Ponticity post authorKiwi 15 Mei 2026

PGD Kalbar 2026 Jadi Panggung Gagasan Dayak Menatap IKN

Photo of PGD Kalbar 2026 Jadi Panggung Gagasan Dayak Menatap IKN Panitia Pekan Gawai Dayak Kalbar ke-XL tahun 2026 memberikan keterangan terkait pelaksanaan acara ruang diskusi strategis tentang SDM Dayak, kearifan lokal, dan peran Kalimantan dalam pembangunan IKN. Foto : Istimewa.

PONTIANAK, SP – Pekan Gawai Dayak (PGD) Kalbar ke-XL tahun 2026 dipastikan berlangsung lebih semarak dan berkelas internasional. Perhelatan budaya terbesar masyarakat Dayak di Kalbar itu akan digelar di Rumah Radakng Pontianak pada 20 hingga 24 Mei 2026 mendatang.

Namun tahun ini, PGD tidak hanya hadir sebagai pesta budaya dan hiburan semata. Panitia menyiapkan ruang yang lebih luas bagi masyarakat Dayak untuk berbicara tentang masa depan, pembangunan sumber daya manusia, hingga posisi strategis Kalimantan dalam menyambut Ibu Kota Nusantara (IKN).

Sedikitnya 400 tamu dari Konsulat Malaysia yang mencakup delegasi Sabah dan Sarawak dipastikan hadir dalam perayaan budaya tahunan tersebut. 

Kehadiran tamu mancanegara itu menjadi penanda bahwa PGD kini telah berkembang menjadi agenda budaya berskala internasional yang mendapat perhatian luas, termasuk dari kalangan akademisi dan pemerhati budaya lintas negara.

Ketua Panitia Pekan Gawai Dayak XL, Thomas Aleksander, mengatakan PGD tahun ini memang dirancang tidak hanya menonjolkan sisi hiburan, tetapi juga menjadi ruang pertukaran gagasan intelektual terkait masa depan masyarakat Dayak di tengah arus globalisasi dan pembangunan IKN.

“PGD tahun ini tidak hanya menampilkan aspek hiburan, tetapi juga menyentuh ranah pertukaran gagasan intelektual melalui seminar yang akan digelar pada 19 Mei 2026,” ujarnya, kemarin.

Salah satu agenda utama yang dipastikan dalam rapat pleno persiapan adalah Seminar Nasional yang akan berlangsung sehari sebelum pembukaan PGD. Seminar tersebut mengusung tema besar “Pemberdayaan Masyarakat Dayak dalam Arus Globalisasi: Strategi Pembangunan Manusia Berbasis Pendidikan dan Kearifan Lokal di Kalimantan untuk Memperkuat Peran Masyarakat Dayak di Ibu Kota Nusantara”.

Tema itu dinilai relevan dengan posisi Kalimantan yang kini menjadi pusat perhatian nasional sejak ditetapkannya IKN di Pulau Borneo. Panitia ingin memastikan masyarakat Dayak tidak hanya menjadi penonton di tanah sendiri, tetapi ikut menjadi bagian penting dalam pembangunan nasional.

“Melalui diskusi pada seminar tersebut, diharapkan lahir strategi konkret agar kearifan lokal Kalimantan tetap menjadi fondasi kuat dalam memperkuat peran masyarakat Dayak di tengah masifnya pembangunan ibu kota baru,” kata Thomas.

Ia mengungkapkan, hasil seminar nantinya tidak berhenti sebagai diskusi semata. Panitia bahkan menargetkan lahirnya 10 rekomendasi strategis yang akan dibawa dan disampaikan langsung kepada pemerintah pusat di Jakarta.

“Hasil seminar akan kita bawa ke Jakarta. Lewat seminar ini kami ingin mempertegas posisi kita seperti apa sebagai penyangga IKN. Tentu kita harus berpartisipasi,” tegasnya.

Menurut Thomas, masyarakat Dayak dan masyarakat Kalimantan secara umum harus mendapat ruang besar dalam pembangunan IKN karena secara geografis maupun historis, pusat negara kini berada di Kalimantan.

“Kita siap mendukung sepenuhnya kebijakan negara, pemerintah pusat dan daerah untuk berpartisipasi mendukung IKN. Karena secara de facto dan de jure ini di Kalimantan, artinya Kalimantan harus mendapatkan porsi yang besar ketimbang yang lainnya,” ujarnya.

Ia menilai akan menjadi ironi apabila masyarakat lokal justru tersisih di tengah pembangunan besar yang berlangsung di tanah sendiri.

“Aneh kalau kita di sini hanya menjadi penonton. Tidak bisa. Kita harus berpartisipasi dan mendukung,” katanya.

Thomas juga menyoroti pentingnya kesiapan sumber daya manusia lokal dalam menyongsong pembangunan IKN. Menurutnya, masyarakat Kalimantan memiliki pemahaman paling kuat terkait karakter sosial, budaya, dan lingkungan di wilayah tersebut.

“Sumber daya manusia kita sudah siap. Yang paham Kalimantan ini orang Kalimantan. Kalau mereka masuk dalam struktur pemerintahan tentu mereka paham karena mereka adalah masyarakat asli di Kalimantan,” ungkapnya.

Skala internasional seminar itu juga diperkuat dengan kehadiran akademisi mancanegara, salah satunya Dr. Louis Ringah Kanyan, Dekan Fakultas Seni Gunaan dan Kreatif Universitas Malaysia Sarawak (UNIMAS). Kehadiran akademisi dari Malaysia tersebut menjadi simbol sinergi lintas negara dalam pelestarian budaya dan pengembangan masyarakat Dayak di era globalisasi.

Selain itu, seminar juga akan menghadirkan sejumlah tokoh nasional seperti Ketua Komisi V DPR RI Lasarus dan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Dr. Fauzan, M.Pd.

Diskusi lintas sektor yang mempertemukan pemerintah, akademisi internasional, hingga tokoh masyarakat tersebut akan dipandu akademisi senior Prof. Bunau sebagai moderator.

Panitia juga menggandeng influencer muda untuk menarik keterlibatan generasi muda dalam pelestarian budaya Dayak sekaligus memperluas gaung PGD di ruang digital.

Dengan konsep tersebut, PGD XL 2026 diharapkan bukan hanya menjadi perayaan budaya tahunan, tetapi juga momentum penting memperkuat identitas, posisi strategis, dan kesiapan masyarakat Dayak menghadapi perubahan besar di Pulau Kalimantan. (din)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda