenang, dan kelegaan itu akan terasa lebih dulu di dada Anda sendiri.

Ya Allah, lembutkanlah hati kami dan lapangkanlah dada kami. Kuatkan kami menahan amarah, mudahkan kami memaafkan, dan jauhkan kami dari kata-kata yang melukai.
Sembuhkan kelelahan batin kami, pertemukan kami dengan pertolongan terbaik-Mu, dan jadikan kami hamba yang tenang dalam menghadapi setiap ujian. Amin. (*)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda