Oleh: Ahmad Jais / Dosen IAIN Pontianak, Kalimantan Barat. Founder & Master Trainer, Mind Healing Technique of Indonesia | [email protected] | www.mhtindonesia.com
"Dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang." (HR. Bukhari no. 6412).
Kita hidup di zaman ketika hampir semua terasa dekat. Belajar apa pun bisa lewat video di layar ponsel, belanja cukup satu sentuhan, bertemu orang di seberang pulau hanya butuh sinyal, dan kecerdasan buatan menjawab pertanyaan dalam hitungan detik. Dulu, orang harus menempuh jarak jauh dan menunggu lama demi sebuah ilmu atau kesempatan. Kini pintunya terbuka lebar.
Namun anehnya, banyak dari kita masih berdiri di depan pintu itu. "Nanti saja, belum siap." "Takut gagal." "Masih mau riset dulu." Lalu jari kembali menggulir layar, dan hari berlalu. Jika semuanya sudah semudah ini, mengapa langkah pertama masih terasa begitu berat?
Psikologi punya sebagian jawabannya. Barry Schwartz (2004), dalam The Paradox of Choice, menjelaskan bahwa terlalu banyak pilihan bisa membuat kita lelah dan tak kunjung memutuskan.
Piers Steel (2007), lewat kajian besar tentang penundaan, menemukan bahwa orang cenderung menunda ketika ragu pada kemampuan diri dan tergoda kesenangan yang datang cepat.
Di sisi lain, Teresa Amabile dan Steven Kramer (2011) menunjukkan bahwa kemajuan kecil yang nyata, sekecil apa pun, menumbuhkan semangat.
Pelajarannya sederhana: kemudahan membuka pintu, tetapi hanya langkah kecil kita yang membuat kita masuk. Jika dibiarkan, kebiasaan menunda perlahan menggerus kepercayaan diri dan membuat kita sekadar penonton hidup orang lain.
Rasulullah saw sudah mengingatkan jebakan ini empat belas abad lalu. Beliau menyebut waktu luang sebagai nikmat yang banyak orang tertipu padanya. Kemudahan ibarat hadiah yang kita buka dengan lupa bahwa ia hanya titipan.
Beliau juga mengajarkan nilai bekerja dengan tangan sendiri, "Tidaklah seseorang makan makanan yang lebih baik daripada makan dari hasil kerja tangannya sendiri, dan sesungguhnya Nabi Dawud 'alaihissalam makan dari hasil kerja tangannya sendiri" (HR. Bukhari no. 2072).
Allah pun menggambarkan kemudahan bumi sebagai undangan untuk bergerak. "Dialah yang menjadikan bumi untukmu mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya.
Dan hanya kepada-Nya kamu (kembali setelah) dibangkitkan" (QS. Al-Mulk: 15). Ayat ini bagai jalan yang telah diratakan sebelum kita berangkat. Allah sudah memudahkan jalannya, dan tugas kita adalah melangkah di atasnya.
Ada teladan yang menyentuh dari Nabi Nuh as. Ketika ia diperintahkan membuat kapal, belum ada setetes pun banjir di depan mata. Allah berfirman, "Dan buatlah kapal itu dengan pengawasan dan petunjuk Kami" (QS. Hud: 37). Nuh pun mulai bekerja, meski kaumnya mengejek setiap kali melewatinya (QS. Hud: 38).
Ia memulai sebelum hasilnya tampak, dan menekuninya meski ditertawakan. Memulai memang sering menuntut keberanian untuk percaya sebelum melihat.
Rasulullah saw bersabda, "Jika kiamat terjadi sementara di tangan salah seorang di antara kalian ada bibit kurma, dan ia mampu menanamnya sebelum kiamat itu berdiri, hendaklah ia menanamnya" (HR. Ahmad no. 12981 dan Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad no. 479).
Pesan hadis ini menyentuh: bahkan di saat paling genting, kebaikan tetap layak dimulai. Apalagi kita yang masih punya hari esok, kesehatan, dan waktu luang.
Di era digital, godaan terbesar kita bukan kekurangan kesempatan, tetapi terlalu banyak menonton dan terlalu sedikit memulai. Berhati-hatilah dengan kebiasaan "nanti saja" yang membuat hari-hari berlalu tanpa jejak. Hendaknya dijauhi pula dua kesalahan yang berlawanan.
Pertama, membandingkan diri dengan mereka yang tampak melesat, padahal tidak semua orang memiliki akses, modal, dan keadaan yang sama. Kedua, tergiur janji hasil instan atau cara-cara yang tidak jujur demi cepat sampai.
Kemudahan bukan jaminan keberhasilan, dan keberhasilan sejati tetap datang dari Allah. Rasulullah saw bahkan mengajarkan doa, "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kecemasan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan..." (HR. Bukhari no. 6369). Doa ini mengakui bahwa rasa berat untuk mulai adalah hal manusiawi, dan kita boleh memohon pertolongan.
Allah memberi arah yang tenang bagi hati yang ragu, "Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertawakal" (QS. Ali 'Imran: 159).
Urutannya jelas: bulatkan tekad, lakukan, lalu serahkan hasilnya kepada Allah. Kita tidak perlu menunggu yakin seratus persen. Cukup satu langkah kecil yang jujur.
Tanah sesubur apa pun tetap butuh tangan yang menanam. Begitu juga kemudahan zaman ini, ia baru berarti ketika ada yang mau memulai. Kelak, yang ditanyakan bukan seberapa banyak kemudahan yang sempat kita nikmati, tetapi bagaimana kita menggunakan waktu luang dan kesehatan yang Allah titipkan.
Jika hari ini kita masih ragu, tidak apa-apa. Tidak ada yang salah dengan hati yang berdebar sebelum melangkah. Mulailah dari yang paling kecil: satu halaman yang dibaca, satu pesan yang dikirim, satu pelajaran yang dicoba, satu pintu yang diketuk.
Tidak perlu menunggu siap sepenuhnya, karena banyak langkah baru menemukan jalannya setelah kita berjalan. Pelan-pelan, dengan izin Allah, langkah kecil itu akan memanggil langkah berikutnya.
Dan suatu hari nanti, kita akan menoleh ke belakang dan tersenyum, mengetahui bahwa yang mengubah segalanya bukanlah kemudahan zaman, melainkan keberanian untuk mulai.
Ya Allah, lindungilah kami dari kelemahan dan kemalasan yang menahan langkah. Bulatkanlah tekad kami, mudahkanlah ikhtiar kami, dan jadikan setiap waktu luang yang Engkau titipkan sebagai jalan kebaikan. Teguhkan hati kami untuk memulai dengan ikhlas, dan bertawakal sepenuhnya kepada-Mu. Amin. (*)