PONTIANAK, SP - Pengujung Juni yang cerah berbalut senja merah di Kota Pontianak, menjadi panggung bagi ratusan pecinta roda dua yang berkumpul dalam satu semangat, yaitu persaudaraan.
Minggu pagi, 28 Juni 2026, kawasan Museum Kalimantan Barat (Kalbar), yang biasanya tenang mendadak dipenuhi deretan kendaraan dengan berbagai karakter.
Ada motor gede (moge) yang gagah, motor-motor modifikasi dengan sentuhan kreativitas tanpa batas, hingga Vespa klasik yang tetap memesona meski dimakan usia.
Mereka datang bukan untuk balapan, bukan pula untuk menunjukkan siapa yang paling cepat. Mereka hadir dalam sebuah kegiatan bertajuk Brotherhood, sebuah rolling city yang mengedepankan kebersamaan para pencinta roda dua.
Satu per satu mesin dinyalakan. Suara knalpot berpadu menjadi simfoni khas komunitas motor.
Setelah pelepasan dari Museum Kalbar, rombongan bergerak menyusuri jalan-jalan kota menuju titik persinggahan pertama di Pasar Kapuas Indah sebelum melanjutkan perjalanan ke Cafe Asiang di Jalan Ahmad Yani II.
Di antara ratusan peserta, tampak pula anggota Forum Relawan Kalimantan Barat (FRKP) West Borneo (WB) Vespa Lovers yang tidak ingin melewatkan momen tersebut.
Bagi mereka, kegiatan semacam ini bukan sekadar berkendara bersama, tetapi juga merawat persahabatan yang telah terjalin bertahun-tahun.
Di barisan Vespa itu, sosok Bruder Stephanus Paiman OFMCap terlihat memimpin rekan-rekannya. Sebagai sesepuh pencinta motor tua, ia menikmati setiap kilometer perjalanan yang dilalui bersama komunitas lintas jenis kendaraan tersebut.
“Lumayan, menghilangkan kekangenan untuk gas sedikit. Dari kegiatan ini kita dapat melihat antusias para pencinta roda dua dalam rolling city bersama. Hal seperti ini patut kita dan pemerintah kota dukung. Peserta juga tertib karena melibatkan pihak Polres Pontianak,” ujar sesepuh motor tua yang dikenal sebagai biarawan murah senyum tersebut.
Apa yang disampaikan Bruder Paiman menggambarkan suasana yang terasa sepanjang kegiatan. Tidak ada sekat antara pemilik moge, motor modifikasi, maupun Vespa tua. Semua melebur dalam satu irama perjalanan.
Di setiap lampu lalu lintas, para peserta tetap menjaga ketertiban. Pengawalan dari aparat kepolisian membantu memastikan rombongan bergerak aman tanpa mengganggu aktivitas masyarakat. Banyak warga yang berdiri di pinggir jalan melambaikan tangan atau sekadar mengabadikan iring-iringan kendaraan yang melintas.
Bagi sebagian orang, motor hanyalah alat transportasi. Namun bagi mereka yang hadir pagi itu, motor adalah jembatan persaudaraan.
Kendaraan yang berbeda merek, usia, bahkan nilai ekonominya, tidak menjadi penghalang untuk saling menyapa dan berbagi cerita.
Ketika rombongan akhirnya tiba di Cafe Asiang, perjalanan belum benar-benar berakhir.
Di meja-meja kopi itulah obrolan mengalir lebih panjang. Kisah perjalanan, pengalaman memodifikasi kendaraan, hingga rencana kegiatan berikutnya menjadi bahan percakapan yang mempererat hubungan antaranggota komunitas.
“Sekali lagi, Brotherhood pagi itu membuktikan satu hal sederhana. Di balik deru mesin dan aroma bensin, ada semangat kebersamaan yang terus hidup.
Dan selama semangat itu tetap menyala, jalan-jalan Kota Pontianak akan selalu memiliki ruang bagi persaudaraan yang lahir dari kecintaan terhadap roda dua,” papar sang Tokoh Kemanusiaan Kalbar dengan ciri khas plontos bertato. (*)