Sanggau, SP - Jumlah angka putus sekolah jenjang SMP di Kabupaten Sanggau, Kalbar cukup tinggi. Sejak April 2020 hingga Juni 2021 tercatat ratusan anak tidak melanjutkan pendidikannya di sekolah.
Kabid Pembinaan Pendidikan SMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sanggau Theofilus P mengatakan, untuk angka putus sekolah pada tahun 2022 masih dalam proses pendataan. Namun per April 2020 hingga Juni 2021 tercatat 419 anak jenjang SMP putus sekolah.
"Data tahun 2022 kemungkinan ada penurunan karena sekolah sudah melakukan pembelajaran tatap muka. Tapi untuk datanya masih kita rekap," katanya, Rabu (5/10/2022).
Menurut Theo, sapaan akrab Theofilus P, anak yang putus sekolah tersebut disebabkan beberapa hal. Karena pernikahan dini, sudah mengenal uang sehingga sekolah bukan hal yang menarik lagi bagi siswa, pengaruh lingkungan dan minat sekolah rendah.
Penyebab lainnya, dikatakan dia, perhatian orang tua kurang maksimal, faktor budaya dan lokasi sekolah yang jauh dari peserta didik, faktor ekonomi keluarga dan pelayanan pendidikan belum seratus persen menyentuh siswa yang mempunyai permasalahan.
"Ini beberapa faktor penyebab angka putus sekolah jenjang SMP di Sanggau yang menjadi atensi kami di Dinas Pendidikan," ujar Theo.
Pihaknya, dia bilang, tidak tinggal diam menyikapi angka putus sekolah di Kabupaten Sanggau. Banyak upaya yang telah dilakukan, mulai dari memberikan beasiswa kepada anak yang rawan putus sekolah, memberikan pemahaman kepada siswa agar tidak melakukan pernikahan dini hingga memberikan edukasi pentingnya pendidikan kepada orang tua melalui sekolah atau perangkat desa.
Selain itu, Theo menyebut, membangun sekolah bersama untuk menampung siswa yang jauh dari domisilinya, menciptakan suasana sekolah yang menyenangkan bagi semua warga sekolah, dan melibatkan masyarakat sekitar untuk memberikan motivasi kepada siswa yang rawan putus sekolah.
Dia pun berharap semua pihak terlibat memberikan edukasi kepada orang tua dan siswa yang rawan putus sekolah.
"Ini tanggungjawab kita bersama bagaimana mengedukasi orang tua dan siswa tentang pentingnya pendidikan bagi masa depan mereka dan negara sudah menjamin anak-anak sekolah melalui dana bos, beasiswa dan bantuan lainnya," kata Theo.
Oleh karena itu, dia menegaskan, tidak ada alasan lagi anak-anak tidak sekolah hanya karena tidak memiliki uang. "Jadi anak wajib mendapatkan haknya mengenyam pendidikan, dan itu selain tanggung jawab negara juga tanggung jawab kita semua," pungkas Theo. (jul)