Opini post author Kiwi 16 Oktober 2026

Menjelang 255 Tahun Kota Pontianak

Photo of Menjelang 255 Tahun Kota Pontianak

Oleh: Syafaruddin Daeng Usman

EVOLUSI fisik Kota Pontianak dimulai dari berdirinya Kesultanan Pontianak sebagai cikal bakal Kota Pontianak hingga kini. Perkembangan fisik Kota Pontianak berpusat pada wilayah delta (beting) persimpangan Sungai Kapuas dan Sungai Landak sebagai lokasi pusat pemerintahan Kesultanan.

Awal berdirinya Kota Pontianak tidak terlepas dari sejarah berdirinya Kesultanan Pontianak di lokasi delta persimpangan antara Sungai Kapuas dan Sungai Landak.

Berdirinya Kesultanan Pontianak diprakarsai oleh Syarif Abdurrahman Alkadrie yang berlayar untuk mencari tempat permukiman baru.

Pada tanggal 23 Oktober 1771 M, rombongan Abdurrahman Alkadrie berlabuh di tepian Sungai Kapuas dan membangun surau, yang kelak menjadi Masjid Jamik, dan mulai mempersiapkan permukiman di sebuah tempat yang menjorok ke darat sekitar 800 meter dari surau tersebut.

Permukiman inilah yang kemudian menjadi lokasi berdirinya Istana Kesultanan Pontianak sebagai pusat pemerintahan Kesultanan Pontianak.

Pada tahun 1778 M Abdurrahman Alkadrie secara resmi dinobatkan sebagai Sultan Pontianak dengan gelar Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie.

Keberadaan sungai menyebabkan perkembangan Kota Pontianak memiliki dinamika yang berbeda dengan kota-kota lain di Indonesia.

Perkembangan Kota Pontianak pada masa ini masih terbatas pada permukiman-permukiman di wilayah sekitar Masjid Jamik dan Istana Kesultanan Pontianak.

Permukiman kemudian berkembang sepanjang jalur Sungai Kapuas dan Sungai Landak sebagai satu-satunya jalur transportasi yang ada.

Kedatangan para pedagang dari luar Kalimantan dan Sumatera menyebabkan Sultan Pontianak menetapkan wilayah tersendiri bagi para pedagang untuk mendirikan permukiman.

Para pedagang mendirikan permukiman di sekitar Sungai Kapuas dan sepanjang Sungai Kapuas Kecil yang letaknya paralel sebelah timur Keraton Kadriah sebagai pusat kerajaan.

Di Kota Pontianak banyak dijumpai perkampungan pedagang yang sesuai nama daerah asalnya, seperti Kampung Bugis, Tambelan, Banjar, Serasan, Sampit, Bangka, Belitung, Kuantan, Kamboja, Saigon, dan Bansir.

Pada akhir tahun 1778 M, VOC mengutus Nicholas de Kloek ke Pontianak untuk merangkul Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie, tetapi usaha pertama ini gagal.

Selanjutnya, pada bulan Juli 1779 M, VOC mengirim Willem Adriaan Palm (Komisaris VOC) ke Pontianak. Dengan alasan mendirikan perwakilan dagang, VOC berhasil mendirikan kongsi dagang di wilayah Kesultanan Pontianak.

Keberadaan orang Belanda pada saat itu ditempatkan oleh Sultan Pontianak di seberang Keraton Pontianak yang terkenal dengan nama Tanah Seribu (Duizend Vierkanten Paal). Pada tanggal 5 Juli 1779, Belanda membuat perjanjian (Politiek Contract) dengan Sultan Pontianak tentang pendudukan Tanah Seribu untuk dijadikan tempat kegiatan bangsa Belanda.

Secara geografis kawasan Tanah Seribu dibatasi oleh dua buah anak sungai (Parit Sungai Jawi dan Sungai Besar) dan beberapa parit berada di dalam kawasan yang bermuara pada Sungai Kapuas.

Di sekitar tepian aliran parit ini muncul permukiman orang-orang yang datang dari pedalaman Kalimantan Barat.

