PONTIANAK, SP – Pemerintah Kota Pontianak menyiapkan pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) dengan kapasitas pengolahan mencapai 200 hingga 300 ton per hari. Fasilitas ini diproyeksikan menjadi salah satu langkah strategis untuk menangani produksi sampah Kota Pontianak yang mencapai 450 hingga 500 ton setiap hari.
Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, mengatakan pembangunan TPST tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah kota memperkuat sistem pengelolaan sampah, mulai dari pengurangan sampah di sumber hingga pengolahan agar tidak seluruhnya berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA).
Rencana tersebut disampaikan Edi saat membuka puncak peringatan World Cleanup Day (WCD) 2026 di Taman Digulis Universitas Tanjungpura (Untan), belum lama ini.
“Ke depan, kita akan membangun pusat pengelolaan sampah terpadu yang kapasitasnya bisa mencapai 200 hingga 300 ton per hari,” ujarnya.
Dengan kapasitas tersebut, TPST diharapkan dapat membantu mengurangi beban pengelolaan sampah yang terus meningkat. Meski demikian, kapasitas rencana itu masih berada di bawah total produksi sampah harian Pontianak sehingga pengurangan sampah dari sumber dan penguatan sarana pengolahan lainnya tetap diperlukan.
Edi menjelaskan, komposisi sampah di Pontianak menjadi salah satu pertimbangan dalam menyiapkan sistem pengolahan terpadu. Sekitar 76 persen sampah kota merupakan sampah organik, sedangkan 17,3 persen berupa plastik.
Besarnya komposisi sampah organik membuka peluang pemanfaatan kembali, salah satunya melalui pengolahan menjadi pupuk. Karena itu, Pemkot Pontianak juga menjajaki kerja sama dengan PT Petrokimia Gresik untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk yang dapat digunakan bagi kebutuhan taman kota.
“Kita juga sudah menjajaki kerja sama dengan PT Petrokimia Gresik untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk yang bisa dimanfaatkan untuk taman-taman kota,” jelas Edi.
Kerja sama tersebut diharapkan dapat mendukung pemanfaatan sampah organik sehingga tidak hanya menjadi beban lingkungan, tetapi juga menghasilkan produk yang bermanfaat.
Edi menegaskan, pembangunan TPST harus diiringi perubahan kebiasaan masyarakat dalam mengelola sampah. Pemilahan sejak dari rumah menjadi langkah penting agar sampah organik, plastik, dan jenis sampah lainnya dapat ditangani sesuai karakteristiknya.
Menurutnya, masyarakat dapat berkontribusi melalui kebiasaan sederhana, seperti memilah sampah rumah tangga, memanfaatkan bank sampah mini di sekolah, serta membuang sampah sesuai jadwal dan ketentuan yang berlaku.
Ia mengingatkan agar peringatan World Cleanup Day tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi momentum untuk membangun kesadaran kolektif menjaga kebersihan lingkungan.
“Kegiatan WCD ini jangan hanya sekadar seremoni. Ini harus menjadi momentum untuk mengubah kebiasaan. Membuang sampah sembarangan tidak boleh lagi ada di Pontianak,” tegasnya.
Edi juga membuka ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan gagasan mengenai pengelolaan sampah. Menurutnya, keterlibatan warga diperlukan agar upaya pemerintah dalam menangani persoalan persampahan dapat berjalan lebih efektif.
“Kalau ada warga yang punya ide cemerlang soal sampah, silakan sampaikan langsung kepada saya. Saya sangat serius menangani ini,” katanya.
Puncak peringatan World Cleanup Day 2026 di Pontianak turut melibatkan sekitar 300 relawan dari berbagai kalangan. Koordinator Pelaksana WCD Pontianak 2026, Vivi Norvika, mengatakan kegiatan tersebut mengusung tema Aksi Bersih Pemuda-Pemudi Merdeka dari Sampah.
Para relawan yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, komunitas lingkungan, dan aparatur pemerintah melaksanakan aksi bersih-bersih di kawasan Jalan Daya Nasional serta menebar ekoenzim di Jalan Media.
Taman Digulis dan kawasan sekitarnya dipilih karena menjadi salah satu ruang aktivitas olahraga dan edukasi masyarakat.
Vivi menjelaskan, kegiatan tersebut juga mendorong penerapan gaya hidup minim sampah. Peserta diwajibkan membawa botol minum pribadi dan memilah sampah hasil kegiatan ke dalam tiga kategori, yakni organik, anorganik yang bernilai daur ulang, dan residu.
Sampah yang terkumpul kemudian ditimbang dan dicatat oleh Bank Sampah Rosela Purnama dan Bank Sampah Untan. Data tersebut selanjutnya dilaporkan kepada Kementerian Lingkungan Hidup sebagai bagian dari kontribusi Pontianak dalam pelaksanaan WCD tingkat nasional.
Melalui rencana pembangunan TPST berkapasitas hingga 300 ton per hari, penjajakan kerja sama pengolahan sampah organik, serta penguatan kebiasaan memilah sampah, Pemkot Pontianak berupaya membangun sistem pengelolaan persampahan yang lebih terpadu.
Dengan produksi sampah yang mencapai 450 hingga 500 ton setiap hari, pengembangan fasilitas pengolahan dan keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting untuk menekan jumlah sampah yang harus ditangani di TPA. (din)