PONTIANAK, SP - Bagi sebagian orang, Vespa mungkin hanya kendaraan klasik dengan suara mesin khas dan bentuk yang tak lekang oleh waktu.
Namun, bagi mereka yang telah merasakan perjalanan bersama komunitasnya, Vespa menyimpan sesuatu yang lebih dalam, persaudaraan, kebersamaan, dan sensasi berkendara yang sulit ditemukan di tempat lain.
Kesan itulah yang dirasakan Agung Sri Handono, seorang notaris di Pontianak yang selama ini lebih akrab dengan dunia motor gede (moge), termasuk Harley-Davidson.
Setelah bergabung dengan FRKP West Borneo Vespa Lovers, ia menemukan pengalaman berbeda ketika mengikuti touring bersama komunitas pencinta Vespa tersebut ke Tanjung Api, Kabupaten Sambas.
Touring penyegaran atau refreshment riding yang baru saja dituntaskan rombongan FRKP West Borneo Vespa Lovers itu bukan sekadar perjalanan untuk menikmati jalanan dan suasana pesisir.
Di sepanjang perjalanan, kebersamaan tumbuh melalui obrolan ringan, saling memperhatikan kondisi kendaraan, hingga menikmati pengalaman berkendara tanpa harus terburu-buru mengejar tujuan.
Di tengah suasana itulah Agung, putra almarhum notaris Damiri, mulai merasakan daya tarik Vespa yang berbeda dari motor-motor besar yang selama ini dikenalnya.
“Luar biasa sensasi ber-Vespa ini, Bruder. Berbeda aromanya dengan klub otomotif lain. Sangat kental persaudaraannya,” ungkap Agung kepada Bruder Stephanus Paiman OFMCap, Ketua Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak (FRKP) sekaligus Penasehat FRKP West Borneo Vespa Lovers.
Agung bukanlah orang yang benar-benar asing dengan dunia otomotif. Ia telah memiliki pengalaman dengan moge, tetapi ketertarikannya terhadap Vespa kembali tumbuh setelah membangkitkan sebuah skuter klasik milik keponakannya yang lama tak terurus.
“Saya baru bangun satu unit, punya ponakan yang sudah tidak diurusnya. Tapi setelah kinclong lagi, mulai pengen main Vespa lagi,” tuturnya, menceritakan awal mula cintanya terhadap kendaraan klasik tersebut.
Vespa yang semula terabaikan itu perlahan kembali menarik perhatian setelah dibersihkan dan diperbaiki. Dari situ, keinginan untuk kembali menikmati pengalaman berkendara dengan Vespa muncul, hingga akhirnya ia berkesempatan mengikuti kegiatan bersama FRKP West Borneo Vespa Lovers.
Tertarik pada Detail dan Kenyamanan Berkendara
Ketertarikan Agung tak berhenti pada tampilan Vespa yang kembali mengilap. Selama perjalanan menuju Tanjung Api, ia juga memperhatikan detail kendaraan yang digunakan rekan-rekannya, termasuk Vespa milik Bruder Stephanus Paiman OFMCap.
“Bruder punya rem depan sudah dimodifikasi cakram, ya?” tanyanya, mulai tertarik dengan perubahan teknis pada skuter yang digunakan Bruder Stephanus.
Bagi penggemar otomotif, percakapan sederhana seperti itu bisa menjadi pintu masuk menuju obrolan panjang tentang mesin, pengereman, kenyamanan, dan karakter kendaraan. Apalagi Vespa klasik kerap memiliki cerita tersendiri, baik dari proses restorasi maupun penyesuaian yang dilakukan pemiliknya.
Agung juga memperhatikan bagaimana Bruder Stephanus mengendarai Vespanya sepanjang perjalanan. Menurutnya, Bruder tampak tenang dan menikmati perjalanan, sementara kendaraan yang digunakan tetap berjalan baik.
“Saya lihat dari awal dan selama perjalanan, Bruder anteng saja pakainya dan Vespanya tidak rewel, laju lagi,” tambahnya.
Komentar itu disambut senyum Bruder Stephanus. Dengan santai, ia menjelaskan bahwa di komunitas mereka terdapat Tomo, mekanik yang dikenal terampil dalam menangani Vespa anggota.
“Ada Mas Tomo, mekanik andal kami di klub. Serahkan dengannya, aman sesuai kemauan kita,” jawab Bruder Stephanus.
Percakapan ringan tersebut memperlihatkan salah satu sisi menarik dari komunitas Vespa. Bukan hanya tentang siapa yang memiliki kendaraan paling bagus atau mesin paling bertenaga, tetapi juga bagaimana para anggotanya saling berbagi pengalaman, membantu merawat kendaraan, dan memberikan solusi ketika ada persoalan teknis.
Persaudaraan yang Menjadi Daya Tarik
Bagi Bruder Stephanus Paiman OFMCap, kehadiran anggota baru seperti Agung menjadi warna tersendiri bagi FRKP West Borneo Vespa Lovers. Komunitas ini tidak semata-mata dibangun atas kesamaan hobi, tetapi juga berupaya merawat hubungan persaudaraan di antara para anggotanya.
Pengalaman touring ke Tanjung Api menjadi salah satu ruang untuk memperkuat kedekatan tersebut. Perjalanan bersama memberi kesempatan bagi anggota untuk saling mengenal lebih jauh, berbagi cerita, sekaligus menikmati kegemaran yang mempertemukan mereka.
Agung sendiri datang dengan latar belakang sebagai penggemar moge. Namun, setelah merasakan suasana kebersamaan bersama para pencinta Vespa, ia menemukan alasan lain untuk kembali menekuni skuter klasik tersebut.
Ada sensasi berkendara yang berbeda, tetapi ada pula pengalaman sosial yang membuat perjalanan terasa lebih bermakna. Di antara suara mesin Vespa, obrolan santai, dan perhatian antarsesama anggota, persaudaraan justru menjadi bagian yang paling membekas.
Bagi Bruder Stephanus, pengalaman semacam itulah yang membuat kegiatan komunitas tidak harus selalu dikemas dalam acara besar. Terkadang, perjalanan sederhana ke suatu tempat sudah cukup untuk menyegarkan pikiran setelah menjalani rutinitas masing-masing, sekaligus mempererat hubungan di antara sesama anggota.
FRKP West Borneo Vespa Lovers pun menjadi ruang perjumpaan bagi orang-orang dengan latar belakang berbeda yang dipersatukan oleh kegemaran terhadap Vespa. Ada yang telah lama mengendarai skuter klasik, ada yang baru kembali setelah bertahun-tahun meninggalkannya, dan ada pula yang sebelumnya lebih akrab dengan jenis kendaraan lain.
Kehadiran Agung Sri Handono menambah cerita baru dalam perjalanan komunitas tersebut. Dari sebuah Vespa milik keponakan yang kembali dibuat kinclong, tumbuh lagi keinginan untuk menikmati perjalanan bersama. Dari pengalaman touring ke Tanjung Api, muncul pula kesan tentang persaudaraan yang terasa berbeda.
Pada akhirnya, Vespa bukan hanya tentang kendaraan yang dibawa pulang setelah perjalanan usai. Ia juga tentang orang-orang yang ditemui di sepanjang jalan, cerita yang dibagikan, dan persahabatan yang tumbuh tanpa banyak syarat.
Sebab, di jalanan yang sama, setiap anggota boleh datang dengan kendaraan dan pengalaman berbeda. Namun, ketika roda mulai berputar bersama, yang dicari bukan semata-mata kecepatan, melainkan kenikmatan perjalanan dan hangatnya persaudaraan. (*)