Ponticity post author Kiwi 23 Agustus 2026

Refleksi Tahun ke-8, FRKP West Borneo Vespa Lovers: Dari Hobi, Tumbuh Menjadi Gerakan Persaudaraan dan Kemanusiaan

Photo of Refleksi Tahun ke-8, FRKP West Borneo Vespa Lovers: Dari Hobi, Tumbuh Menjadi Gerakan Persaudaraan dan Kemanusiaan

PONTIANAK, SP - Bagi sebagian orang, Vespa mungkin hanyalah sebuah kendaraan tua dengan suara mesin yang khas. Namun bagi FRKP West Borneo Vespa Lovers, Vespa telah menjelma menjadi lebih dari sekadar kendaraan dan hobi.

Dari atas jok skuter, tumbuh persaudaraan, kepedulian lingkungan, kegiatan kemanusiaan, hingga semangat memperkenalkan potensi daerah dan mempererat hubungan antarsesama scooterist lintas daerah bahkan lintas negara.

Komunitas yang berada di bawah naungan Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak (FRKP) tersebut resmi dibentuk dan dideklarasikan pada 23 Februari 2019, sekitar pukul 13.00 WIB.

Ada cerita menarik di balik kelahirannya. Bukan di sebuah gedung atau kafe, komunitas ini justru dideklarasikan di kebun milik Dr. H. Hatta Jurli, M.Si., di Sungai Bemban, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya.

Sejumlah pencinta Vespa dari Pontianak dan daerah lain hadir dalam momentum tersebut, termasuk perwakilan komunitas Vespa dari Kubu Raya, Sanggau dan Sintang. Dari pertemuan itulah lahir sebuah wadah bernama FRKP West Borneo Vespa Lovers Club.

Dr. H. Hatta Jurli, M.Si., kemudian dipercaya sebagai ketua pertama komunitas tersebut. Sementara jajaran dewan penasihat diisi Michael Jeno, Bruder Stephanus Paiman OFMCap., Gou Bun Kwang atau Ahwei, dan Lim Aseng. Chasriardi AL Yardi dipercaya sebagai wakil ketua, Renee Fransiskus Winarno sebagai sekretaris, dan Binsar Sibarani sebagai bendahara.

Bagi para pendirinya, pembentukan klub bukan sekadar untuk mengumpulkan orang-orang yang memiliki hobi sama. Lebih dari itu, komunitas diharapkan menjadi wadah persaudaraan sekaligus ruang untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Komunitas ini diharapkan dapat menjadi contoh masyarakat untuk berlalu lintas yang santun dan taat aturan. Kita ingin teman-teman Vespa dapat menjadi contoh positif bagi masyarakat, khususnya di Kalbar,” ungkap Hatta Jurli saat deklarasi.

Pesan tersebut sejak awal menjadi salah satu karakter komunitas. Menjadi scooterist tidak berarti bebas dari aturan.

Justru dari jalan raya, mereka ingin menunjukkan bahwa kecintaan terhadap Vespa dapat berjalan seiring dengan tertib berlalu lintas, kesantunan, kepedulian sosial dan kecintaan terhadap daerah.

Berawal dari Obrolan Para Penggemar Vespa

Dewan Penasehat FRKP West Borneo Vespa Lovers, Bruder Stephanus Paiman OFMCap., mengisahkan bahwa gagasan membentuk klub bermula dari percakapan sederhana sejumlah penghobi Vespa.

Saat itu, Bruder Steph bersama sejumlah kawan, di antaranya Anton SJS, Renee, Ahuai, Yardi, Andre, Aseng dan Binsar, berbincang mengenai perlunya sebuah klub yang memiliki identitas dan legalitas yang jelas.

“Awalnya hanya omongan sesama penghobi Vespa. Kami berpikir bagaimana membentuk klub yang legal, mempunyai badan hukum, dan kemudian pembicaraan itu kami tindaklanjuti,” kenangnya.

Gagasan tersebut kemudian semakin kuat ketika mereka mendapat undangan dari Club Vespa Serian, Sarawak, Malaysia. Untuk memenuhi undangan tersebut, diperlukan sebuah klub dengan bendera dan lambang yang resmi.

Waktu yang tersedia relatif singkat. Namun semangat persaudaraan membuat proses pembentukan kepengurusan dapat diwujudkan hingga akhirnya lahirlah FRKP West Borneo Vespa Lovers.

Tidak lama setelah deklarasi, sebanyak 12 Vespa dari Pontianak berangkat mengikuti Serian International Bike Week 2019 di Sarawak, Malaysia. Rombongan berangkat pada 28 Februari dan kembali ke Pontianak pada 5 Maret 2019.

Perjalanan tersebut menjadi salah satu awal terbentuknya jejaring persaudaraan scooterist FRKP West Borneo Vespa Lovers dengan komunitas Vespa di luar Kalimantan Barat.

Secara de fakto atau kenyataanya, pendirian FRKP West Borneo Vespa Lovers memang pada 28 Februari 2019, namun atas kesepakatan kawan-kawan anggota semua, perayaannye dijadikan satu dengan Ultah Bruder Steph, sebagai pendiri dan penasehat utama, yaitu pada 28 September setiap tahunnya.

Tahun ke-2, dari Jalan Raya Menuju Kegiatan Sosial

Sejak awal berdiri, karakter FRKP West Borneo Vespa Lovers tidak hanya terlihat dari kegiatan touring dan berkendara. Semangat kemanusiaan yang melekat pada FRKP ikut menjadi ruh komunitas tersebut.

Memasuki usia kedua pada 2020, komunitas ini menunjukkan bahwa perayaan ulang tahun tidak harus diisi dengan pesta. HUT ke-2 pada 24 September 2020 justru dirangkai dengan kegiatan yang menyentuh persoalan lingkungan.

Kegiatan diawali dengan penanaman pohon di Rumah Pelangi. Setelah itu dilanjutkan seminar bertema “Pengurangan Penggunaan Plastik sebagai Salah Satu Bentuk Peduli Lingkungan” di Rumah Retret St. Fransiskus Tirta Ria, Jalan Adisucipto, Kubu Raya.

Seminar menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain RP Prof. Dr. William Chang OFMCap., RP Dr. Mayong Andreas Acin OFMCap., Hendrikus Adam dari Walhi Kalbar, dan Dr. Adrianus Asia Sidot, M.Si., yang ketika itu merupakan anggota DPR RI.

Kegiatan tersebut juga dihadiri berbagai komunitas otomotif dan Vespa, termasuk IMI Kalbar, Arteri Garage, Scooter Freedom, Borneo Scooter Adventure, Ladies Scoot, Vespa Suks Suka, Generasi Scooter Liar, Motor Besar Club, King Ratle Club serta mahasiswa Poltekkes.

Setelah seminar, peserta turun langsung ke lapangan dengan membagikan masker dan kantong kertas di kawasan Bundaran Tugu Digulis Universitas Tanjungpura. Sebuah pesan sederhana hendak disampaikan: kepedulian lingkungan tidak cukup hanya dibicarakan, tetapi harus dilakukan.

Ketua IMI Provinsi Kalbar saat itu, Yuliansyah, mengapresiasi langkah FRKP West Borneo Vespa Lovers tersebut.

“Persoalan lingkungan hidup tidak bisa disepelekan karena menyangkut masa depan kita dan anak-anak kita. Limbah plastik adalah masalah besar. Kalau tidak diantisipasi dengan arif dan bijak, bisa berbahaya,” ujarnya.

Bagi Binsar Sibarani, yang ketika itu menjabat Ketua FRKP West Borneo Vespa Lovers, kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa komunitas Vespa mampu menghadirkan kegiatan yang berbobot.

“Luar biasa giat kita ini. Dihadiri langsung oleh Ketua IMI Pengprov Kalbar dan dapat menghadirkan narasumber yang sangat berbobot sesuai kapasitas keilmuannya,” katanya.

Kesan serupa disampaikan Hera Balado dari Ladies Scoot. Menurutnya, kegiatan tersebut sekaligus mematahkan anggapan bahwa komunitas Vespa hanya identik dengan hura-hura dan berkendara di jalanan. “Di sinilah kelebihan budak Vespa. Bise masuk dalam pelbagai hal,” ujarnya.

Usia Ketiga, Posko Purnama Menjadi Rumah Persaudaraan

Memasuki 2021, FRKP West Borneo Vespa Lovers semakin memperkuat keberadaan komunitasnya. Posko yang berada di Jalan Purnama 9, Pontianak Selatan, menjadi salah satu titik berkumpul sekaligus rumah persaudaraan para scooterist.

Posko tersebut tidak hanya menjadi tempat berkumpul anggota. Para pengembara Vespa dari berbagai daerah juga singgah di sana.

Salah satunya Ari, seorang petualang Vespa asal Tidore yang pada Maret 2021 menjadikan posko tersebut sebagai titik singgah dalam perjalanan keliling Indonesia.

Pada tahun yang sama, anggota komunitas juga aktif dalam silaturahmi klub otomotif Kalimantan Barat dalam rangka memperingati HUT Ikatan Motor Indonesia. Semangat yang dibangun sejak awal semakin terlihat, Vespa menjadi kendaraan, tetapi persaudaraan adalah tujuan.

HUT Ke-4: Persaudaraan Menembus Batas Negara

Tahun 2022 menjadi salah satu periode penting dalam perjalanan FRKP West Borneo Vespa Lovers. HUT ke-4 dirangkaikan dengan ulang tahun ke-60 Bruder Stephanus Paiman OFMCap., tokoh kemanusiaan Kalbar sekaligus salah satu penasihat dan penggerak komunitas.

Kegiatan sosial kembali menjadi warna utama.
FRKP West Borneo Vespa Lovers berkolaborasi dengan Kelab Motor Samarahan, Sarawak, Malaysia, dalam kegiatan berbagi kasih dan bakti sosial di Singkawang.

Kerja sama tersebut menunjukkan bahwa persaudaraan scooterist tidak mengenal batas negara. Jalan raya yang mempertemukan para penggemar Vespa dari Kalimantan Barat dan Sarawak kemudian berkembang menjadi kerja sama nyata untuk membantu masyarakat.

Pada tahun yang sama, komunitas juga ikut memeriahkan kegiatan Sumpah Pemuda dengan penancapan 2.022 bendera Merah Putih di Jagoi Babang, Bengkayang, wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia.

Bagi FRKP West Borneo Vespa Lovers, kegiatan tersebut memiliki makna tersendiri. Touring tidak hanya berarti perjalanan dari satu kota ke kota lain, tetapi juga perjalanan untuk mengenal wilayah, masyarakat dan nilai kebangsaan.

HUT Ke-5, Persaudaraan dan Kemanusiaan Tetap Terjaga

Memasuki 2023, tidak banyak catatan publik mengenai perayaan internal HUT ke-5. Namun aktivitas komunitas tidak berhenti.

FRKP West Borneo Vespa Lovers tetap aktif menjalin hubungan dengan komunitas scooterist di berbagai daerah dan negara tetangga. Salah satunya melalui keikutsertaan dalam Respect The Brotherhood di Simunjan, Sarawak, Malaysia, pada September 2023.
Hubungan dengan komunitas Vespa di Kuching dan berbagai daerah lainnya terus dirawat.
Pada titik ini, identitas FRKP West Borneo Vespa Lovers semakin jelas. Mereka tidak hanya ingin dikenal sebagai klub Vespa dari Pontianak, tetapi sebagai bagian dari jaringan persaudaraan scooterist yang membawa semangat kemanusiaan.

HUT Ke-6: dari Purnama, Persaudaraan Terus Menyala
Pada Sabtu, 28 September 2024, FRKP West Borneo Vespa Lovers merayakan HUT ke-6 di Sekretariat FRKP, Jalan Purnama, Gang Purnama 9, Pontianak.
Perayaan tersebut kembali dirangkai dengan ulang tahun Bruder Stephanus Paiman OFMCap. yang saat itu memasuki usia ke-63.
Rangkaian kegiatan diawali misa pada pukul 18.30 WIB dan dilanjutkan acara puncak pada pukul 20.00 WIB. Sejumlah tokoh dan tamu undangan hadir, termasuk Jakius Sinyor yang ketika itu merupakan calon Wakil Gubernur Kalimantan Barat.
Perayaan tersebut menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan enam tahun komunitas: dari sebuah obrolan kecil para penghobi Vespa menjadi sebuah komunitas yang memiliki jaringan persaudaraan dan aktivitas sosial.

Memasuki Usia Ke-7 dan Terus Bergerak

Pada 2025, FRKP West Borneo Vespa Lovers memasuki usia ketujuh. Meski publikasi mengenai perayaan internal HUT ke-7 tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya, aktivitas komunitas tetap bergerak melalui kegiatan sosial, silaturahmi antarscooterist dan perjalanan persaudaraan.

Komunitas tetap menjadi bagian dari jaringan pencinta Vespa lintas daerah dan lintas negara, dengan hubungan yang terjalin hingga Sarawak, Sabah dan Brunei.

Di tengah perjalanan tersebut, posko di Jalan Purnama tetap menjadi salah satu titik pertemuan dan persinggahan para scooterist.

Baksos Jelang Tahun ke-8

Salah satu hal yang paling menonjol dari perjalanan FRKP West Borneo Vespa Lovers adalah konsistensinya memasukkan kegiatan sosial ke dalam aktivitas komunitas.

Kegiatan bakti sosial dilakukan dalam berbagai bentuk, mulai dari berbagi sembako kepada keluarga sederhana, membantu warga yang membutuhkan, mengunjungi anggota komunitas yang sedang sakit, hingga kegiatan sosial lintas daerah dan lintas negara.

Semangat tersebut kembali terlihat dalam kegiatan sosial komunitas pada 2026. Dalam rangkaian kegiatan sosial dan semangat kemerdekaan, anggota komunitas menyambangi scooterist yang sedang sakit di Kabupaten Landak dan mengikuti kegiatan kebangsaan.

Pada kesempatan lain, FRKP West Borneo Vespa Lovers juga mengawali rangkaian HUT dengan bakti sosial kepada lima keluarga sederhana di Sungai Rengas, Kabupaten Kubu Raya.

Bantuan berupa beras, mi instan, minyak goreng, gula, kopi dan uang tunai diserahkan kepada keluarga penerima.

Kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa bagi komunitas ini, perayaan ulang tahun bukan semata-mata tentang bertambahnya usia organisasi. Ada kesadaran bahwa semakin bertambah usia, semakin besar pula tanggung jawab sosial yang dapat dilakukan.

Bukan Sekadar “Budak Vespa”: Wajah Kemanusiaan yang Tak Pernah Hilang

Perjalanan FRKP West Borneo Vespa Lovers sejak 2019 memberikan gambaran menarik tentang bagaimana sebuah komunitas hobi dapat berkembang menjadi ruang persaudaraan sekaligus gerakan sosial.

Mereka berkendara, tetapi juga berbagi.

Mereka touring, tetapi juga mengenal masyarakat dan wilayah yang mereka lewati. Mereka menghadiri pertemuan scooterist, tetapi sekaligus membangun jembatan persaudaraan lintas daerah dan negara.

Mereka merayakan ulang tahun, tetapi memilih memasukkan kegiatan lingkungan dan kemanusiaan ke dalamnya.

Mereka memiliki Vespa, tetapi tidak ingin berhenti pada identitas sebagai pemilik kendaraan tua yang unik. Bagi Bruder Stephanus Paiman OFMCap., semangat itulah yang sejak awal ingin dibangun.

Vespa menjadi alat untuk bertemu. Jalan raya menjadi ruang untuk bersaudara. Dan persaudaraan kemudian menemukan bentuk paling nyata ketika diwujudkan dalam kepedulian kepada sesama.

Kini, FRKP West Borneo Vespa Lovers telah melewati perjalanan panjang sejak dideklarasikan pada Februari 2019. Dari kebun di Sungai Bemban, Sungai Kakap, hingga posko di Jalan Purnama; dari perjalanan menuju Sarawak hingga berbagai sudut Kalimantan Barat; dari kegiatan lingkungan hingga bakti sosial kepada masyarakat kecil.

Semua itu menjadi bagian dari satu cerita besar. Cerita tentang bagaimana sebuah hobi dapat melahirkan persaudaraan, dan bagaimana persaudaraan dapat tumbuh menjadi kepedulian.

Karena pada akhirnya, ukuran sebuah komunitas bukan hanya berapa banyak anggotanya, berapa jauh perjalanan yang ditempuh, atau berapa banyak Vespa yang berjajar dalam sebuah acara.

Ukuran sesungguhnya adalah seberapa besar keberadaannya memberi arti bagi orang lain.

Dan selama mesin Vespa masih menyala, selama roda masih berputar, serta selama hati masih terbuka untuk berbagi, perjalanan FRKP West Borneo Vespa Lovers tampaknya belum akan berhenti.

Dari Vespa untuk persaudaraan. Dari persaudaraan untuk kemanusiaan. Dari jalan raya untuk Indonesia yang lebih peduli.

Tamu dari Italia: Hilario Sang Penjelajah Dunia

Kisah menarik lainnya, datang dari seroang Italiano, yang menjelajah dunia,. Dia adalah Hilario, yang menemukan persaudaraan di Sekretariat FRKP West Borneo Vespa Lovers.

Perjalanan panjang seorang petouring asal Italia, Marino Hilario, membawa kisah unik ketika ia singgah di Kota Pontianak, Kalbar.

Dengan Vespa yang setia menemaninya menjelajahi berbagai negara, Hilario tidak sekadar mencari tempat baru untuk dikunjungi, tetapi juga menemukan persaudaraan dari komunitas pecinta Vespa di tanah Borneo.

Selama berada di Pontianak, Hilario menghabiskan waktu selama delapan hari dnegan bermalam di Sekretariat Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak (FRKP) West Borneo Vespa Lovers.

Kehadirannya disambut hangat oleh para anggota komunitas yang menjadikan sekretariat di Jalan Purnama sebagai rumah bersama bagi para pecinta Vespa dan relawan kemanusiaan.

Yang menarik, Hilario tidak memilih hotel atau penginapan. Ia justru mendirikan tenda di ruang tamu sekretariat. Pilihan tersebut bukan tanpa alasan. Ia ingin tetap dekat dengan Vespa yang telah menjadi teman setia dalam perjalanan panjangnya mengelilingi dunia.

Bagi Hilario, Vespa bukan sekadar kendaraan. Kendaraan asal Italia itu telah menjadi bagian penting dalam kehidupannya, sekaligus menjadi sarana yang membawanya bertemu dengan banyak orang dari berbagai negara dan latar belakang.

Perjalanan Hilario menjadi gambaran bahwa dunia touring tidak semata-mata tentang jarak dan destinasi. Di balik ribuan kilometer yang ditempuh, ada cerita tentang persahabatan, budaya, keramahan, hingga persaudaraan yang tumbuh di setiap tempat yang disinggahi.

Kedatangannya di Pontianak pun mempertemukan dua hal yang memiliki ikatan kuat, yakni kecintaan terhadap Vespa dan semangat persaudaraan lintas batas.

Penasehat FRKP WB Vespa Lovers, Bruder Stephanus Paiman OFMCap, mengaku terkesan dengan sosok Hilario. Menurutnya, kesederhanaan dan keteguhan Hilario dalam menjalani perjalanan menjadi sesuatu yang menarik untuk disimak.

“Awalnya saya pikir dia akan memilih kamar untuk beristirahat. Ternyata dia lebih nyaman mendirikan tenda di ruang tamu. Setelah berbincang panjang, saya memahami bahwa ikatan antara dirinya dan Vespa itu memang luar biasa. Dia ingin selalu dekat dengan kendaraannya yang telah menemaninya mengelilingi dunia,” ujar Bruder Stephanus.

Bagi Bruder Stephanus, kisah Hilario bukan sekadar cerita perjalanan seorang wisatawan dari luar negeri. Kehadirannya justru memperlihatkan bahwa persaudaraan dapat terjalin tanpa mengenal batas negara, bahasa maupun budaya.

“Vespa ternyata bukan hanya kendaraan. Ia menjadi jembatan yang mempertemukan orang-orang dari berbagai penjuru dunia. Ketika Marino datang ke sini, kami merasa seperti menerima saudara lama yang baru pulang dari perjalanan panjang,” ungkapnya.

Selama delapan hari berada di sekretariat FRKP WB Vespa Lovers, Hilario pun merasakan suasana kekeluargaan yang kuat. Para anggota komunitas datang silih berganti, berbincang, berbagi cerita perjalanan, hingga membantu berbagai kebutuhan selama ia berada di Pontianak.

Bagi komunitas FRKP WB Vespa Lovers, kedatangan Hilario menjadi pengalaman tersendiri. Sosok petouring asal Italia tersebut tidak hanya membawa cerita tentang perjalanan dunia, tetapi juga meninggalkan pesan bahwa sebuah kendaraan sederhana seperti Vespa mampu menjadi jembatan persahabatan antarbangsa.

Perjalanan Hilario masih panjang. Setelah Pontianak, ia akan kembali melanjutkan petualangannya dengan Vespa yang telah menemaninya melintasi berbagai wilayah dunia.

Sementara bagi keluarga besar FRKP WB Vespa Lovers, delapan hari kebersamaan bersama sang petouring dari Italia itu akan menjadi kenangan yang sulit dilupakan.

Sebuah Vespa, seorang pengelana, dan sebuah sekretariat sederhana di Pontianak telah mempertemukan mereka dalam satu cerita, persaudaraan yang lahir dari perjalanan dan tidak mengenal batas negara. (*)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda