Ponticity post author Kiwi 27 Juni 2026

Ketika Petani Madura dan Tionghoa Menjaga Pangan Pontianak

Photo of Ketika Petani Madura dan Tionghoa Menjaga Pangan Pontianak MENYIANGI GULMA - Koh Atet dan istri menyiangi gulma di sela-sela tanaman Bengkoang yang menjadi salah satu harapan kehidupan bagi mereka di Poktan Karya Pratama.suara pemred/aep mulyanto

PONTIANAK, SP - Pagi masih basah oleh embun ketika aktivitas para petanui mulai bergeliat di hamparan kebun hijau Jalan Kebangkitan Nasional, Kelurahan Siantan Hilir, Kecamatan Pontianak Utara.

Di tengah laju pembangunan Kota Pontianak, sekitar 15 hektare lahan pertanian di Siantan Hilir masih bertahan. Di lahan inilah petani Madura dan Tionghoa bekerja berdampingan.

Mereka menanam berbagai komoditas dengan pola tumpang sari yang telah dijalankan turun-temurun, memasok sayuran segar sekaligus menjaga denyut pangan kota.

“Hampir setiap hari hasil panen kami masuk ke pasar dan lingkungan warga. Syukur sampai sekarang masih banyak pelanggan yang mencari sayuran dari sini,” kata Ketua Poktan Karya Pratama, Hamdani Kohir.

Bagi mereka, kebun bukan sekadar tempat mencari nafkah. Lahan itu juga menjadi ruang kebersamaan yang mempertemukan berbagai latar belakang dalam satu tujuan yang sama, yakni menghasilkan pangan bagi masyarakat.

“Di kebun ini kami sama-sama petani. Yang dipikirkan bagaimana tanaman tumbuh baik dan hasil panen bisa dijual. Kalau ada pekerjaan yang berat biasanya kami kerjakan bersama-sama,” ujar Hamdani.

Kebersamaan itulah yang menjadi kekuatan Poktan Karya Pratama selama bertahun-tahun. Perbedaan suku dan latar belakang tak pernah menjadi persoalan.

Saat saluran air perlu diperbaiki, mereka bergotong royong. Ketika musim panen tiba, mereka saling membantu agar hasil kebun segera sampai ke tangan pembeli.

Selain menjaga persaudaraan, para petani juga berupaya mempertahankan lahan yang tersisa dari tekanan pembangunan perkotaan.

Mereka menyadari bahwa kebun tersebut bukan hanya sumber penghidupan bagi puluhan keluarga, tetapi juga bagian penting dari rantai pasokan pangan Kota Pontianak.

“Lahan ini penting karena menjadi sumber nafkah banyak keluarga dan memasok kebutuhan sayuran masyarakat,” kata Hamdani.

Pola tumpang sari yang mereka terapkan membuat lahan tetap produktif sepanjang tahun. Ketika harga satu komoditas turun, petani masih memiliki sumber pendapatan dari tanaman lainnya. Karena itu pola tanam tersebut terus dipertahankan hingga sekarang.

Di sela hamparan kangkung, bayam, dan sawi, tumbuh daun bawang, bengkuang, keladi, cabai, terong, timun, singkong, hingga aneka rempah seperti jahe, kunyit, lengkuas, dan kencur.

Salah seorang yang merasakan manfaat pola tersebut adalah Koh Atet. Bersama anggota Poktan Karya Pratama lainnya, ia mengelola lahan seluas sekitar 8.823 meter persegi.

Hampir setiap sudut lahannya ditanami berbagai jenis tanaman yang saling melengkapi.

Saat bergabung pada 2015, usaha taninya masih berjalan dengan modal terbatas. Bibit disiapkan sendiri dan jenis tanaman yang dibudidayakan belum sebanyak sekarang.

Pendapatannya kala itu berkisar Rp4 juta hingga Rp5 juta per bulan.
Perubahan mulai dirasakan setelah ia memperoleh Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI sebesar Rp40 juta pada 2020.

“Dengan KUR kami bisa menambah modal untuk membeli kebutuhan produksi. Sangat membantu karena prosesnya mudah dan cicilannya ringan,” katanya.

Tambahan modal tersebut membuka peluang memperluas usaha tani. Selain sayuran, Koh Atet kini menanam kacang panjang, kacang tolo, kacang hijau, kacang tanah, tomat, cabai, serta berbagai tanaman rempah. Di sela-selanya tumbuh pepaya, buah naga, singkong, ubi jalar, pisang, dan jagung.

“Penghasilan rata-rata sekarang bisa mencapai Rp8 juta sampai Rp10 juta per bulan, meski tetap bergantung musim karena tanaman sayur sangat membutuhkan air,” ujarnya.

KUR juga membantu kelompok tani membangun sarana penampungan air melalui pembelian toren sehingga kebutuhan air saat musim kemarau dapat lebih terjaga.

Meski usaha mereka berkembang, tantangan tidak pernah benar-benar hilang. Cuaca yang semakin sulit diprediksi, fluktuasi harga hasil panen, hingga biaya produksi yang terus meningkat menjadi persoalan yang harus dihadapi setiap musim tanam.

Sebagian petani mulai memanfaatkan pupuk organik untuk menekan biaya produksi. Namun, bagi petani hortikultura, ketersediaan pupuk bersubsidi masih menjadi kebutuhan penting yang mereka harapkan mendapat perhatian lebih.

“Kami berharap pupuk subsidi tetap tersedia dan mudah diperoleh saat musim tanam. Kalau pupuk sulit didapat, biaya produksi tentu semakin besar,” kata Koh Atet.

Keberadaan kebun di Siantan Hilir tidak hanya menjadi tumpuan hidup para petani. Masyarakat juga merasakan langsung manfaat hasil panen yang setiap hari dipasarkan ke berbagai sudut Kota Pontianak.

Nuraini, warga Pontianak Utara, mengaku sudah lama membeli sayuran yang berasal dari kawasan tersebut.

“Biasanya masih segar karena baru dipanen. Daunnya bagus dan tahan lebih lama,” ujarnya.
Menurut Nuraini, keberadaan lahan pertanian di tengah kota perlu dipertahankan agar masyarakat tetap mudah memperoleh sayuran segar dengan harga yang terjangkau.

Namun menjaga keberlangsungan pertanian perkotaan tidak cukup hanya mengandalkan kerja keras petani. Di balik hamparan hijau yang setiap hari menghasilkan sayuran untuk masyarakat, terdapat kebutuhan modal usaha yang terus menyertai setiap musim tanam.

Biaya pembelian benih, pupuk, perawatan tanaman, hingga penyediaan sarana pendukung membutuhkan dana yang tidak sedikit.

Karena itu, akses permodalan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan keberlanjutan usaha para petani. Di sinilah peran perbankan mulai hadir mendampingi mereka.

Mantri BRI Unit Siantan, Andi Prasetyo, mengatakan sektor pertanian masih menjadi salah satu sektor yang cukup banyak memanfaatkan fasilitas Kredit Usaha Rakyat.

“KUR hadir untuk membantu petani memperoleh akses permodalan yang lebih mudah sehingga mereka dapat meningkatkan produktivitas dan mengembangkan usahanya,” katanya.

Menurut Andi, kebutuhan masyarakat terhadap komoditas hortikultura relatif stabil sehingga sektor ini memiliki prospek yang baik apabila didukung permodalan yang memadai.

Dukungan terhadap para petani juga datang dari pemerintah daerah. Di tengah laju pembangunan yang terus bergerak, keberadaan lahan pertanian di kawasan perkotaan dipandang sebagai aset penting yang harus dipertahankan.

Bagi pemerintah, kelompok tani seperti Karya Pratama tidak hanya menghasilkan sayuran, tetapi juga berperan menjaga ketahanan pangan daerah sekaligus mempertahankan ruang hijau produktif di tengah kota.

Kepala Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Pontianak, Irwan Prayitno, mengatakan pemerintah terus melakukan pendampingan agar kelompok tani tetap produktif.

“Pertanian perkotaan penting karena membantu menyediakan pasokan pangan segar bagi masyarakat,” ujarnya.

Menurut Irwan, keberadaan Poktan seperti Karya Pratama menjadi bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan daerah di tengah perkembangan kota yang terus berlangsung.
Lebih jauh, manfaat keberadaan sentra hortikultura di Siantan Hilir ternyata tidak berhenti pada tersedianya sayuran di meja makan masyarakat. Aktivitas yang berlangsung setiap hari di kawasan itu turut menggerakkan rantai ekonomi yang melibatkan banyak pihak.

Dari pedagang benih, penyedia pupuk, tenaga kerja harian, jasa angkut, hingga para pedagang pasar, semuanya ikut merasakan dampak dari berputarnya aktivitas pertanian tersebut.

Pengamat Ekonomi Pertanian Universitas Tanjungpura, Dr. Hendra Kusuma, menilai keberadaan sentra pertanian perkotaan memiliki nilai ekonomi yang jauh lebih besar daripada yang terlihat di permukaan.

“Ketika hasil panen dijual, yang bergerak bukan hanya petani. Ada pedagang benih, penyedia pupuk, tenaga kerja, pengangkut hasil panen hingga pedagang pasar,” jelasnya.

Menurut Hendra, mempertahankan lahan pertanian produktif di tengah kota berarti menjaga mata rantai ekonomi lokal sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.

Menjelang siang, kendaraan roda tiga mulai meninggalkan kawasan kebun. Di atas baknya tersusun kangkung, bayam, daun singkong, sawi, bengkuang, keladi, daun bawang, cabai, dan berbagai hasil panen yang baru dipetik.

Tak lama kemudian, sayuran-sayuran itu menyebar ke pasar dan lingkungan warga di Pontianak maupun Kubu Raya. Sementara para petani kembali ke petak kebun masing-masing, melanjutkan pekerjaan yang akan mereka lakukan lagi esok pagi. (aep mulyanto)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda