Nasional post author Kiwi 12 Agustus 2026

MPI Gelar Akademi Sejarah Muhammadiyah untuk Mendorong Penulisan Sejarah Lokal, M. Rikaz Prabowo Perwakilan PWM Kalbar Terlibat Aktif

Photo of MPI Gelar Akademi Sejarah Muhammadiyah untuk Mendorong Penulisan Sejarah Lokal, M. Rikaz Prabowo Perwakilan PWM Kalbar Terlibat Aktif

SURABAYA, SP – Muhammadiyah, sebagai salah satu organisasi Islam terbesar dan tertua di Indonesia, telah lebih dari satu abad berkiprah dan meninggalkan jejak sejarah yang bernilai penting.

Berbagai arsip, catatan, dan dokumentasi menjadi bukti perjalanan panjang organisasi tersebut.

Namun, kekayaan sumber sejarah tersebut belum seluruhnya dikelola dan dimanfaatkan secara optimal untuk melahirkan karya historiografi Muhammadiyah, khususnya yang merekam perkembangan organisasi di tingkat daerah dan kiprah amal usahanya.

Kondisi itu mendorong Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menggelar Akademi Sejarah Muhammadiyah (ASM) dalam dua gelombang.

Gelombang pertama berlangsung di Kantor PP Muhammadiyah, Yogyakarta, pada 6-10 Juli 2026.

Kegiatan ini diikuti perwakilan mahasiswa yang didampingi dosen dari sejumlah Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA) yang memiliki Program Studi Pendidikan Sejarah, yakni Universitas Muhammadiyah Palembang, Universitas Muhammadiyah Metro, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (Uhamka), Universitas Muhammadiyah Purwokerto, dan Universitas Muhammadiyah Mataram.

Sementara itu, gelombang kedua menyasar para penulis sejarah lokal Muhammadiyah, terutama mereka yang aktif di lingkungan MPI tingkat wilayah maupun daerah.

Peserta berasal dari berbagai daerah, antara lain Riau, Metro, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Gresik, Nganjuk, Jawa Timur, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Selatan.

ASM gelombang kedua digelar di Hotel Dafam, Surabaya, pada 7-11 Agustus 2026. Kegiatan tersebut juga dihadiri kaprodi Pendidikan Sejarah dari UM Metro dan UM Purwokerto, perwakilan Aisyiyah, mahasiswa sejarah Universitas Airlangga, serta guru sejarah SMA Muhammadiyah di sejumlah wilayah Jawa Timur.

Memperkuat Tradisi Penulisan Sejarah Lokal

Akademi Sejarah Muhammadiyah digelar untuk memperkuat tradisi penulisan sejarah lokal Muhammadiyah melalui pembekalan materi sejarah, ekskursi sejarah, hingga penyusunan desain penelitian sejarah.

Kegiatan ini juga diarahkan untuk mendorong lahirnya karya sejarah Muhammadiyah yang lebih multiperspektif dengan menggunakan beragam pendekatan.

Kajian sejarah tidak hanya diarahkan pada perjalanan organisasi secara umum, tetapi juga dapat mengangkat kiprah Aisyiyah, perkembangan amal usaha, tokoh-tokoh Muhammadiyah, serta relasi Muhammadiyah dengan kondisi sosial, budaya, dan politik di masing-masing daerah.

Khusus peserta ASM gelombang kedua yang mengikuti kegiatan dalam format Training of Trainer (ToT), mereka diharapkan mampu meneruskan pengetahuan yang diperoleh dengan menyelenggarakan pelatihan serupa di daerah masing-masing.

Dengan demikian, kegiatan tersebut diharapkan dapat mendorong lahirnya lebih banyak karya sejarah Muhammadiyah yang merekam perjalanan organisasi di tingkat lokal.

Wakil Ketua MPI PP Muhammadiyah, Widyastuti, mengatakan belum semua wilayah Muhammadiyah memiliki buku yang secara khusus menguraikan perjalanan sejarah Muhammadiyah di daerahnya.

Sementara itu, sejumlah karya sejarah yang telah tersedia juga dinilai perlu diperbarui dan disesuaikan dengan kaidah metodologi sejarah.

“Karena itu, kegiatan ini penting dilakukan agar setiap klaim historis tentang Muhammadiyah memiliki pijakan bukti yang kuat,” ujar Widyastuti.

Libatkan Akademisi dan Sejarawan

ASM menghadirkan sejumlah narasumber dari MPI PP Muhammadiyah dan kalangan akademisi. Di antaranya Widyastuti, Ghifari Yuristiadi, dan M. Ichsan Budi Prabowo.

Sejumlah akademisi sejarah juga memberikan materi, antara lain Prof. Purnawan Basundoro dan Prof. Sarkawi B. Husein dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga.

Keduanya juga merupakan bagian dari Dewan Pakar MPI PP Muhammadiyah.

Selain itu, hadir Riswinarno dari UIN Sunan Kalijaga dan Iwan Setiawan dari Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta.

Salah satu momentum penting dalam kegiatan tersebut adalah terbentuknya Asosiasi Program Studi Pendidikan Sejarah PTMA se-Indonesia. Asosiasi tersebut diketuai Dr. Johan Setiawan, Ketua Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Muhammadiyah Metro.

Asosiasi ini diharapkan menjadi salah satu unsur penting dalam memperkuat ekosistem akademik sekaligus mendukung pengembangan pelatihan dan penulisan sejarah Muhammadiyah di berbagai daerah.

M. Rikaz Prabowo Wakili Kalbar

Dari Kalimantan Barat, MPI Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Kalbar mengutus M. Rikaz Prabowo untuk mengikuti Akademi Sejarah Muhammadiyah gelombang kedua.

Keikutsertaan tersebut diharapkan tidak berhenti pada peningkatan kapasitas personal, tetapi dapat ditindaklanjuti dengan merancang kegiatan serupa di Kalimantan.

“Harapannya, ilmu dan pengalaman yang diperoleh dari ASM ini dapat dibawa pulang dan dikembangkan menjadi kegiatan pelatihan penulisan sejarah Muhammadiyah di daerah,” demikian harapan yang disampaikan terkait keikutsertaan perwakilan Kalbar tersebut.

Upaya ini dinilai penting mengingat penulisan sejarah Muhammadiyah di Kalimantan Barat hingga kini masih tergolong minim.

Melalui penguatan kapasitas penulis lokal, pengelolaan arsip, serta keterlibatan akademisi dan kader Muhammadiyah, diharapkan semakin banyak sejarah Muhammadiyah di Kalimantan Barat yang terdokumentasi secara ilmiah, berbasis sumber, dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang. (*)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda