SINGKAWANG, SP - Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Sekolah Rakyat terintegrasi 2 Kota Singkawang telah resmi dimulai.
Program pendidikan berbasis asrama ini menjadi langkah pemerintah memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu sekaligus menekan angka putus sekolah.
"Pemerintah Kota Singkawang berharap kehadiran Sekolah Rakyat tidak sekadar menjadi tempat belajar, tetapi menjadi pintu bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk mendapatkan pendidikan secara berkelanjutan hingga jenjang SMA," kata Plt Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA) Kota Singkawang, Asmadi, Selasa (1/9).
Dia mengatakan, Sekolah Rakyat merupakan bentuk keseriusan pemerintah pusat dan daerah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
“Keberadaan Sekolah Rakyat ini merupakan bukti keseriusan pemerintah pusat dan daerah dalam meningkatkan sumber daya manusia,” ujarnya.
Menurutnya, program tersebut secara khusus menyasar anak-anak dari keluarga kurang mampu, terutama yang masuk dalam desil 1 dan desil 2.
Kehadiran Sekolah Rakyat diharapkan mampu memastikan anak-anak tetap mendapatkan hak pendidikan dan tidak berhenti sekolah karena persoalan ekonomi.
“Sekolah Rakyat diperuntukkan bagi anak-anak kurang mampu, khususnya mereka yang berada pada desil 1 dan desil 2. Dengan adanya program ini, tidak ada lagi alasan bagi masyarakat untuk tidak melanjutkan pendidikan, mulai dari SD, SMP hingga SMA,” ungkapnya.
Pemkot Singkawang bahkan membidik target lebih besar. Keberadaan Sekolah Rakyat diharapkan ikut mendongkrak rata-rata lama sekolah masyarakat hingga 13 tahun.
Target tersebut dinilai strategis untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia Singkawang sebagai bagian dari upaya menyongsong Indonesia Emas 2045.
“Kita berharap Sekolah Rakyat dapat meningkatkan rata-rata lama sekolah masyarakat kita menjadi 13 tahun sesuai target yang ingin dicapai demi menuju Indonesia Emas 2045,” harapnya.
Salah satu keunggulan Sekolah Rakyat yakni penerapan sistem boarding school atau sekolah berasrama. Sistem ini membuat siswa tidak hanya mendapatkan pendidikan, tetapi juga pemenuhan berbagai kebutuhan selama mengikuti proses pembelajaran.
Mulai dari makanan, perlengkapan sekolah hingga kebutuhan hidup siswa selama berada di Sekolah Rakyat ditanggung negara. Dengan begitu, faktor ekonomi diharapkan tidak lagi menjadi penghalang anak untuk mendapatkan pendidikan yang layak.
“Dengan sistem boarding school, orang tua tidak perlu lagi memikirkan biaya makan dan jajan anaknya. Anak cukup fokus belajar karena seluruh keperluan sekolah dan kehidupannya selama berada di Sekolah Rakyat ditanggung oleh negara,” jelasnya.
Asmadi menegaskan, pendidikan di Sekolah Rakyat tidak hanya berorientasi pada nilai akademik. Setiap siswa juga akan mendapatkan ruang untuk mengembangkan potensi diri, mulai dari bakat, kreativitas hingga kecerdasan emosional.
Pendekatan tersebut dinilai penting agar lulusan Sekolah Rakyat tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki karakter, kemampuan sosial dan kesiapan menghadapi tantangan masa depan.
“Sekolah Rakyat tidak hanya fokus pada kemampuan akademis, tetapi juga menunjang pengembangan bakat dan kreativitas siswa. Kecerdasan emosional mereka juga diperhatikan dan ditangani oleh tenaga ahli,” tutupnya. (rud)