KUBU RAYA, SP – Pengelola dapur program Makanan Bergizi Gratis (MBG) Desa Kapur, Kecamatan Sungai Raya, menegaskan pentingnya komitmen sekolah dalam mendistribusikan makanan tepat waktu.
Hal ini disampaikan Hidayat, salah seorang pengelola dapur MBG, menyikapi adanya keluhan terkait makanan yang dinilai basi atau bermasalah di sekolah-sekolah.
Menurut Hidayat, distribusi makanan dari dapur sebenarnya sudah dilakukan sesuai jadwal, yakni pagi pukul 07.30 dan siang pukul 12.00. Namun permasalahan muncul karena pihak sekolah kerap menunda pembagian kepada siswa.
“Kami sudah salurkan pagi jam setengah delapan, siang jam dua belas. Tapi yang terjadi di lapangan, ada sekolah yang baru membagikan jam setengah tiga sore. Nah, ini yang membuat makanan jadi lama tertumpuk di sekolah. Akhirnya menimbulkan kesan seolah-olah basi, padahal tidak,” jelas Hidayat, Jumat (5/9).
Ia menegaskan, dapur MBG sudah menjalankan proses sesuai standar, termasuk pemeriksaan ahli gizi. Hidayat meminta pihak sekolah agar makanan yang datang segera dibagikan, maksimal setengah jam setelah diterima.
“Kalau jam sembilan, ya jam sembilan langsung dibagi. Kalau jam dua belas siang, paling lambat jam setengah satu sudah harus didistribusikan. Kalau ditunda sampai dua jam lebih, itu sangat riskan. Kami sebagai penyuplai merasa dirugikan,” tegasnya.
Selain persoalan waktu distribusi, Hidayat juga menyinggung adanya kasus salah satu siswa di Desa Kapur yang memiliki penyakit ginjal. Siswa tersebut tidak diperbolehkan mengonsumsi makanan tertentu seperti tahu, mie, daging, atau ikan. Namun karena tidak ada daftar khusus dari sekolah, siswa tetap mengonsumsi makanan MBG hingga akhirnya sakit perut.
“Kami minta sekolah menyerahkan daftar murid yang punya gejala atau penyakit khusus. Supaya distribusi tidak salah sasaran. Jangan sampai anak-anak yang tidak boleh makan menu tertentu tetap dapat jatah dan akhirnya sakit,” kata Hidayat.
Ia juga menanggapi keluhan orang tua murid terkait makanan yang dibawa pulang dalam kondisi sudah tidak layak. Menurutnya, permasalahan bukan pada kualitas makanan dari dapur, melainkan pada cara penyimpanan.
“Kalau makanan tidak langsung dimakan di sekolah, terus dibawa pulang dalam wadah tertutup, itu jelas berpotensi basi. Apalagi kalau cuma dimakan sedikit, lalu sisanya dipindahkan ke tempat lain. Jadi tolong, guru jangan melarang anak-anak menghabiskan makanan di sekolah. Jangan dibiasakan bawa pulang karena justru bisa jadi masalah,” jelasnya.
Hidayat menambahkan, dapur MBG selalu mematuhi aturan Kementerian Kesehatan terkait porsi berdasarkan jenjang kelas. Untuk kelas 1–3 memiliki ukuran berbeda dengan kelas 4–6. Namun, masih ada sebagian guru maupun wali murid yang menginginkan porsi disamaratakan.
“Padahal sudah jelas ada permenkes yang mengatur takaran per gram untuk setiap jenjang. Kami sebagai pengelola harus ikut aturan itu. Jadi tidak bisa semua disamaratakan. Ahli gizi sudah menentukan porsinya,” ungkap Hidayat.
Ia berharap, sekolah-sekolah di Kubu Raya dapat menjalin komitmen bersama pengelola dapur agar distribusi makanan bergizi gratis berjalan sesuai aturan. “Kalau semua disiplin pada waktu distribusi, insyaallah tidak ada masalah basi. Kami siap menjaga kualitas, tapi sekolah juga harus taat,” tutupnya. (mar)