PONTIANAK, SP— Kepedulian terhadap pendidikan anak-anak Tuli mengantarkan Ketua Yayasan Bhakti Arumi Delangga sekaligus penggerak Maktab Tuli As-Sami, M. Fakhrul Maulana, terpilih sebagai Pemuda Pelopor Kalimantan Barat (Kalbar) 2026 dibidang pendidikan.
Penghargaan ini menjadi pengakuan atas upaya yang dibangunnya untuk memperluas akses pendidikan yang inklusif bagi komunitas Tuli.
Fakhrul mewakili Kota Pontianak dalam ajang Pemuda Pelopor Kalbar 2026. Ia mengusung gerakan pendidikan inklusif bagi anak-anak tuli dan komunitas tuli melalui Maktab Tuli As-Sami, sebuah upaya untuk menjawab tantangan keterbatasan akses pendidikan yang masih dihadapi penyandang disabilitas tuli.
Penghargaan tersebut diserahkan dalam rangkaian peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 yang berlangsung di Aula Garuda, Kantor Gubernur Kalbar, Rabu (28/10).
Peringatan tahun ini mengangkat tema Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia, yang sejalan dengan semangat pengabdian dan kepedulian sosial yang menjadi dasar gerakan Fakhrul.
Menurutnya, capaian tersebut bukan semata-mata tentang penghargaan pribadi, melainkan lebih dari itu. Pengakuan ini menjadi pengingat bahwa persoalan akses pendidikan bagi tuli membutuhkan perhatian, keterlibatan, dan kerja nyata dari berbagai pihak.
Melalui Maktab Tuli As-Sami, ia berupaya membuka ruang belajar yang lebih mudah diakses oleh anak-anak tuli. Gerakan ini dibangun dengan keyakinan bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk belajar, berkembang, dan menentukan masa depannya, tanpa terhalang oleh hambatan komunikasi maupun keterbatasan akses layanan pendidikan.
"Apresiasi kepada para pemuda pelopor lainnya yang dinilainya memiliki semangat dan kontribusi luar biasa bagi masyarakat. Mereka adalah Hasya Dini Alamsyah di bidang pangan, Reyfadhil Maulana Arzaky di bidang seni dan budaya, serta Dalan di bidang inovasi teknologi," ujar Fakhrul.
Sambungnya, para pemuda tersebut menunjukkan bahwa usia muda bukanlah penghalang untuk menghadirkan perubahan. Ketekunan, keberanian berinovasi, dan kepedulian terhadap persoalan di sekitar merupakan modal penting untuk menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat.
Semangat itu turut menjadi pembahasan dalam Talkshow Pemuda Pelopor Kalbar 2026 yang berlangsung pada sore itu, dengan moderator Jamaludin, S.T., M.Ling. Forum tersebut menjadi ruang untuk berbagi pengalaman, gagasan, dan motivasi tentang peran pemuda dalam menjawab berbagai tantangan sosial melalui bidang pengabdian masing-masing.
Di balik pencapaian tersebut, Fakhrul menyimpan alasan personal yang membuat perjuangannya terasa lebih bermakna. Ia mendedikasikan capaian ini kepada almarhum ayahnya, sosok yang sejak kecil mengajarkannya untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi banyak orang, meskipun hanya melalui langkah-langkah sederhana.
Nilai yang diwariskan sang ayah itu terus ia pegang dalam perjalanan pengabdiannya. Baginya, kebermanfaatan tidak harus menunggu seseorang menjadi besar, terkenal, atau memiliki jabatan tertentu.
Kepedulian dapat dimulai dari keberanian melihat persoalan di sekitar dan kemauan untuk mengambil bagian dalam mencari jalan keluar.
“Perjalanan ini bukan sekadar tentang penghargaan, tetapi tentang keberanian untuk memulai, kepedulian untuk bergerak, dan komitmen untuk menghadirkan perubahan nyata bagi masyarakat. Melalui perjuangan membangun pendidikan inklusif bagi tuli, saya belajar bahwa setiap anak berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar, tumbuh, dan meraih masa depan,” ungkap Fakhrul.
Ia menegaskan bahwa menjadi pelopor bukan tentang siapa yang paling hebat, melainkan siapa yang bersedia mengambil langkah pertama ketika perubahan dibutuhkan. Dari kepedulian, sebuah gerakan dapat tumbuh; dari langkah kecil, dampak nyata bagi masyarakat dapat diwujudkan.
Fakhrul juga mengajak generasi muda di Kalimantan Barat dan seluruh Indonesia untuk tidak menunda berbuat baik hanya karena merasa belum memiliki kemampuan atau pencapaian yang besar.
“Jangan menunggu hebat, besar, dan bergelar untuk menjadi bermanfaat. Perubahan besar dimulai dari langkah-langkah kecil. Amati lingkungan sekitar, tumbuhkan keresahan terhadap persoalan yang ada, kemudian cari solusinya. Dari situlah langkah awal untuk menjadi pribadi yang bermanfaat dimulai,” pesannya.
Terpilihnya Fakhrul sebagai Pemuda Pelopor Kalbar 2026 menjadi pengingat bahwa kepeloporan tidak selalu berawal dari sesuatu yang besar. Terkadang, perubahan justru lahir dari keberanian untuk peduli terhadap persoalan yang kerap luput dari perhatian.
Melalui perjuangan pendidikan inklusif bagi tuli, Fakhrul membawa pesan bahwa pemuda tidak cukup hanya menjadi harapan masa depan. Pemuda juga memiliki peran penting sebagai penggerak perubahan hari ini, dengan menghadirkan kesempatan yang lebih setara bagi setiap orang untuk belajar, bertumbuh, dan berdaya. (*)