PONTIANAK, SP – Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Provinsi Kalimantan Barat terus memperkuat aspek keselamatan dalam pengelolaan destinasi wisata, khususnya wisata tirta yang memiliki tingkat risiko tinggi.
Melalui Bidang Pengembangan Destinasi Wisata, Disporapar Kalbar menggelar Pelatihan Peningkatan Keselamatan Wisata Tirta yang melibatkan pelaku usaha pariwisata, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), hingga komunitas wisata dari Kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya.
Pelatihan tersebut dirancang untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di sektor pariwisata agar mampu melakukan langkah-langkah pencegahan maupun penanganan awal apabila terjadi kecelakaan di destinasi wisata berbasis air.
Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Wisata Disporapar Kalbar, Rita Hastarita, mengatakan keselamatan wisatawan merupakan prioritas utama dalam pengembangan sektor pariwisata di Kalimantan Barat.
Menurutnya, pelatihan diawali dengan pemberian materi teori yang menghadirkan narasumber dari Basarnas, BMKG, dan PMI, sebelum peserta mengikuti simulasi penanganan kondisi darurat di lapangan.
“Sebagai salah satu prioritas dalam pengelolaan pariwisata adalah keselamatan wisatawan. Karena itu kami melaksanakan pelatihan yang diawali dengan penyampaian materi kepada pelaku usaha, kelompok sadar wisata, dan komunitas wisata dengan melibatkan Basarnas, BMKG, serta PMI,” ujarnya pada Kamis (30/7/2026).
Rita menjelaskan terdapat tiga aspek utama yang menjadi perhatian dalam menciptakan destinasi wisata yang aman. Pertama, tersedianya sarana keselamatan seperti alat pelindung diri (APD), alat pemadam api ringan (APAR), hingga perlengkapan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K).
Kedua, tersedianya sumber daya manusia yang kompeten melalui pelatihan. Ketiga, penerapan standar operasional keselamatan di setiap destinasi wisata.
Menurutnya, wisata tirta memiliki karakteristik risiko yang lebih tinggi dibandingkan jenis wisata lainnya sehingga pengelola destinasi harus memiliki kemampuan dasar melakukan pertolongan pertama apabila terjadi insiden.
“Melalui pelatihan ini kami ingin menciptakan SDM yang kompeten sehingga pelaku usaha mampu menyediakan sistem keselamatan bagi wisatawan. Khusus wisata tirta, pemandu wisata harus memiliki kemampuan khusus karena termasuk kategori wisata berisiko tinggi,” jelasnya.
Setelah mendapatkan pembekalan teori, para peserta mengikuti simulasi penyelamatan dan pertolongan pertama, baik menggunakan peralatan maupun tanpa peralatan.
“Hasil evaluasi kami menunjukkan peserta mampu melakukan penanganan pertolongan pertama terhadap kecelakaan, baik tanpa peralatan maupun menggunakan peralatan penyelamatan,” tambah Rita.
Ia menegaskan, pelatihan serupa akan terus dilaksanakan dengan materi yang lebih luas, termasuk tata kelola destinasi wisata dan peningkatan standar keselamatan di berbagai objek wisata di Kalimantan Barat.
Salah satu peserta, Sandi Fikriansyah dari Komunitas Penambang Speed Parit Seduit, mengaku pelatihan tersebut sangat membantu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para pelaku wisata sungai.
“Bagi kami penambang speed, pelatihan ini sangat bermanfaat untuk meningkatkan keselamatan wisatawan. Keselamatan menjadi hal yang paling utama bagi wisatawan yang kami bawa setiap hari,” katanya.
Hal senada disampaikan Ketua Pokdarwis Desa Jeruju Besar, Jabir, yang menilai aspek keselamatan merupakan faktor utama dalam membangun kepercayaan wisatawan terhadap sebuah destinasi.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Disporapar Provinsi Kalbar atas pelatihan ini. Bagi kami, yang paling utama bukan hanya menyajikan pemandangan yang indah, tetapi memastikan wisatawan merasa aman, nyaman, dan terlindungi selama berkunjung,” ujarnya.
Melalui pelatihan tersebut, Disporapar Kalbar berharap lahir semakin banyak pelaku wisata yang memiliki kompetensi dasar penyelamatan sehingga mampu memberikan pelayanan yang profesional sekaligus memperkuat citra destinasi wisata Kalimantan Barat sebagai kawasan wisata yang aman, nyaman, dan berstandar keselamatan.(din)