PONTIANAK, SP - Aroma kopi Liberika menyeruak dari sudut ruang roasting 101 Coffee House and Roastery di Jalan Ujung Pandang, Kota Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar).
Di balik meja bar, Along Madi dengan cekatan meracik seduhan kopi untuk pelanggan yang mulai ramai berdatangan.
Dengan senyum khasnya, pria penyandang tuna daksa ringan itu menyapa pelanggan satu per satu, mencatat pesanan, lalu kembali fokus pada mesin seduh yang mengepulkan aroma khas kopi Kalbar.
Tidak banyak yang tahu, beberapa tahun lalu Madi sempat merasa kehilangan harapan untuk bekerja karena keterbatasan fisik yang dimilikinya. Kini, ia justru menjadi salah satu wajah ramah yang dikenal pelanggan setia 101 Coffee.
“Dulu saya sempat minder, merasa susah dapat pekerjaan. Tapi di sini saya belajar banyak. Saya diajari pelan-pelan sampai akhirnya bisa jadi barista,” ujar Madi.
Seiring waktu, Madi mulai terbiasa dengan ritme kerja kedai yang cukup dinamis.
Ia tidak hanya bertugas meracik kopi, tetapi juga melayani pelanggan dari berbagai latar belakang, mulai dari pekerja kantoran, mahasiswa, hingga wisatawan yang penasaran dengan Kopi Liberika khas Kalbar.
Pengalaman paling berkesan baginya adalah ketika pertama kali harus melayani jam sibuk kedai.
“Waktu awal-awal itu sempat gugup juga. Banyak order datang bersamaan, saya harus fokus supaya tidak salah buat pesanan. Tapi Kak Sitha dan teman-teman selalu bantu dan arahkan,” kenangnya.
Dari situ, Madi belajar bagaimana menjaga ketenangan di tengah tekanan kerja. Ia mulai memahami alur pesanan, menghafal menu, hingga akhirnya mampu bekerja lebih mandiri tanpa banyak dibimbing.
Kini, ia bahkan sudah terbiasa berinteraksi langsung dengan pelanggan. Tak jarang ia melayani sambil bercanda ringan, membuat suasana kedai terasa lebih hangat.
“Pelanggan ada yang sudah kenal saya. Kadang mereka pesan kopi sambil bilang, ‘Bang Madi yang buat ya’. Itu bikin saya senang,” ujarnya sambil tersenyum.
Bagi Madi, pekerjaan ini bukan sekadar mencari nafkah, tetapi juga ruang untuk membangun kepercayaan diri yang dulu sempat hilang. Ia merasa diterima dan dihargai bukan karena keterbatasannya, tetapi karena kemampuannya.
Di balik kesibukannya meracik kopi, Madi juga menyimpan harapan besar untuk masa depan.
Ia ingin terus belajar agar semakin profesional di dunia kopi, mulai dari teknik meracik, memahami karakter biji kopi, hingga belajar tentang bisnis coffee shop.
Menurutnya, Pontianak memiliki budaya kopi yang kuat dan dikenal luas sebagai Kota Kopi. Karena itu, ia ingin menjadi bagian dari perkembangan industri kopi lokal di Kalimantan Barat.
“Saya ingin terus belajar tentang kopi. Bukan cuma jadi barista, tapi juga memahami bisnis kopi. Karena Pontianak ini terkenal sebagai Kota Kopi, jadi saya mau berkembang juga di bidang ini,” katanya.
Madi juga berharap, pengalaman bekerja di 101 Coffee bisa menjadi jalan untuk memperbaiki kehidupan keluarganya. Ia ingin bekerja lebih baik agar mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga pendidikan tinggi.
“Saya ingin anak-anak bisa sekolah tinggi, jangan sampai susah seperti saya dulu. Mudah-mudahan dari kerja ini ada rezeki dan jalan yang baik,” ucapnya pelan.
Tak hanya untuk keluarga kecilnya, Madi juga berharap dirinya bisa menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain.
“Harapan saya semoga bisa berguna buat keluarga, sanak saudara, dan masyarakat juga. Saya ingin membuktikan kalau kami yang punya keterbatasan juga bisa bekerja dan berkembang,” tuturnya.
Along Madi menjadi salah satu bukti bagaimana kesempatan dapat mengubah hidup seseorang. Kini, ia tidak lagi merasa minder dan justru bangga dengan pekerjaannya sebagai barista.
“Saya senang bisa kerja di sini. Banyak belajar, banyak teman, dan sekarang lebih percaya diri,” kata Madi sambil tersenyum.
Berawal dari Pinjaman KUR BRI
Perjalanan Along Madi tidak lepas dari sosok Siti Mashita (42), perempuan yang akrab disapa Kak Sitha, pemilik 101 Coffee House and Roastery.
Di tangan Sitha, bisnis kopi bukan sekadar soal keuntungan, tetapi juga ruang pemberdayaan bagi masyarakat, termasuk teman-teman disabilitas.
Di balik berkembangnya 101 Coffee House and Roastery, tersimpan perjalanan panjang seorang pelaku UMKM yang jatuh bangun membangun usaha.
Sitha mengaku dunia kopi bukan bisnis pertamanya. Sebelum terjun ke industri kopi, ia pernah menjalankan usaha furniture dan butik. Dari usaha-usaha itulah ia mulai mengenal pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI.
“Jadi saya meminjam KUR BRI ini sudah lumayan lama. Kopi ini bukan usaha saya yang pertama. Saya sebelumnya pernah usaha furniture, pernah usaha butik. Nah, dari awal itu saya sudah pinjam KUR BRI,” katanya.
Ia mengenang, pinjaman pertamanya pada 2008 sebesar Rp50 juta digunakan untuk mengembangkan usaha furniture.
“Awalnya sebesar Rp50 juta untuk bisnis furniture di tahun 2008,” ujarnya.
Berbagai pengalaman bisnis membuat Sitha memahami pentingnya keberanian mengambil peluang, termasuk saat melihat potensi besar industri kopi di Kalbar.
“Akhirnya kenapa saya jadi bisnis kopi? Karena memang saya melihat peluang kopi itu sangat besar. Jadi awalnya tahun 2018 kami buka coffee shop saja, belum roasting,” kata Sitha.
Seiring waktu, bisnisnya berkembang pesat. Tidak hanya membuka kedai kopi, ia mulai membangun roastery dan masuk lebih jauh dalam rantai industri kopi dari hulu hingga hilir.
Membangun Bisnis Kopi dari Hulu hingga Hilir
Berbeda dari kebanyakan coffee shop, 101 Coffee House and Roastery menjalankan bisnis secara menyeluruh.
Sitha aktif melakukan pembinaan kepada petani kopi lokal, membeli langsung hasil panen petani, hingga memastikan kualitas kopi sebelum diproses menjadi produk siap jual.
“Jadi kami usaha kopi dari hulu sampai hilir. Dari hulunya kami ada pembinaan ke petani. Kami bantu pelatihan cara pengolahan yang baik sampai akhirnya kopi siap masuk proses roasting dan jadi kemasan,” jelasnya.
Kopi yang digunakan berasal dari petani lokal Kalbar, termasuk Kopi Liberika Sendoyan dari Kabupaten Sambas.
Menurut Sitha, kualitas kopi lokal Kalbar memiliki karakter khas yang mampu bersaing dengan kopi dari daerah lain.
Saat ini, kapasitas produksi 101 Coffee mencapai sekitar 600–700 kilogram kopi per bulan. Produk mereka tidak hanya dipasarkan di Kalbar, tetapi juga mulai dikirim ke Jakarta.
“Kopi kami bahkan dipesan dari luar Kalbar karena banyak pelanggan merasa cocok dengan kualitas kopi kami yang rendah kafein dan ringan untuk lambung,” tambahnya.
Selain roasting dan distribusi kopi, 101 Coffee juga membuka pelatihan barista dan roaster sebagai bagian dari pengembangan SDM di sektor kopi.
Disiplin Keuangan Jadi Kunci
Di tengah berkembangnya bisnis, Sitha menegaskan bahwa keberhasilan UMKM tidak hanya ditentukan oleh produk yang bagus, tetapi juga pengelolaan keuangan yang disiplin.
Pengalaman menggunakan KUR selama bertahun-tahun membuatnya memahami pentingnya pencatatan keuangan yang rapi dan analisis usaha yang matang.
“Modal awal kami sekitar Rp400 juta untuk coffee shop pertama. Sekarang pinjaman usaha kami di KUR BRI sudah mencapai Rp500 juta, itu sudah jumlah maksimalnya. Semua digunakan untuk pengembangan bisnis,” jelasnya.
Menurut Sitha, pinjaman usaha harus digunakan secara produktif dan dihitung secara cermat agar bisnis tetap sehat.
“Misalnya kita pinjam KUR, harus dengan pencatatan dan analisa yang tepat. Mampu enggak bayar cicilannya, kalau pinjam sekian nanti omzet kita berapa, untungnya bagaimana. Itu harus dianalisa,” ujarnya.
Ia mengaku disiplin dalam mencatat pemasukan, pengeluaran, hingga keuntungan usaha menjadi faktor penting yang membuat bisnisnya terus berkembang.
“Dari awal saya benar-benar manfaatkan pinjaman itu untuk usaha. Alhamdulillah omzet meningkat sampai ratusan juta rupiah per bulan,” katanya.
Sitha berharap pengalaman tersebut bisa menjadi motivasi bagi pelaku UMKM lain agar tidak takut memanfaatkan akses pembiayaan seperti KUR selama digunakan dengan perhitungan matang.
“UMKM jangan takut berkembang. Kalau memang ada peluang dan sudah dianalisa dengan baik, pinjaman bisa jadi jalan untuk memperbesar usaha,” pesannya.
Memberdayakan Teman Disabilitas
Tak hanya fokus pada bisnis, Sitha juga menjadikan 101 Coffee sebagai ruang pemberdayaan sosial. Saat ini, 101 Coffee mempekerjakan 16 karyawan, termasuk dua pekerja dari kalangan disabilitas.
Mereka mendapatkan pelatihan selama enam bulan hingga satu tahun, bahkan difasilitasi mengikuti sertifikasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
“Kami tidak ingin memandang mereka hanya karena kondisi mereka, tapi ingin menunjukkan bahwa mereka bisa menjadi profesional,” tegas Sitha.
Bagi Sitha, secangkir kopi bukan hanya tentang rasa, melainkan tentang harapan dan kesempatan hidup yang lebih baik bagi banyak orang di Kalbar.
(aep mulyanto)