Oleh Syamsul Kurniawan (Dosen di Pascasarjana IAIN Pontianak)
Barangkali kita sedang menyaksikan sebuah ironi dalam sejarah pendidikan. Anak-anak muda memiliki lebih banyak jalan untuk mengetahui dunia, tetapi tidak selalu memiliki cukup waktu untuk mengenali dirinya sendiri. Mereka terhubung dengan begitu banyak orang, tetapi kadang merasa asing terhadap kehidupan di sekelilingnya.
Dalam satu genggaman, mereka dapat menjangkau pengetahuan, percakapan, hiburan, bahkan kecerdasan buatan. Namun, di tengah kelimpahan itu, ada sesuatu yang mungkin perlahan terdesak: kemampuan untuk berhenti, berpikir, dan bertanya ke mana sebenarnya hidup hendak diarahkan. Teknologi menyediakan banyak kemungkinan. Tetapi kemungkinan, sebagaimana kita tahu, belum tentu sama dengan tujuan.
Kita menyebut mereka Generasi Z. Sebutan yang tampaknya sederhana, seakan-akan manusia dapat dipahami hanya dari tahun kelahirannya. Padahal, generasi tidak pernah lahir dalam ruang yang kosong. Mereka tumbuh dalam susunan kehidupan yang telah disiapkan oleh kekuatan-kekuatan di luar dirinya.
Ada sekolah yang menentukan apa yang harus dipelajari, keluarga yang mewariskan harapan, pasar yang menciptakan keinginan, dan media digital yang tanpa henti menawarkan gambaran tentang bagaimana seseorang seharusnya hidup. Dalam pertemuan berbagai kekuatan itulah karakter dibentuk, dipertanyakan, bahkan kadang dipertaruhkan. Karena itu, membicarakan Generasi Z sebenarnya juga berarti membicarakan ruang sosial yang membentuk mereka.
Henri Lefebvre, filsuf dan sosiolog Prancis, pernah mengingatkan sesuatu yang penting melalui La Production de l'espace (1974), yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai The Production of Space (1991).
Ruang, menurutnya, bukan sekadar tempat yang tersedia begitu saja. Ia diproduksi. Ia lahir dari hubungan sosial, kepentingan ekonomi, praktik keseharian, dan kekuasaan yang bekerja di dalamnya.
Sebuah ruang kelas, misalnya, bukan hanya empat dinding, meja, dan kursi. Ia juga memuat aturan tentang siapa yang boleh berbicara, pengetahuan apa yang dianggap penting, dan bagaimana seseorang belajar menjadi dirinya. Ruang, dengan demikian, tidak pernah sepenuhnya netral.
Pemikiran Lefebvre itu terasa semakin relevan ketika kehidupan manusia berpindah, atau setidaknya meluas, ke dalam ruang digital. Di sana, ruang tidak dibatasi tembok, tetapi oleh jaringan, algoritma, dan kepentingan yang sering tidak terlihat.
Sebuah unggahan dapat menentukan percakapan. Sebuah komentar dapat membangun atau merusak reputasi. Sebuah tren dapat mengubah cara seseorang memandang tubuh, keberhasilan, pergaulan, dan harga dirinya.
Tidak semua perubahan itu buruk. Namun, persoalan muncul ketika anak-anak muda menjadi penghuni sebuah ruang tanpa cukup memahami siapa yang merancangnya, kepentingan apa yang menggerakkannya, dan bagaimana ruang tersebut diam-diam memengaruhi pilihan hidup mereka.
Lefebvre menyebut salah satu dimensi produksi ruang sebagai spatial practice, yakni ruang sebagaimana dijalani melalui aktivitas keseharian. Kita dapat melihatnya pada kehidupan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
Pagi hari mereka memasuki kelas, mengikuti praktik keterampilan, mengerjakan tugas, dan berinteraksi dengan guru serta teman sebaya. Tetapi kehidupan mereka tidak berhenti di gerbang sekolah.
Telepon pintar terus menghubungkan mereka dengan percakapan kelompok, permainan daring, video pendek, dan berbagai kehidupan yang ditampilkan di layar. Ruang pendidikan dan ruang digital telah saling memasuki. Bahkan, ketika seorang siswa duduk di hadapan gurunya, perhatiannya mungkin sedang berada di tempat lain.
Perhatian, rupanya, telah menjadi sesuatu yang diperebutkan. Dalam ekonomi digital, waktu yang dihabiskan seseorang di depan layar dapat diterjemahkan menjadi keuntungan. Semakin lama pengguna bertahan, semakin besar peluang untuk menampilkan iklan, mengumpulkan data perilaku, dan memengaruhi keputusan konsumsi.
Tidak mengherankan apabila banyak platform dirancang agar orang terus kembali. Sebuah tinjauan sistematis tentang distraksi digital dalam pendidikan yang terbit pada 2025 menunjukkan bahwa gangguan konsentrasi berkaitan dengan faktor teknologi, kebutuhan personal, dan lingkungan pembelajaran. Artinya, persoalan distraksi tidak cukup dijelaskan sebagai kelemahan disiplin individu. Ada lingkungan yang ikut menghasilkan dan memelihara gangguan tersebut.
Di sinilah kita perlu lebih berhati-hati ketika menilai Generasi Z. Terlalu mudah menyebut mereka kurang fokus, tidak sabar, atau lebih menyukai hiburan daripada pelajaran. Penilaian semacam itu mungkin memuat sebagian pengalaman yang kita saksikan, tetapi mengabaikan kenyataan bahwa mereka hidup dalam sistem yang memang berlomba merebut perhatian.
UNESCO telah mengingatkan bahwa perkembangan teknologi pendidikan di Asia Tenggara juga disertai persoalan distraksi, pengalaman daring yang meresahkan, dan perlindungan peserta didik. Tantangannya bukan semata-mata membuat remaja menjauh dari layar, melainkan membantu mereka memahami hubungan antara teknologi, kebebasan, dan tanggung jawab.
Lalu ada dimensi kedua dalam pemikiran Lefebvre: representations of space, ruang yang dikonsepsikan. Dalam kehidupan sekolah, dimensi ini dapat ditemukan pada kurikulum, kebijakan pendidikan, rancangan pembelajaran, hingga ukuran keberhasilan yang ditentukan oleh lembaga.
Untuk siswa SMK, ruang pendidikan sering disusun dengan orientasi yang kuat pada kompetensi kerja. Mereka belajar mengoperasikan alat, memahami prosedur, menguasai teknologi, dan memenuhi kebutuhan dunia industri.
Semua itu penting. Tetapi sebuah pertanyaan patut diajukan: cukupkah pendidikan menghasilkan tenaga kerja yang terampil, apabila belum disertai kemampuan untuk bersikap jujur, mengelola emosi, menghormati sesama, dan mempertanggungjawabkan keputusan?
Pertanyaan itu bukan penolakan terhadap pendidikan vokasional. Justru sebaliknya. Dunia kerja membutuhkan manusia, bukan hanya keterampilan. Seorang teknisi yang cakap tetap membutuhkan integritas.
Seorang pekerja kreatif yang menguasai kecerdasan buatan tetap harus memahami batas etis pemanfaatannya. Seorang wirausahawan muda tidak cukup memiliki keberanian mengambil peluang apabila kehilangan kepekaan terhadap orang lain.
Dalam kehidupan yang semakin kompleks, kecakapan profesional dan kedewasaan karakter semestinya saling menguatkan. Kita tentu tidak ingin sekolah hanya menjadi tempat menghasilkan manusia yang siap bekerja, tetapi kurang siap menghadapi dirinya sendiri.
Persoalannya, pendidikan karakter sering berlangsung di ruang yang terlalu sempit. Ia hadir sebagai nasihat, poster yang ditempelkan pada dinding, atau kalimat indah yang diulang dalam upacara. Kejujuran disebut sebagai kebajikan, tetapi peserta didik jarang diajak menghadapi dilema yang menguji kejujuran.
Empati diajarkan sebagai konsep, tetapi belum tentu diterjemahkan menjadi pengalaman mendengarkan seseorang yang berbeda. Pengendalian diri dianjurkan, tetapi tidak selalu dilatih ketika emosi benar-benar muncul. Kita seakan berharap karakter tumbuh hanya karena sebuah nilai telah diucapkan. Padahal, antara mengetahui kebaikan dan berani melakukannya, terbentang jarak yang tidak selalu pendek.
Di titik ini, dimensi ketiga Lefebvre, representational spaces atau ruang yang dihidupi, memberikan kemungkinan lain. Ruang bukan hanya sesuatu yang digunakan atau dirancang dari atas. Ia juga dialami, dirasakan, ditafsirkan, dan diberi makna oleh manusia yang hidup di dalamnya.
Seorang siswa bukan semata-mata penerima kurikulum atau pengguna teknologi. Ia memiliki pengalaman, kecemasan, cita-cita, dan kemampuan untuk menafsirkan dunia.
Ketika pendidikan membuka kesempatan baginya untuk berbicara, berefleksi, bekerja sama, bahkan mempertanyakan suatu kebiasaan, ruang belajar mulai memperoleh makna yang berbeda. Ia bukan lagi semata tempat menerima pengetahuan, tetapi tempat seseorang menemukan kemungkinan untuk berubah.
Barangkali di sinilah Pengabdian kepada Masyarakat perlu menemukan kembali orientasinya. Perguruan tinggi selama ini kerap hadir di tengah masyarakat melalui seminar, penyuluhan, atau pelatihan yang selesai dalam hitungan jam.
Kegiatan demikian tentu dapat bermanfaat. Tetapi manfaatnya perlu dipertanyakan apabila masyarakat hanya ditempatkan sebagai penerima pengetahuan, sementara perguruan tinggi merasa telah menyelesaikan kewajibannya setelah materi disampaikan dan dokumentasi dikumpulkan. Pengabdian semestinya lebih dari peristiwa administratif. Ia membutuhkan kesediaan untuk mendengarkan, memahami kehidupan yang nyata, dan membangun ruang tempat pengetahuan akademik bertemu dengan pengalaman masyarakat.
Dibutuhkan Compass
Dari kegelisahan itulah saya menggagas COMPASS, sebuah ikhtiar untuk memperkuat karakter generasi muda Muslim, khususnya siswa SMK, melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat berbasis Karya Tulis Ilmiah Pascasarjana IAIN Pontianak.
Gagasan ini akan memperoleh ruang perjumpaan pertamanya dengan kenyataan di SMK Pancasila, pada 26 Oktober 2026. Dalam pelaksanaannya, saya akan didampingi oleh empat fasilitator dari mahasiswa Magister Pendidikan Agama Islam Pascasarjana IAIN Pontianak, yakni Dewi Purnama Sari, Nabilatun Nafilah, Wardatul Himmah Asy’ari, dan Yasmin Salmah.
Kami hendak menguji sebuah keyakinan sederhana: bahwa karakter tidak cukup dibentuk melalui nasihat, tetapi membutuhkan ruang untuk mengalami, merefleksikan, dan menemukan makna. Nama COMPASS pun tidak dipilih tanpa alasan. Ada sesuatu yang menarik dari sebuah kompas.
Ia tidak menjanjikan perjalanan tanpa rintangan. Ia tak mampu menyingkirkan hutan, meredakan badai, atau memperpendek jarak menuju tujuan. Ia hanya menunjukkan arah. Selebihnya, manusia sendirilah yang harus menentukan langkah, menghadapi kemungkinan tersesat, dan bertanggung jawab atas jalan yang dipilihnya. Barangkali pendidikan karakter pun semestinya demikian.
Ia tidak hadir untuk mengatur setiap keputusan peserta didik, apalagi merampas kebebasan mereka dalam menentukan masa depan. Sebaliknya, ia perlu menghadirkan ruang tempat mereka dapat mengenali diri, mempertanyakan pilihan, dan menemukan arah moral di tengah dunia yang semakin riuh oleh berbagai pengaruh. Sebab, pada akhirnya, yang dibutuhkan generasi muda bukanlah seseorang yang terus-menerus menunjukkan jalan, melainkan kesadaran yang memungkinkan mereka tetap mengenali arah, bahkan ketika tak seorang pun lagi berdiri di samping mereka untuk menuntun.
Ada tujuh gagasan karakter yang dirangkum dalam nama COMPASS. Huruf C mengajak peserta Cerdas Mengenali Diri. O berarti Otentik dan Berintegritas. M menunjuk pada kemampuan Mandiri Mengelola Emosi. P mengingatkan pentingnya menjadi pribadi yang Peduli dan Kolaboratif. A berarti Adaptif di Era Digital.
Dua huruf S mengandung ajakan untuk Santun dalam Pergaulan dan Siap Jadi Inspirasi. Ketujuhnya tidak disusun sebagai kumpulan slogan yang perlu dihafalkan. Ia lebih tepat dipahami sebagai arah pengembangan diri yang saling berhubungan. Sebab, kemampuan mengenali diri akan kehilangan makna tanpa integritas, sebagaimana kecakapan digital dapat menjadi berbahaya apabila tidak disertai kepedulian dan tanggung jawab.
Dalam kerangka produksi ruang Lefebvre (1991), COMPASS saya bayangkan sebagai usaha kecil untuk menghadirkan ruang pendidikan yang berbeda. Pada tingkat praktik spasial, ia mengubah pengalaman belajar dari mendengarkan secara pasif menjadi mengalami dan berinteraksi.
Pada tingkat representasi ruang, ia menawarkan rancangan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian materi, tetapi juga proses pembentukan karakter. Sementara pada tingkat ruang yang dihidupi, ia berusaha memberi tempat bagi pengalaman personal peserta, termasuk ketakutan, keraguan, kegagalan, serta harapan mereka. Ketiga dimensi ini tidak berdiri sendiri. Sebuah perubahan dalam cara belajar dapat membuka perubahan dalam cara peserta memaknai dirinya dan lingkungan sosialnya.
Karena itu, COMPASS menggunakan pendekatan experiential character learning, pembelajaran karakter berbasis pengalaman. Prosesnya bergerak melalui empat tahapan: Experience, Reflect, Learn, dan Act. Peserta lebih dahulu mengalami suatu situasi melalui permainan, simulasi, atau tantangan kelompok.
Mereka kemudian diajak merefleksikan apa yang terjadi, termasuk perasaan dan keputusan yang muncul. Pengalaman itu selanjutnya dimaknai dengan menghubungkannya pada nilai-nilai karakter dan ajaran Islam. Pada akhirnya, peserta menyusun langkah nyata untuk mempraktikkan apa yang telah dipelajari. Nilai tidak sekadar diumumkan sebagai sebuah kebenaran. Ia diusahakan agar menjadi pengalaman yang dapat dipahami dari dalam.
Bayangkan sekelompok siswa mengikuti sebuah permainan yang mengharuskan mereka mengambil keputusan bersama. Ada yang ingin menang dengan cepat, ada yang merasa tidak didengarkan, dan mungkin ada pula yang tergoda melanggar kesepakatan. Fasilitator tidak perlu segera menghakimi.
Ia dapat bertanya: mengapa keputusan itu diambil? Apa yang dirasakan ketika pendapat seseorang diabaikan? Mengapa kemenangan terkadang dianggap lebih penting daripada kejujuran? Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu dapat membuka percakapan yang tidak selalu muncul dalam ceramah. Dari pengalaman kecil, peserta diajak mengenali persoalan moral yang sebenarnya juga hadir dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Bagi generasi muda Muslim, proses memaknai pengalaman tersebut perlu memiliki akar etik yang jelas. Islam memberikan tempat penting bagi kejujuran, amanah, pengendalian diri, penghormatan terhadap sesama, dan tanggung jawab sosial.
Namun, nilai-nilai keislaman tidak seharusnya hanya tampil sebagai rangkaian perintah yang menunggu kepatuhan. Ia juga dapat dihadirkan sebagai sumber kesadaran yang mengajak manusia berpikir tentang akibat tindakannya. Mengapa seseorang perlu menjaga perkataan ketika marah?
Mengapa kehormatan orang lain harus dilindungi sekalipun kita tidak menyukainya? Mengapa pengetahuan harus digunakan secara bertanggung jawab? Pertanyaan demikian memungkinkan pendidikan akhlak bergerak dari sekadar mengetahui ketentuan menuju penghayatan atas maknanya.
Hal ini menjadi penting ketika siswa memasuki ruang digital, sebuah ruang tempat identitas dapat dengan mudah dipertunjukkan dan penilaian sosial datang begitu cepat. Seseorang mungkin menerima puluhan apresiasi atas sebuah unggahan, tetapi merasa terluka oleh satu komentar yang merendahkan.
Ada kalanya keberanian menyampaikan pendapat berubah menjadi kebiasaan menyerang. Ada pula kecenderungan mengukur nilai diri melalui perhatian yang diperoleh dari orang lain. Tentu tidak seluruh pengalaman digital demikian.
Di sana juga tumbuh solidaritas, kreativitas, dan kesempatan belajar. Justru karena ruang digital mengandung kemungkinan yang bertentangan, siswa membutuhkan kemampuan membedakan antara ekspresi dan penghinaan, antara keberanian dan kecerobohan, antara kebebasan dan tanggung jawab.
Kecerdasan buatan menambahkan persoalan baru. Seorang siswa kini dapat menghasilkan tulisan, gambar, rancangan, atau jawaban dalam waktu yang sebelumnya sulit dibayangkan. Teknologi ini membuka kesempatan besar, terutama bagi pendidikan kejuruan yang bersentuhan langsung dengan perubahan industri.
Tetapi ia juga mengundang pertanyaan tentang keaslian karya, ketekunan belajar, kejujuran akademik, dan kemampuan menilai kebenaran informasi. Kita tidak dapat menyelesaikan persoalan itu hanya dengan melarang atau membiarkan teknologi digunakan tanpa pendampingan.
Dalam COMPASS, sikap adaptif di era digital berarti kemampuan memanfaatkan teknologi sembari tetap memahami konsekuensi moral dari setiap penggunaannya.
Yang hendak diubah melalui pendidikan karakter, dengan demikian, bukan semata-mata perilaku individual, melainkan juga hubungan seseorang dengan ruang tempat ia hidup. Seorang siswa yang belajar mengendalikan emosi diharapkan tidak hanya menjadi lebih tenang ketika menghadapi konflik di kelas. Ia juga dapat membawa kebiasaan tersebut ke dalam percakapan daring.
Peserta yang belajar mendengarkan pendapat temannya mungkin mulai menyadari bahwa perbedaan tidak harus berakhir dengan permusuhan. Mereka yang belajar mengenali kelebihan dan keterbatasan diri mungkin tidak lagi terlalu mudah mengukur harga dirinya dari kehidupan orang lain di media sosial. Perubahan-perubahan ini mungkin tampak kecil. Tetapi ruang sosial sering berubah justru melalui kebiasaan yang mula-mula tidak dianggap penting.
Di sini pula gagasan Lefebvre mengenai ruang sebagai arena kontestasi memperoleh arti pendidikan. Ruang digital memang dibentuk oleh kepentingan ekonomi dan teknologi yang jauh lebih besar daripada kemampuan seorang siswa untuk mengendalikannya.
Namun, hal itu tidak berarti pengguna sama sekali kehilangan kemungkinan untuk bertindak. Mereka masih dapat memilih cara berkomunikasi, memeriksa kebenaran informasi, menolak perundungan, menciptakan karya yang berguna, serta membangun lingkungan pergaulan yang lebih sehat.
Pendidikan karakter seharusnya menumbuhkan kapasitas untuk mengambil bagian dalam pembentukan ruang tersebut. Bukan hanya mengajarkan cara bertahan dari pengaruhnya, tetapi juga keberanian mengisinya dengan praktik sosial yang lebih manusiawi.
Tentu kita tidak boleh terlalu cepat berharap bahwa sebuah pelatihan dapat mengubah karakter seseorang dalam satu pertemuan. Karakter bukan bangunan yang selesai didirikan setelah sebuah kegiatan ditutup.
Ia lebih menyerupai perjalanan panjang yang memerlukan latihan, keteladanan, pengulangan, dan lingkungan yang mendukung. Karena itu, COMPASS juga menempatkan komitmen tindakan sebagai bagian dari proses belajar, termasuk ajakan agar peserta memilih satu perubahan karakter yang realistis untuk dipraktikkan selama tujuh hari setelah pelatihan.
Langkah kecil ini tidak dapat dianggap sebagai bukti perubahan yang permanen. Tetapi setidaknya ia memberi kemungkinan agar pengalaman belajar tidak segera berakhir ketika peserta meninggalkan ruang kegiatan.
Pengabdian kepada Masyarakat, dalam pengertian demikian, seyogianya tidak berhenti pada hubungan sesaat antara kampus dan sekolah. Kegiatan seperti COMPASS perlu membuka peluang bagi guru, pendamping, keluarga, dan peserta didik untuk melanjutkan pembelajaran melalui praktik keseharian.
Perguruan tinggi pun perlu bersedia mengevaluasi pendekatannya, termasuk mendengarkan pengalaman peserta setelah pelatihan berlangsung. Di sinilah pengabdian dapat menjadi proses timbal balik.
Akademisi tidak selalu datang dengan jawaban yang telah selesai, sedangkan masyarakat tidak selalu berada dalam posisi kekurangan pengetahuan. Keduanya dapat saling belajar. Barangkali inilah salah satu cara menjadikan kampus bukan sekadar penghasil gagasan, tetapi juga bagian dari usaha bersama untuk menciptakan ruang sosial yang lebih baik.
Pada akhirnya, persoalan yang dihadapi Generasi Z bukan hanya tentang berapa lama mereka menatap layar, melainkan tentang manusia seperti apa yang sedang tumbuh di balik layar itu. Kita dapat membangun sekolah yang semakin canggih, menyediakan jaringan yang semakin cepat, dan memperkenalkan kecerdasan buatan yang semakin pintar.
Tetapi semua kemajuan itu tidak dengan sendirinya menunjukkan arah yang patut ditempuh. Melalui COMPASS, saya ingin mengajukan sebuah kemungkinan sederhana: pendidikan dan pengabdian dapat menjadi ruang tempat generasi muda belajar menemukan arah tanpa kehilangan kebebasannya.
Sebab, kompas tidak pernah menjalani perjalanan bagi pemiliknya. Ia hanya menunjuk. Dan barangkali tugas terbaik pendidikan bukan menentukan seluruh jalan yang harus dilalui anak-anak muda, melainkan membantu mereka memiliki keberanian, kesadaran, dan tanggung jawab ketika memilih jalan itu sendiri.***