Keberadaan bangsa Belanda pada wilayah seberang istana (Tanah Seribu) menyebabkan perubahan pusat orientasi kota yang dulunya terkonsentrasi di wilayah sekitar istana kesultanan sekarang mulai berkembang di kawasan seberang istana.

Pembangunan dan perkembangan permukiman pada kawasan seberang berpusat di Tanah Seribu dan kawasan sekitar parit-parit yang bermuara ke Sungai Kapuas.

Parit kemudian menjadi jalur pergerakan sekunder setelah Sungai Kapuas. Pihak kolonial Belanda mulai mendirikan kantor dan tangsi permanen, seiring dengan pernyataan kekuasaannya di Pontianak pada tahun 1818.

Kesultanan Pontianak mulai berkembang akibat jaringan perdagangan yang dilakukan oleh Sultan Pontianak beserta pihak kolonial.

Pontianak menjadi tempat persinggahan pedagang untuk mengangkut emas, lada, dan intan. Beberapa pedagang di antaranya dari Bugis, Melayu, dan Tionghoa telah bermukim di Pontianak.

Mereka menetap di daerah sepanjang tepian sungai dekat dengan pusat kesultanan dan berseberangan dengan benteng Belanda.

Beberapa permukiman Tionghoa bahkan tampak jelas berada di beberapa kawasan baik dalam aktivitas bertani ataupun berdagang.

Keberadaan komunitas Tionghoa dibutuhkan Syarif Abdurrahman Alkadrie untuk menghidupkan daerah menjadi kota perdagangan.

Selain itu juga terdapat pedagang-pedagang dari Arab yang kemudian melakukan perkawinan dengan penduduk setempat dan tinggal menetap. Beberapa mendapatkan kehormatan untuk menyandang gelar syarif atau syekh dan mempunyai pengaruh besar di kalangan raja-raja seperti Palembang, Banjarmasin, Cirebon, Siak, dan Pontianak.414 Pada awal tahun 1800-an, para pedagang asing telah menyetarakan Pontianak dengan kerajaan-kerajaan tua yang perannya sebagai kerajaan maritim telah terlacak sejak masa klasik, yaitu Brunei, Kutai, Passir, Banjarmasin, Matan, dan Sambas.

Perkembangan kawasan (kota) Kesultanan Pontianak pada masa ini sangat tergantung pada jalur dan pergerakan Sungai Kapuas sebagai gerbang masuk dari hilir ke hulu dan pergerakan antar kawasan baik dalam skala regional maupun lokal.

Dalam skala regional, Sungai Kapuas sebagai jalur transportasi memiliki peran dalam aksesibilitas dan distribusi komoditas perdagangan yang berpusat pada kawasan istana sebagai pusat pemerintahan.

Hal ini menyebabkan terbentuknya pola sosio spasial antar pedagang pada kawasan dermaga yang membentuk ruang komunal yang cenderung temporal.

Pada skala lokal, keberadaan Sungai Kapuas menjadi pusat pertumbuhan terhadap pembentukan pola massa yang terorientasi secara linier dan menyebar pada tepian sungai.

Selain sungai-sungai utama (Sungai Kapuas dan Sungai Landak), kondisi geografis Kota Pontianak dengan dataran rendah memiliki banyak parit atau saluran yang melintasi wilayah perkotaan hingga pedalaman.

Kota Pontianak juga dikenal sebagai kota seribu parit yang bermuara ke parit terbesar atau Parit Kampung.

Parit kampung dan kampung biasanya diberi nama berdasarkan nama tokoh masyarakat atau negeri dimana tokoh masyarakat yang membuka kampung itu berasal, misal Parit Kampung Yusuf Saigon, Parit Kampung Bugis, Parit Kampung Tambelan, Parit Kampung Sampit, Parit Kampung Mendawai, Parit Kampung Tok Kaya Campa, Parit Kampung Bangka, Parit Kampung Siam, Parit Kampung Banjar, Kampung Siantan dan Kampung Serasan.

Tokoh masyarakat tersebut adalah mereka yang ikut bahu-membahu dalam proses pembangunan Kota Pontianak. (*)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda