AMBISI Daud Yordan untuk kembali menapaki panggung tinju dunia belum berakhir. Setelah menaklukkan petinju Filipina, Ador Torres, dalam gelaran DYP Back to Champion 2026 di GOR Terpadu Pontianak, Sabtu (10/10/2026) malam, petinju berjuluk The Boxing Senator itu membidik tantangan yang jauh lebih besar, yaitu menghadapi legenda tinju Filipina, Manny Pacquiao, pada 2027.
Jika terwujud, pertarungan tersebut berpotensi menjadi salah satu duel paling menarik dalam perjalanan karier Daud. Bukan semata-mata karena mempertemukan dua petinju yang pernah merasakan gelar juara dunia, melainkan juga karena keduanya memiliki pengalaman di dunia politik dan pernah mengemban tanggung jawab sebagai senator.
Daud merupakan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI dari Kalimantan Barat untuk masa jabatan 2024-2029. Sementara itu, Pacquiao pernah menjadi senator Filipina pada 2016-2022 dan kemudian kembali memasuki pemerintahan Filipina pada 2026 melalui jabatan di National Anti-Poverty Commission (NAPC).
Pertemuan keduanya di atas ring akan menghadirkan cerita yang berbeda dari pertarungan tinju pada umumnya. Indonesia dan Filipina bukan hanya dipertemukan melalui olahraga, tetapi juga melalui dua figur yang menapaki perjalanan dari dunia tinju profesional menuju panggung politik.
Namun, duel tersebut masih berupa target yang sedang diupayakan. Hingga kini, belum ada kepastian bahwa Daud dan Pacquiao telah menyepakati pertandingan pada 2027.
Sebelum melangkah lebih jauh, Daud terlebih dahulu harus membuktikan kemampuannya di atas ring. Kemenangan atas Torres di Pontianak menjadi bagian penting dari upayanya menjaga peluang menuju pertarungan yang lebih besar.
Torres Jadi Langkah Awal
Daud berhasil melewati ujian melawan Torres dalam laga utama Back to Champion 2026 yang dipersembahkan Daud Yordan Promotions. Pertandingan tersebut sekaligus menjadi kesempatan bagi petinju asal Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, itu untuk menunjukkan bahwa dirinya masih memiliki ambisi bersaing di level profesional.
Bertanding di hadapan pendukung sendiri, Daud tampil agresif sejak ronde pertama. Ia terus menekan Torres dengan kombinasi pukulan dan berusaha mengendalikan jalannya pertarungan.
Torres berupaya bertahan menghadapi tekanan tersebut. Namun, Daud mampu mempertahankan dominasinya hingga ronde kedelapan dan memastikan kemenangan.
Sebelum pertandingan, kedua petinju telah menjalani penimbangan resmi di Gaia Mall Pontianak, Jumat (9/10/2026), dan dinyatakan lolos timbang badan.
Bagi Daud, laga tersebut bukan sekadar perebutan Sabuk ABF Diamond. Pertandingan itu menjadi kesempatan untuk membuktikan kemampuannya di hadapan masyarakat Kalimantan Barat sekaligus membangun momentum menuju target yang lebih besar.
Ia mengaku telah menjalani persiapan selama berbulan-bulan, termasuk mempelajari karakteristik lawan dan menyusun strategi. Kesibukannya sebagai anggota DPD RI tidak membuatnya meninggalkan latihan, meskipun membagi waktu antara tugas publik dan persiapan sebagai petinju profesional menjadi tantangan tersendiri.
Daud memahami bahwa pengalaman dan reputasi tidak otomatis menjamin kemenangan. Setiap lawan memiliki karakteristik berbeda sehingga membutuhkan persiapan dan strategi yang tepat.
"Back to Champion adalah tempat saya membuktikan diri terlebih dahulu. Saya ingin masyarakat Kalimantan Barat ikut menyaksikan perjalanan ini dari awal. Kalau saya ingin mengejar pertandingan yang lebih besar, saya harus membuktikannya dulu di atas ring," kata Daud.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa ambisinya menghadapi Pacquiao harus dibangun melalui hasil nyata. Kemenangan atas Torres menjadi salah satu pijakan, sedangkan peluang menuju pertarungan berikutnya masih bergantung pada proses negosiasi dan kesiapan kedua petinju.
Legenda yang Ingin Dihadapi
Manny Pacquiao bukan nama sembarangan dalam sejarah tinju profesional. Petinju berjuluk PacMan itu dikenal sebagai satu-satunya petinju yang berhasil meraih gelar juara dunia dalam delapan kelas berat berbeda.
Lahir di Filipina pada 17 Desember 1978, Pacquiao memulai karier profesional ketika masih berusia 16 tahun. Dari latar belakang kehidupan sederhana, ia berkembang menjadi salah satu bintang olahraga terbesar yang pernah dimiliki Filipina.
Prestasinya di atas ring menjadikannya figur yang dikenal luas di berbagai negara. Perjalanan panjangnya juga memperlihatkan kemampuan beradaptasi menghadapi lawan dengan gaya bertarung dan karakteristik berbeda.
Di luar olahraga, Pacquiao memasuki dunia politik pada 2010 sebagai anggota Dewan Perwakilan Filipina. Ia kemudian terpilih menjadi senator pada 2016 dan mengakhiri masa jabatannya pada 2022. Pada Pemilu Filipina 2022, ia juga maju sebagai calon presiden.
Pada September 2026, Pacquiao kembali masuk pemerintahan melalui penunjukannya sebagai pimpinan sekaligus sekretaris National Anti-Poverty Commission, lembaga yang berkaitan dengan upaya pengentasan kemiskinan di Filipina.
Perjalanan tersebut membuat Pacquiao memiliki dua identitas kuat: legenda tinju dunia dan tokoh publik.
Daud memiliki lintasan yang bersinggungan. Ia lebih dahulu dikenal sebagai petinju profesional yang membawa nama Indonesia ke arena internasional sebelum terpilih menjadi anggota DPD RI dari Kalimantan Barat pada Pemilu 2024.
Jika keduanya benar-benar bertemu di atas ring, duel tersebut bukan sekadar pertarungan Indonesia melawan Filipina. Pertandingan itu juga akan mempertemukan dua sosok yang memiliki pengalaman di dunia olahraga dan politik, meskipun perjalanan serta capaian keduanya tidak sepenuhnya sama.
Bagi Daud, kesempatan menghadapi Pacquiao tentu menjadi tantangan besar sekaligus peluang untuk kembali menarik perhatian dunia tinju internasional.
Namun, mewujudkan pertarungan tersebut tidak cukup hanya bermodal keinginan. Promotor perlu menjajaki kesepakatan, menentukan kelas pertandingan, menyusun jadwal, serta memastikan kesiapan kedua petinju.
Senator Petinju Profesional
Perjalanan Daud menuju panggung internasional tidak terjadi dalam waktu singkat.
Lahir di Ketapang pada 10 Juni 1987, Daud mulai berlatih tinju ketika berusia enam tahun. Ia kemudian mengikuti kompetisi pertamanya saat berusia 13 tahun di Palangka Raya, Kalimantan Tengah.
Perjalanan profesionalnya dimulai pada 13 September 2008 di Las Vegas, Amerika Serikat. Dalam debut tersebut, Daud mengalahkan petinju Meksiko, Antonio Meza, melalui keputusan angka mayoritas.
Sejak itu, ia menjalani pertandingan di berbagai negara dan mengoleksi sejumlah gelar internasional, termasuk gelar juara dunia IBO kelas bulu. Pengalaman panjang tersebut membentuk reputasinya sebagai salah satu petinju profesional Indonesia yang mampu bersaing di tingkat internasional.
Julukan "Cino" juga melekat dalam perjalanan kariernya. Di kalangan penggemar tinju Indonesia, nama Daud Yordan identik dengan petinju asal Kalimantan Barat yang berhasil menembus persaingan internasional.
Pada 2024, Daud memasuki babak baru dengan terpilih sebagai anggota DPD RI dari Kalimantan Barat untuk masa jabatan 2024–2029. Ia juga mengemban tanggung jawab di bidang olahraga daerah melalui kepemimpinannya di KONI Kalimantan Barat.
Peran tersebut membuat Daud harus membagi waktu antara tugas sebagai wakil daerah, tanggung jawab dalam organisasi olahraga, dan karier profesional yang masih ingin dilanjutkannya.
Meski demikian, kursi senator tidak membuatnya menutup pintu ring tinju. Pertandingan melawan Torres memperlihatkan bahwa Daud masih memiliki keinginan untuk bersaing dan mengejar kesempatan tampil dalam laga yang lebih besar.
Di satu sisi, ia menjalankan tanggung jawab publik. Di sisi lain, ia tetap ingin menjaga warisan karier yang telah dibangun melalui latihan panjang dan berbagai pertandingan internasional.
Ambisi menghadapi Pacquiao menjadi salah satu gambaran bahwa Daud belum menganggap perjalanan tinjunya selesai.
Dua Senator, Dua Negara, Satu Ring
Daya tarik duel Daud Yordan melawan Manny Pacquiao terletak pada cerita yang melampaui olahraga.
Keduanya memiliki latar belakang sebagai petinju profesional dan pengalaman menjalani kehidupan politik. Daud mewakili Kalimantan Barat di DPD RI, sedangkan Pacquiao pernah duduk di Senat Filipina dan kembali mengemban tugas pemerintahan.
Apabila pertandingan itu terwujud, duel tersebut berpotensi menarik perhatian penggemar tinju dari kedua negara. Nama besar Pacquiao dan perjalanan karier Daud dapat menjadi daya tarik tersendiri, terlebih jika pertandingan diselenggarakan dengan format dan kelas yang sesuai dengan kesepakatan kedua pihak.
Namun, perbedaan usia, kondisi fisik, kelas pertandingan, dan kesiapan masing-masing petinju akan menjadi faktor penting dalam menentukan kemungkinan duel tersebut.
Karena itu, rencana menghadapi Pacquiao masih harus ditempatkan sebagai target, bukan pertandingan yang sudah dipastikan berlangsung pada 2027.
CEO Daud Yordan Promotions, Alex Kristian, sebelumnya menyampaikan adanya peluang untuk mempertemukan Daud dengan Pacquiao pada tahun tersebut. Meski demikian, realisasi pertandingan tetap membutuhkan pembicaraan dan kesepakatan lebih lanjut.
Bagi Daud, kemenangan atas Torres menjadi langkah awal untuk memperkuat posisinya dalam mengejar target tersebut. Ia harus terus menunjukkan kesiapan dan menjaga performa apabila ingin mendapatkan kesempatan menghadapi lawan sekelas Pacquiao.
Menjaga Peluang dan Membuka Jalan
Selain mengejar pertarungan besar, Daud juga memiliki harapan agar penyelenggaraan Back to Champion dapat memberikan kesempatan kepada petinju lain untuk mengembangkan karier profesional.
Melalui Daud Yordan Promotions, ia ingin membuka ruang bagi petinju muda untuk mendapatkan pengalaman bertanding dan membangun jalan menuju prestasi yang lebih tinggi.
Baginya, perkembangan tinju Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan keberhasilan satu atau dua atlet. Pembinaan, kesempatan bertanding, dukungan berbagai pihak, dan penyelenggaraan pertandingan yang berkelanjutan dibutuhkan agar semakin banyak petinju Indonesia mampu bersaing di tingkat internasional.
Kemenangan Daud atas Torres di Pontianak pun menjadi momentum untuk memperkuat perhatian terhadap olahraga tinju di Kalimantan Barat.
Kini, perhatian tertuju pada langkah Daud berikutnya. Ambisi menghadapi Pacquiao masih terbuka, tetapi perjalanan menuju pertarungan impian tersebut membutuhkan proses dan kepastian dari berbagai pihak.
Jika duel itu benar-benar terwujud pada 2027, dunia tinju akan menyaksikan pertemuan dua petinju yang memiliki kisah melampaui ring: Daud Yordan, senator Indonesia yang masih mengejar ambisi profesionalnya, dan Manny Pacquiao, legenda Filipina yang pernah menjadi senator dan kembali mengemban tanggung jawab pemerintahan.
Untuk saat ini, Daud telah menuntaskan langkah awalnya dengan kemenangan atas Torres. Tantangan berikutnya adalah menjaga momentum, mempersiapkan diri, dan memperjuangkan peluang agar duel dua senator dari Indonesia dan Filipina itu benar-benar menjadi kenyataan. (tim)