Sintang post authorKiwi 19 Mei 2026

Desa Solam Raya: Dari Rimba Sunyi Menjadi Desa Produktif di Sintang

Photo of Desa Solam Raya: Dari Rimba Sunyi Menjadi Desa Produktif di Sintang Petani Ikan Air Tawar di Desa Solam Raya, Kecamatan Sungai Tebelian, Kabupaten Sintang, saat menebar benih ikan di kolam-kolam rezeki.

SINTANG, SP - Pagi di Solam Raya selalu datang dengan cara yang lembut. Kabut masih menggantung rendah, menyelimuti kolam-kolam ikan yang berderet seperti cermin-cermin air di antara sisa dingin malam.

Dari kejauhan terdengar gemericik kecil aliran air yang mengalir melalui pipa-pipa, seolah menjadi irama pembuka hari di desa yang perlahan tumbuh dari tanah yang dahulu nyaris tak bersuara.

Di tepian kolam itu, seorang lelaki berjalan pelan, menapaki pematang yang basah oleh embun. Tangannya sesekali menyentuh air, lalu menebarkan dedaunan hijau ke permukaan kolam.

Ikan-ikan pun bergerak cepat, menyambar, menciptakan riak-riak kecil yang pecah dalam cahaya pagi yang masih malu-malu.
Seakan ada percakapan sunyi antara manusia dan alam, tentang kesabaran, tentang harapan, tentang hidup yang terus dijaga.

Di sinilah Solam Raya hari ini berdiri: sebuah desa di Kecamatan Sungai Tebelian, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat (Kalbar), yang dulu hanyalah hamparan hutan belantara, sunyi dan nyaris tak tersentuh.

Kini, ia menjelma menjadi ruang hidup yang tertata, produktif, dan perlahan menemukan wajahnya sendiri, wajah yang dibentuk oleh kerja keras, kebersamaan, dan waktu yang panjang.

Transformasi itu tidak datang tiba-tiba. Ia tumbuh pelan, seperti akar yang merambat di tanah basah, menembus diam, menembus gelap.

Dari hutan yang dahulu mendominasi, lahirlah kolam-kolam ikan air tawar, sawah-sawah yang mulai menghijau, dan permukiman yang berkembang mengikuti ritme kehidupan baru masyarakatnya.

Solam Raya adalah desa eks-transmigrasi. Di sini, jejak-jejak perjalanan panjang manusia dari berbagai daerah di Pulau Jawa, Banyumas, Lumajang, Blora, Cianjur, hingga Purwakarta, bertemu dan berpadu dengan masyarakat Suku Dayak sebagai pemilik ruang budaya setempat.

Perbedaan itu tidak pernah benar-benar menjadi jarak. Sebaliknya, ia menjelma jembatan, tempat nilai-nilai baru tumbuh: saling memahami, saling menghormati, dan saling menguatkan.

“Awalnya desa ini terbentuk dari dua dusun, Dusun Sokek dan Dusun Laman Natai,” kenang Sarwiji, salah satu tokoh masyarakat.

Dari titik sederhana itulah, perjalanan dimulai. Perlahan, struktur desa dibentuk, kepemimpinan dipilih, dan kehidupan sosial mulai menemukan bentuknya. Nama-nama lama tetap hidup dalam ingatan, tetapi desa ini terus melangkah menuju masa depan yang lebih mapan.

Kini, wajah Solam Raya telah berubah jauh. Jalan-jalan desa semakin tertata, ruang-ruang publik mulai hidup, dan fasilitas umum berdiri sebagai penanda perkembangan: lapangan sepak bola sebagai ruang tawa dan kebersamaan, masjid sebagai pusat keteduhan spiritual, serta gereja yang berdiri atau tengah dibangun sebagai simbol keberagaman yang dirawat tanpa syarat.

Namun denyut utama desa ini bukan hanya pada bangunan atau infrastruktur. Ia justru berdenyut paling kuat di antara kolam-kolam ikan yang tersebar di berbagai sudut desa.
Di sanalah ekonomi warga bertumpu, bergerak, dan berkembang. Gurami, lele, patin, nila, hingga ikan mas menjadi komoditas utama yang menghidupi banyak keluarga.
Dari kolam tanah hingga kolam terpal, budidaya ikan menjadi cerita kerja keras yang tidak pernah benar-benar selesai.

Dari pagi hingga senja, aktivitas itu berlangsung seperti siklus yang tak putus: memberi pakan, membersihkan kolam, mengamati pertumbuhan, dan menunggu waktu panen.

Hasilnya tidak hanya mengisi dapur warga, tetapi juga mengalir ke pasar-pasar di Sintang dan wilayah sekitarnya.

Perlahan, Solam Raya bukan sekadar desa, tetapi bagian dari rantai ekonomi perikanan air tawar yang terus tumbuh di Kalbar.
Perlahan dan selalu pasti, kondisi para petani ikan ini mulai membaik setelah mendapat dukungan pembinaan dan bantuan peralatan.

Pelatihan, tambahan peralatan pengelolaan kolam, hingga pembangunan raung diskusi, membuat proses produksi ikan kini bisa dilakukan langsung di kampung tersebut.

Perubahan ini tidak lepas dari upaya bersama dan dukungan berbagai pihak, termasuk program Desa BRILiaN dari Bank BRI, yang mendorong penguatan sentra perikanan, pengembangan BUMDes, hingga peningkatan literasi keuangan masyarakat.

Di balik program itu, ada harapan yang lebih besar: agar desa mampu berdiri di atas kekuatan sendiri, dengan cara yang lebih terarah dan berkelanjutan.

Andriyanto, Ketua Kelompok Tani Perikanan Desa Solam Raya, menyadari betul bahwa perjalanan ini tidak bisa ditempuh sendirian.

“Pengembangan budidaya ikan air tawar, baik untuk konsumsi maupun bibit, membutuhkan kerja sama semua pihak karena prosesnya panjang dan butuh ketekunan,” ujarnya.

Dalam kalimat itu tersimpan satu hal yang sederhana namun dalam: bahwa desa ini dibangun oleh kesabaran kolektif.
Di luar ekonomi, ada hal lain yang justru membuat Solam Raya terasa hidup, yakni jalinan sosial warganya. Di sini, perbedaan tidak menjadi sekat.

Ia menjadi warna. Warga hidup berdampingan, saling menyapa, saling membantu, dan saling menjaga. Nilai toleransi tumbuh bukan sebagai slogan, tetapi sebagai kebiasaan sehari-hari yang mengalir tanpa dipaksa.
Di sore hari, anak-anak bermain di lapangan.
Di waktu lain, suara azan dan lonceng gereja bisa hadir dalam jarak yang tak saling meniadakan, melainkan saling melengkapi dalam harmoni yang tenang.

Di ruang-ruang sederhana itulah, kerukunan menemukan bentuk paling nyatanya.
Solam Raya hari ini adalah desa yang sedang terus bertumbuh, tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara batin. Ia bukan lagi hutan yang sunyi, melainkan lanskap kehidupan yang penuh kerja, harap, dan kebersamaan.

Dari kolam-kolam ikan yang tenang hingga sawah yang menghampar hijau, dari rumah-rumah ibadah yang berdiri berdampingan hingga tawa warga yang mengisi hari, semuanya menyatu dalam satu narasi yang pelan namun pasti: tentang desa yang belajar menjadi madani dengan caranya sendiri.
Di tanah yang dulu hanya rimbun dan diam, kini kehidupan mengalir seperti air, tenang, konsisten, dan terus mencari arah menuju masa depan. (aep mulyanto)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda