Singkawang post author Kiwi 02 September 2026

“Panganam” di Mata Anak-anak Nyarumkop: Kisah Bruder Stephanus Paiman, Pembina yang Dikenang Alumni

Photo of “Panganam” di Mata Anak-anak Nyarumkop: Kisah Bruder Stephanus Paiman, Pembina yang Dikenang Alumni

SINGKAWANG, SP - Ada banyak nama yang pernah menjadi bagian dari perjalanan panjang Persekolahan Katolik Nyarumkop (PKN).
Ada guru, kepala sekolah, pembina asrama, pastor, bruder, serta ribuan alumni yang kemudian melanjutkan perjalanan hidup mereka ke berbagai tempat.

Namun, di antara sekian banyak nama yang masih kerap disebut dan diperbincangkan para alumni, satu nama memiliki cerita tersendiri: Bruder Stephanus Paiman OFMCap.

Bagi sebagian anak-anak Nyarumkop pada masanya, Bruder Stephanus bukan sekadar pembina asrama. Ia adalah sosok yang tegas, dekat dengan anak-anak, sekaligus menjadi tempat bertanya dan berbagi cerita.

Bahkan, dari kenangan para alumni, muncul sebuah julukan yang terdengar unik sekaligus menggelitik: “Panganam”, di atas Panglima.

Julukan itu tentu bukan gelar resmi. Ia lahir dari dunia anak-anak asrama, dari cara mereka mengenang sosok pembina yang dianggap memiliki pengaruh kuat dalam kehidupan mereka.

“Cam-macam jak yang buat cerite tu...” demikian seloroh yang muncul ketika kisah tentang julukan tersebut kembali diperbincangkan.

Namun, di balik candaan itu, ada sebuah kenyataan yang jauh lebih serius: Bruder Stephanus meninggalkan jejak yang cukup dalam bagi anak-anak yang pernah dibinanya.

10 Tahun 9 Bulan Bersama Anak-anak Asrama

Kisah pengabdian Bruder Stephanus di Nyarumkop tercatat dalam buku 110 Tahun Persekolahan Katolik Nyarumkop (PKN) 1916-2026, Mengakar dalam Sejarah, Berkarya untuk Masa Depan, yang memuat perjalanan panjang lembaga pendidikan tersebut.

Dalam buku itu, pengalaman Bruder Stephanus sebagai pembina Asrama Timonong mendapat ruang khusus melalui tulisan berjudul “Membentuk Generasi melalui Disiplin, Persaudaraan, dan Pelayanan.”

Tanggal 18 Juni 1994 menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan panggilan dan pengabdiannya. Pada tanggal tersebut, Bruder Stephanus mulai berkarya sebagai pamong Asrama Timonong di lingkungan Persekolahan Katolik Nyarumkop.

Selama kurang lebih 10 tahun 9 bulan, ia mendampingi anak-anak asrama, membentuk karakter mereka, sekaligus menemani proses pertumbuhan mereka menjadi pribadi yang matang dalam iman, ilmu pengetahuan dan kehidupan sosial.

Menjadi pembina asrama ternyata bukan pekerjaan yang sederhana.

Ia tidak hanya berhadapan dengan anak-anak yang harus menaati jadwal dan aturan. Ia berhadapan dengan manusia muda yang memiliki karakter, persoalan keluarga, latar belakang, emosi dan cita-cita yang berbeda-beda.

Ketika pertama kali menerima tugas sebagai pembina asrama, Bruder Stephanus mengakui dirinya mengalami banyak kejutan.

Dunia pendidikan, menurutnya, ternyata tidak hanya berbicara tentang teori. Lebih dari itu, pendidikan berbicara tentang bagaimana seseorang hadir dan mendampingi manusia dengan segala keunikan dan persoalannya.

Pengalaman tersebut kemudian justru menjadi perjalanan yang ia syukuri.

“Saya bersyukur ditempatkan di asrama. Di sana saya belajar bahwa seorang pembina bukan hanya mengatur, tetapi harus hadir sebagai orang tua dan sahabat bagi anak-anak.”

Kalimat tersebut menjelaskan mengapa sosoknya kemudian begitu membekas dalam ingatan sebagian alumni.

Tegas, tetapi Tetap Menjadi Sahabat

Menjadi pembina asrama membutuhkan keseimbangan. Di satu sisi, pembina harus mampu menegakkan aturan. Di sisi lain, anak-anak membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan dan memahami mereka.

Bruder Stephanus menyadari hal itu. “Saya memang keras dengan anak-anak asrama, tetapi saya tetap menempatkan diri sebagai sahabat dan pamong mereka,” katanya.

Bagi anak-anak yang hidup bersama dalam lingkungan asrama, sosok pembina memang memiliki posisi yang istimewa.

Pembina menjadi orang yang hadir ketika mereka bangun pagi, mengikuti kegiatan sekolah, menghadapi persoalan dengan teman, merindukan keluarga, hingga ketika mereka harus belajar bertanggung jawab terhadap pilihan-pilihan kecil dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, ketegasan seorang pembina tidak selalu diingat sebagai bentuk hukuman. Bertahun-tahun kemudian, ketegasan itu justru dapat dikenang sebagai bentuk perhatian.

Mungkin dari sanalah kemudian lahir cerita tentang “Panganam”. “Bruder, Benarkah Ada yang di Atas Panglima?”

Kisah tentang julukan tersebut muncul kembali ketika berbincang mengenai buku sejarah 110 tahun PKN.

Seorang kawan alumni pernah bercerita bahwa di Nyarumkop dahulu ada sosok yang dianggap “di atas Panglima”.

Julukannya: Panganam

Ketika cerita itu ditanyakan kepada Bruder Stephanus, tentu saja kisah tersebut terdengar seperti nostalgia yang mengundang tawa.

“Benarkah kisah ini, Der?” menjadi pertanyaan yang muncul di tengah percakapan.

Sebab, sebagaimana dunia alumni pada umumnya, cerita masa lalu kadang memiliki banyak versi. Ada yang mengingatnya dengan serius, ada yang membumbuinya dengan humor, dan ada pula yang baru mengungkapkannya setelah puluhan tahun berlalu.

Namun, justru di situlah menariknya. Julukan “Panganam” bukan soal siapa lebih tinggi daripada siapa.

Ia adalah simbol kecil tentang betapa kuatnya kehadiran seorang pembina dalam ingatan anak-anak asrama.

Dan yang membuat cerita itu semakin menarik, nama Bruder Stephanus ternyata menjadi salah satu nama yang cukup banyak disebut dan diperbincangkan oleh para alumni Nyarumkop.

Satu-satunya Mantan Pembina Asrama yang Diwawancarai

Dalam proses penyusunan buku sejarah 110 tahun PKN tersebut, Bruder Stephanus menjadi salah satu sosok yang diwawancarai secara khusus karena pengalaman panjangnya sebagai pembina asrama.

Stefanus Akim dan Mikael Murep, yang terlibat sebagai penulis buku, menggali kembali cerita-cerita dari masa lalu Nyarumkop.

Di antara banyak kisah tentang guru dan pembina yang pernah hadir, pengalaman Bruder Stephanus menjadi penting karena ia mengalami langsung kehidupan anak-anak asrama selama hampir sebelas tahun.

Ia bukan hanya menyaksikan proses pendidikan dari ruang kelas. Ia melihat kehidupan anak-anak setelah jam sekolah berakhir.

Di asrama, karakter mereka terlihat lebih utuh. Ada yang disiplin, ada yang keras kepala, ada yang pendiam, ada yang mudah bergaul, ada yang membutuhkan perhatian lebih, dan ada pula yang baru bisa terbuka ketika menemukan orang yang dipercaya.

Karena itulah, tugas seorang pembina bukan sekadar memastikan anak-anak tidur tepat waktu atau mengikuti aturan.

Pembina ikut membentuk manusia. Nyarumkop dan Warisan Pendidikan. Persekolahan Katolik Nyarumkop merupakan kompleks pendidikan yang memiliki sejarah panjang.

PKN berada di Jalan Raya Singkawang-Bengkayang, Kelurahan Nyarumkop, Kecamatan Singkawang Timur, Kota Singkawang, Kalimantan Barat. Kompleks ini menaungi sejumlah jenjang pendidikan dan asrama.

PKN kini tengah memasuki momentum bersejarah 110 tahun, dengan rentang perjalanan 1916-2026. Sejarahnya berkaitan dengan karya pendidikan para misionaris Kapusin (OFMCap) di Kalimantan Barat.

Di tempat yang berada di kawasan lembah Gunung Poteng dan dikenal dengan lingkungan alamnya yang hijau itu, generasi demi generasi pernah ditempa.

Motto PKN, Non Scholae Sed Vitae Discimus, yang berarti “kita belajar bukan untuk sekolah, tetapi untuk hidup”, terasa sangat relevan dengan kisah Bruder Stephanus.

Sebab pendidikan yang ia jalankan sebagai pembina asrama bukan hanya pendidikan untuk memperoleh nilai. Ia mendampingi anak-anak untuk belajar hidup.

Belajar disiplin. Belajar bertanggung jawab. Belajar menghargai orang lain. Belajar hidup bersama. Dan yang tidak kalah penting, belajar menjadi manusia.

Dari Pembina Asrama Menjadi Aktivis Kemanusiaan

Perjalanan Bruder Stephanus setelah meninggalkan Nyarumkop juga memperlihatkan bahwa nilai-nilai yang ia jalani ketika menjadi pembina asrama tidak berhenti di lingkungan sekolah.

Kini ia dikenal sebagai salah satu penggerak kegiatan kemanusiaan melalui Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak (FRKP).

Semangat mendampingi dan membantu sesama terus menjadi bagian dari kehidupannya. Mungkin konteksnya telah berubah. Dulu ia mendampingi anak-anak asrama.

Kini ia banyak bersentuhan dengan masyarakat yang membutuhkan bantuan. Tetapi nilai dasarnya tetap sama, hadir, mendengarkan, membantu dan memberikan perhatian.

Itulah sebabnya, ketika nama Bruder Stephanus kembali muncul dalam cerita para alumni Nyarumkop, yang diingat bukan hanya seorang pembina yang tegas. Tetapi juga seorang figur yang pernah hadir dalam fase penting kehidupan mereka.

“Panganam” yang Sesungguhnya

Pada akhirnya, mungkin julukan “Panganam” tidak perlu dicari pembuktiannya secara harfiah. Biarlah ia tetap menjadi bagian dari cerita anak-anak Nyarumkop.

Sebab setiap generasi memiliki cara sendiri untuk memberi nama kepada orang-orang yang meninggalkan kesan mendalam dalam hidup mereka.

Ada yang dikenang sebagai guru. Ada yang dikenang sebagai kepala sekolah. Ada yang dikenang sebagai sahabat.

Dan bagi sebagian alumni Nyarumkop, Bruder Stephanus mungkin dikenang dengan satu nama yang membuat orang tersenyum, Panganam.

Namun di balik gurauan “di atas Panglima” itu, ada penghormatan yang lebih dalam.

Bahwa pernah ada seorang bruder yang menghabiskan sekitar 10 tahun 9 bulan mendampingi anak-anak asrama.

Pernah marah. Pernah menegur. Pernah membuat aturan. Tetapi juga pernah mendengarkan. Pernah menjadi tempat bertanya. Pernah menjadi sahabat.

Dan pernah menjadi sosok yang membantu anak-anak muda menemukan arah hidup mereka.

Puluhan tahun berlalu, anak-anak asrama itu telah tumbuh menjadi orang dewasa. Sebagian mungkin sudah lupa detail nasihat yang pernah diberikan.

Sebagian mungkin sudah lupa hukuman apa yang pernah diterima. Tetapi nama pembinanya masih mereka ingat.

Dan mungkin, itulah ukuran paling sederhana dari sebuah pengabdian, ketika seseorang sudah lama meninggalkan tempatnya bertugas, tetapi namanya masih hidup dalam cerita orang-orang yang pernah didampinginya.

Nyarumkop menyimpan banyak cerita. Dan di antara cerita itu, ada satu nama yang terus disebut, Bruder Stephanus Paiman OFMCap, sang “Panganam”, pembina yang pernah menemani satu generasi anak-anak Nyarumkop belajar tentang disiplin, persaudaraan, pelayanan, dan kehidupan. Kompleks Persekolahan Katolik Nyarumkop berada di Jalan Raya Singkawang-Bengkayang, Kelurahan Nyarumkop, Kecamatan Singkawang Timur, Kota Singkawang, Kalimantan Barat 79251. (*)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda