Ponticity post author Kiwi 12 Oktober 2026

Mahasiswa Kandidat Doktor UNISMA Gelar FGD, Perkuat Peran Penyuluh Agama Wujudkan Pontianak sebagai Kota Bersahabat

Photo of Mahasiswa Kandidat Doktor UNISMA Gelar FGD, Perkuat Peran Penyuluh Agama Wujudkan Pontianak sebagai Kota Bersahabat

PONTIANAK, SP - Mahasiswa Kandidat Doktor Universitas Islam Malang (UNISMA) yang berada di Kalimantan Barat (Kalbar) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema “Optimalisasi Peran Penyuluh Agama sebagai Penggerak Moderasi Beragama dan Pencegahan Konflik Sosial dalam Mewujudkan Pontianak sebagai Kota Bersahabat”.

Kegiatan ini berlangsung beberapa waktu lalu di Aula Pusat Layanan Haji dan Umrah Terpadu (PLHUT) Kementerian Haji dan Umrah Kota Pontianak.

Kegiatan yang diikuti sekitar 80 penyuluh agama Kementerian Agama Kota Pontianak ini merupakan bagian dari program Kandidat Doktor Mengabdi UNISMA, sebagai wujud kontribusi akademisi dalam menjawab tantangan kehidupan sosial dan keagamaan di tengah masyarakat yang majemuk.

FGD menghadirkan tiga narasumber, yakni Prof. Dr. KH. Imam Suprayogo, M.Pd., Guru Besar UNISMA; Prof. M. Mas'ud Sa'id, M.M., Ph.D., Direktur Pascasarjana UNISMA; serta Muammar Khadapi, Lc., M.H., Ketua IPIM Kalimantan Barat sekaligus mahasiswa program doktoral UNISMA.

Rangkaian kegiatan diawali dengan sambutan perwakilan Kementerian Agama Kota Pontianak, Ketua IPARI Kota Pontianak, dan Ketua DPRD Kota Pontianak. Acara kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh ketiga narasumber, diskusi, serta sesi tanya jawab bersama peserta.

Dalam pemaparannya, Prof. Dr. KH. Imam Suprayogo menekankan hakikat profesi penyuluh agama, termasuk peran, tanggung jawab, dan kontribusinya dalam membina masyarakat. Penyuluh agama tidak hanya bertugas menyampaikan pesan-pesan keagamaan, tetapi juga memiliki tanggung jawab membangun kesadaran beragama yang bijaksana, memperkuat akhlak, dan menumbuhkan kehidupan sosial yang harmonis.

Sementara itu, Prof. M. Mas'ud Sa'id mengangkat keteladanan tokoh-tokoh moderasi beragama, di antaranya KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Nilai-nilai yang diwariskan Gus Dur, terutama penghormatan terhadap kemanusiaan, keterbukaan, toleransi, dan penghargaan terhadap perbedaan, menjadi pelajaran penting bagi para penyuluh agama dalam menjalankan tugas pembinaan masyarakat.

Menurutnya, moderasi beragama perlu diwujudkan melalui sikap dan tindakan nyata, bukan sekadar menjadi wacana. Penyuluh agama diharapkan mampu menjadi teladan dalam merawat kerukunan, membangun komunikasi lintas kelompok, dan mengembangkan pemahaman keagamaan yang menghargai kemajemukan.

Adapun Muammar Khadapi, Lc., M.H., menyoroti pentingnya memulai praktik moderasi beragama dari lingkungan terdekat, termasuk masjid. Ia menyampaikan bahwa perbedaan amaliyah di kalangan umat Islam hendaknya disikapi dengan saling menghormati, mengedepankan toleransi, serta menghindari sikap yang dapat memicu perselisihan.

Menurut Muammar, masjid memiliki posisi strategis bukan hanya sebagai pusat ibadah, melainkan juga sebagai ruang pembinaan umat, pendidikan akhlak, dan penguatan persaudaraan. Karena itu, pengurus masjid, imam, dan penyuluh agama perlu bersinergi menghadirkan dakwah yang menyejukkan, inklusif, dan mampu merawat persatuan masyarakat.

“Praktik moderasi beragama dapat dimulai dari masjid masing-masing. Perbedaan amaliyah hendaknya tidak menjadi sumber perpecahan, tetapi disikapi dengan saling menghormati dan menjaga kerukunan,” menjadi pesan utama yang disampaikan Muammar dalam forum tersebut.

Memperkuat Sinergi dan Mencegah Konflik Sosial

Penyelenggaraan FGD ini dilatarbelakangi pentingnya memperkuat peran strategis penyuluh agama dalam menghadapi dinamika kehidupan masyarakat yang beragam. Sebagai pihak yang berinteraksi langsung dengan masyarakat, penyuluh agama memiliki posisi penting dalam memberikan pemahaman keagamaan yang moderat, mendeteksi potensi konflik, serta membangun komunikasi dan kepercayaan di antara kelompok masyarakat.

Melalui kegiatan ini, para peserta diharapkan memperoleh penguatan wawasan dan kapasitas dalam menjalankan fungsi edukasi, konsultasi keagamaan, pendampingan masyarakat, serta pencegahan konflik sosial. Selain itu, forum ini menjadi ruang untuk mempertemukan gagasan akademik dengan pengalaman praktis para penyuluh di lapangan.

FGD tersebut juga mendorong penguatan sinergi antara penyuluh agama, pemerintah, tokoh agama, pengurus rumah ibadah, dan berbagai elemen masyarakat. Kolaborasi ini dinilai penting agar upaya menjaga toleransi dan kerukunan tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi menjadi gerakan bersama yang berkelanjutan.

Menuju Pontianak sebagai Kota Bersahabat

Melalui program Kandidat Doktor Mengabdi, mahasiswa S3 UNISMA di Kalimantan Barat berupaya menghadirkan kontribusi nyata perguruan tinggi bagi masyarakat. Kegiatan ini sekaligus menunjukkan bahwa pengembangan ilmu pengetahuan di lingkungan akademik perlu berjalan seiring dengan pengabdian dan penyelesaian persoalan sosial di tengah masyarakat.

Dari FGD ini diharapkan lahir gagasan dan langkah konkret untuk mengoptimalkan peran penyuluh agama sebagai penggerak moderasi beragama, memperkuat kemampuan pencegahan konflik sosial, serta membangun budaya dialog dan saling menghormati.

Dengan demikian, penyuluh agama diharapkan semakin berperan sebagai agen perdamaian yang mampu merawat keberagaman, memperkuat persaudaraan, dan menjaga keharmonisan kehidupan bermasyarakat.

Upaya tersebut menjadi bagian penting dalam mewujudkan Pontianak sebagai kota yang aman, rukun, toleran, dan bersahabat bagi seluruh warga, tanpa memandang perbedaan agama, suku, maupun latar belakang sosial.

Kegiatan Kandidat Doktor Mengabdi UNISMA ini diharapkan tidak berhenti pada forum diskusi, tetapi berlanjut menjadi praktik nyata dalam pelayanan dan pembinaan keagamaan yang menyejukkan, humanis, serta berorientasi pada terwujudnya kehidupan masyarakat yang damai dan harmonis. (*)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda