PONTIANAK, SP - Pengurus Besar Asosiasi Bola Tangan Indonesia (PB ABTI) menggelar Musyawarah Nasional (Munas) di Grand Mahkota Hotel, Pontianak, Sabtu (25/7/2026). Forum tertinggi organisasi ini menjadi ajang evaluasi program kerja sekaligus penyusunan arah pengembangan bola tangan Indonesia menuju level yang lebih kompetitif di kancah internasional.
Munas dihadiri pengurus ABTI dari berbagai provinsi di Indonesia. Hadir pula Pelaksana Tugas Asisten Deputi Sentra Pembinaan Olahragawan Muda Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) Usman Ali Mustofa, Ketua Bidang Pembinaan Hukum KONI Pusat Widodo Sigit Pudjianto, Komite Eksekutif Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Harry Warga Negara, unsur Forkopimda Kalimantan Barat, serta sejumlah tamu undangan lainnya.
Munas secara resmi dibuka oleh Plt Asdep Sentra Pembinaan Olahragawan Muda Kemenpora, Usman Ali Mustofa.
Dalam sambutannya, Usman menjelaskan pemerintah saat ini tengah melakukan revisi terhadap Peraturan Presiden mengenai Desain Besar Olahraga Nasional (DBON). Ia mengakui cabang olahraga bola tangan belum masuk dalam daftar 21 cabang olahraga prioritas nasional.
Meski demikian, menurutnya peluang tersebut masih terbuka apabila prestasi bola tangan Indonesia terus meningkat di tingkat internasional.
“Sekarang sedang dilakukan revisi Perpres DBON yang mencantumkan skala prioritas cabang olahraga. Memang bola tangan belum termasuk di dalam 21 cabang prioritas, tetapi tidak menutup kemungkinan nanti akan disesuaikan dengan capaian prestasi yang telah diraih oleh bola tangan,” ujarnya.
Ia menegaskan, jika ingin memperoleh perhatian yang lebih besar dari pemerintah pusat, maka bola tangan harus mampu membuktikan kualitasnya melalui prestasi di level Asia Tenggara, Asia, hingga dunia.
“Kalau bola tangan ingin mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah, maka harus lebih meningkatkan capaian prestasi pada level Asia Tenggara, Asia maupun dunia. Saat ini posisi kita sudah cukup baik di Asia Tenggara, tetapi ke depan harus diperbaiki lagi untuk level Asia dan dunia,” katanya.
Sementara itu, Ketua Umum PB ABTI Zulfydar Zaidar Mochtar mengatakan Munas menjadi momentum untuk mengevaluasi berbagai program yang telah dijalankan selama masa kepengurusan sekaligus menyusun strategi pengembangan organisasi ke depan.
Menurutnya, perkembangan bola tangan Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren yang positif dengan sejumlah capaian membanggakan di berbagai ajang internasional.
“Munas ini tentu mengevaluasi apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan. Saya kira apa yang dilakukan bola tangan saat ini jauh lebih baik dari sebelumnya,” ujarnya.
Ia memaparkan, tim bola tangan pantai putri Indonesia berhasil meraih gelar juara di tingkat Asia Tenggara dan mencatat prestasi di level Asia. Sementara tim putra mampu mengalahkan sejumlah negara seperti Hong Kong, China, dan Kuwait. Adapun tim putri juga pernah meraih peringkat ketiga Kejuaraan Asia.
Pada ajang SEA Games terakhir, lanjut Zulfydar, tim putra berhasil mempersembahkan medali perunggu, sebuah capaian yang dinilai menjadi tonggak penting dalam sejarah perkembangan bola tangan Indonesia.
“Target kami tidak hanya Asia Tenggara, tetapi juga Asia. Untuk bola tangan pantai kita sudah mampu berprestasi di Asia. Sekarang bagaimana bola tangan indoor juga bisa meningkat, karena kami sudah mengikuti berbagai kejuaraan Asia maupun dunia,” katanya.
Menurut Zulfydar, berbagai prestasi tersebut menjadi modal penting untuk membawa bola tangan Indonesia semakin diperhitungkan di tingkat internasional sekaligus memperkuat peluang cabang olahraga ini masuk dalam program prioritas pembinaan nasional.
Melalui Munas di Pontianak, PB ABTI berharap lahir berbagai rekomendasi strategis untuk memperkuat organisasi, meningkatkan pembinaan atlet sejak usia dini, memperluas kompetisi nasional, serta mendorong prestasi yang lebih tinggi agar bola tangan Indonesia mampu bersaing secara konsisten di level Asia hingga dunia.(din)