PONTIANAK, SP - Kabut pagi belum sepenuhnya menghilang ketika cahaya matahari mulai menyentuh punggung Bukit Raya Sambora.
Perlahan, warna hijau perbukitan muncul dari balik selimut putih yang sejak dini hari menggantung di lembah.
Embun masih menempel di dedaunan, sementara suara burung terdengar bersahutan di antara pepohonan.
Dari ketinggian sekitar 606 meter di atas permukaan laut, Bukit Raya Sambora seperti menyimpan sebuah rahasia besar.
Di tempat yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Kota Pontianak itu, terbentang panorama alam yang selama ini belum banyak diketahui orang.
Perbukitan yang berlapis-lapis, udara yang sejuk, serta bentang alam yang luas menjadikan kawasan tersebut memiliki daya tarik tersendiri.
Namun, selama bertahun-tahun, keindahan itu hanya mampu dinikmati oleh mereka yang bersedia melewati perjalanan panjang dengan medan yang tidak mudah.
Jalan menuju puncak menjadi tantangan utama. Jalur tanah berbatu, tanjakan curam, serta kondisi yang licin ketika hujan membuat tidak semua orang dapat mencapai titik terbaik untuk menikmati panorama Bukit Raya Sambora.
Di situlah persoalan terbesar kawasan ini berada. Bukan pada keindahan alamnya, melainkan pada akses yang belum mampu mengantarkan potensi tersebut kepada lebih banyak orang.
Kini, persoalan itu perlahan mulai berubah. Sebuah jalan baru sedang membuka peluang bagi Bukit Raya Sambora untuk tumbuh menjadi salah satu destinasi sport tourism unggulan Kalimantan Barat (Kalbar).

Menemukan Potensi dari Udara
Jauh sebelum pembangunan akses dilakukan, perhatian terhadap Bukit Raya Sambora datang dari dunia olahraga dirgantara.
Karakter alam kawasan tersebut dinilai memiliki potensi besar untuk pengembangan paralayang. Ketinggian bukit, bentang terbuka, serta kondisi angin menjadi faktor penting yang membuat lokasi ini menarik untuk dikaji.
Melalui Pusat Teritorial TNI AU (Pusterau), TNI Angkatan Udara melakukan survei dan sertifikasi venue paralayang pada 20-22 April 2026.
Direktur Bidang Sumber Daya Pusat (Dirbidsumda) Pusterau, Kolonel Pom Tomi Wahyu I, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari pembinaan teritorial TNI AU sekaligus mendukung pengembangan olahraga kedirgantaraan.
"Kami telah melaksanakan survei lokasi dan sertifikasi venue paralayang di Bukit Sambora. Kegiatan ini untuk melihat kelayakan kawasan sebagai lokasi olahraga dirgantara," ujarnya.
Survei dilakukan secara menyeluruh. Tim menilai kondisi geografis, arah angin, tingkat keamanan, hingga kesiapan lokasi sebagai arena paralayang.
Pengujian juga melibatkan atlet paralayang berpengalaman untuk memastikan karakter kawasan tersebut memenuhi standar yang diperlukan.
Menurut Tomi, Bukit Raya Sambora memiliki peluang besar untuk berkembang lebih jauh.
"Panorama alamnya sangat menarik dan karakter anginnya sangat ideal. Ini memiliki peluang besar menjadi destinasi sport tourism yang mampu menarik wisatawan domestik maupun mancanegara," katanya.
Hasil kajian tersebut semakin memperkuat keyakinan bahwa Sambora memiliki modal alam yang kuat. Namun, potensi itu membutuhkan dukungan lain yang tidak kalah penting: infrastruktur.
Ketika Pemerintah Melihat Harapan
Pesona Bukit Raya Sambora juga menarik perhatian Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalbar. Gubernur Kalbar, Ria Norsan menjadi salah satu yang melihat langsung potensi kawasan tersebut.
Dari atas bukit, ia melihat bagaimana alam Kalbar terbentang luas dengan pemandangan yang sulit ditemukan di lokasi lain.
"Pemandangan di sini sangat luar biasa. Jarang kita temukan pemandangan seindah ini," ujarnya.
Namun kekaguman terhadap panorama tersebut berjalan beriringan dengan kesadaran bahwa kawasan ini membutuhkan akses yang lebih baik.
Selama ini, masyarakat Desa Sambora memahami betul bahwa jalan menjadi salah satu penghambat utama perkembangan kawasan.
Wisatawan yang ingin berkunjung harus menghadapi medan berat. Bagi masyarakat, kondisi itu juga menyulitkan aktivitas sehari-hari dan menghambat peluang ekonomi yang sebenarnya bisa tumbuh.
Ria Norsan menilai, pembukaan akses menuju Bukit Raya Sambora akan memberikan dampak langsung bagi masyarakat.
Menurutnya, ketika kawasan wisata berkembang, peluang usaha seperti kuliner, homestay, transportasi lokal, hingga produk UMKM dapat ikut bergerak.
Keindahan alam, kata dia, harus mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

TMMD dan Jalan yang Membuka Masa Depan
Harapan tersebut kemudian bertemu dengan semangat pengabdian TNI Angkatan Udara melalui Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) TNI AU ke-1 Lanud Supadio.
Selama sebulan, Desa Sambora, Kecamatan Toho, Kabupaten Mempawah, Provinsi Kalbar, menjadi saksi pengabdian Program TMMD TNI AU ke-1 oleh Lanud Supadio yang dibuka pada 8 November 2025 berlangsung selama 30 hari hingga 8 Desember 2025.
Bukit Raya Sambora menjadi salah satu lokasi pembangunan yang menjadi perhatian utama dalam program tersebut, yaitu mewujudkan venue paralayang di Bukit Raya Sambora melalui perbaikan akses jalan, penguatan sarana olahraga dirgantara, dan pembukaan konektivitas wisata.
Bagi masyarakat, TMMD membawa arti lebih besar daripada sekadar pembangunan fisik. Kehadiran prajurit TNI AU bersama warga menghadirkan kembali semangat gotong royong yang selama ini menjadi kekuatan masyarakat desa.
Mereka bekerja bersama membuka dan memperbaiki akses menuju kawasan perbukitan. Komandan Lanud (Danlanud) Supadio, Marsekal Pertama (Marsma) TNI Sidik Setiyono mengatakan pembangunan jalan tersebut merupakan bagian dari upaya membuka peluang baru bagi masyarakat.
"Pembangunan jalan menuju Bukit Raya Sambora memiliki makna jauh lebih besar daripada sekadar membuka akses. Yang dibangun adalah kepercayaan masyarakat bahwa potensi desa mereka memiliki nilai yang layak diperjuangkan," katanya.
Menurutnya, jalan tersebut nantinya tidak hanya digunakan masyarakat, tetapi juga menjadi jalur bagi wisatawan, atlet paralayang, pelaku UMKM, dan generasi muda yang ingin mengembangkan potensi daerahnya.
"Yang kami bangun adalah optimisme. Bahwa keindahan alam tidak lagi hanya menjadi kebanggaan masyarakat desa, tetapi dapat berubah menjadi sumber kesejahteraan," ujarnya.

Harapan yang Tumbuh di Tengah Masyarakat
Perubahan akses menuju Bukit Raya Sambora mulai dirasakan masyarakat.
Tokoh masyarakat Desa Sambora, Panglima Pangalok Jilah, melihat pembangunan jalan tersebut sebagai awal perubahan besar bagi desanya.
"Program ini memberikan manfaat yang sangat besar bagi masyarakat. Jalan menjadi lebih mudah dilalui, aktivitas ekonomi akan berkembang, dan berbagai kebutuhan masyarakat semakin mudah dipenuhi," katanya.
Sebagai putra asli Sambora, ia memahami bagaimana keterbatasan akses selama ini membatasi perkembangan desa.
Menurutnya, jalan baru membuka kemungkinan yang lebih luas. Hasil pertanian dan perkebunan lebih mudah dibawa keluar, sementara peluang ekonomi dari sektor wisata mulai terbuka.
Ia berharap pengembangan Bukit Raya Sambora tetap melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama.
"Kalau pengembangan dilakukan secara berkelanjutan, anak-anak muda memiliki peluang kerja, UMKM berkembang, dan masyarakat tetap dapat menjaga budaya serta kelestarian alam," ujarnya.
Baginya, jalan memiliki arti yang sederhana namun mendalam.
"Jalan adalah awal perubahan. Jalan adalah pembuka peluang. Jalan adalah penghubung antara desa kami dengan masa depan yang lebih sejahtera."
Terbang Menuju Masa Depan
Bagi komunitas olahraga dirgantara Kalbar, langkah yang dilakukan di Bukit Raya Sambora menjadi rangkaian penting menuju cita-cita besar.
Ketua Cabang Olahraga (Cabor) Paralayang Federasi Aero Sport Indonesia (FASIDA) Kalbar, Harry Furqan, mengatakan survei venue, sertifikasi paralayang, pembukaan area take off, hingga pembangunan jalan melalui TMMD merupakan proses yang saling mendukung.
"Kami mengucapkan terima kasih kepada Danlanud Supadio atas dukungan penuh terhadap pengembangan olahraga dirgantara di Bukit Raya Sambora," katanya.
Menurut Harry, dukungan infrastruktur menjadi faktor penting agar kawasan tersebut siap menjadi lokasi penyelenggaraan kejuaraan paralayang tingkat regional maupun nasional.
Kini, Bukit Raya Sambora mulai menatap masa depan baru. Jalan yang dahulu menjadi penghalang perlahan berubah menjadi penghubung.
Menghubungkan masyarakat dengan peluang ekonomi, menghubungkan wisatawan dengan keindahan alam, dan menghubungkan Kalimantan Barat dengan potensi baru olahraga dirgantara.
TMMD TNI AU ke-1 Lanud Supadio memang memiliki batas waktu pelaksanaan. Namun jejaknya akan tetap tinggal di Sambora.
Sebab yang dibangun di sana bukan sekadar jalan menuju puncak bukit.
Yang dibangun adalah jalan harapan.
Sebuah jalur yang membawa Bukit Raya Sambora melangkah dari kawasan yang tersembunyi menuju gerbang baru sport tourism Kalimantan Barat, menuju langit Khatulistiwa. (aep mulyanto)