Ponticity post author Kiwi 17 Juli 2026

Sosialisasi Empat Pilar MPR RI dan Doa untuk Negeri di Pontianak, Maria Goreti Ajak Generasi Muda Perkuat Persatuan di Tengah Tantangan Bangsa

Photo of Sosialisasi Empat Pilar MPR RI dan Doa untuk Negeri di Pontianak, Maria Goreti Ajak Generasi Muda Perkuat Persatuan di Tengah Tantangan Bangsa

PONTIANAK, SP - Anggota DPD RI/MPR RI Daerah Pemilihan Kalimantan Barat, Maria Goreti, menggelar Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang dirangkai dengan kegiatan Doa untuk Negeri bersama mahasiswa, pelajar, organisasi kepemudaan, dan perwakilan lintas agama di Aula Seminari Pastor Bonus, Jalan 28 Oktober Nomor 5, Siantan Hulu, Pontianak Utara, Kamis (16/7/2026).

Kegiatan tersebut menjadi ruang dialog kebangsaan sekaligus momentum mempererat persaudaraan dalam keberagaman di tengah berbagai tantangan yang sedang dihadapi Indonesia.

Mengusung semangat persatuan, kegiatan dihadiri mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, organisasi kemahasiswaan, serta perwakilan agama Islam, Katolik, Kristen Protestan, Hindu, Buddha, Konghucu, dan unsur penghayat kepercayaan.

Kehadiran peserta dari berbagai latar belakang menjadi simbol bahwa keberagaman merupakan kekuatan bangsa yang harus terus dirawat melalui komunikasi, dialog, dan kerja sama.

Dalam pemaparannya, Maria Goreti mengajak peserta untuk memahami kembali makna Empat Pilar MPR RI, yakni Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai konstitusi negara, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai bentuk negara, serta Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan pemersatu bangsa. Menurutnya, keempat pilar tersebut bukan sekadar materi sosialisasi, melainkan nilai-nilai yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ia menjelaskan bahwa di tengah dinamika politik, sosial, ekonomi, dan perkembangan global yang terus berubah, pemahaman terhadap Empat Pilar menjadi fondasi penting agar masyarakat, khususnya generasi muda, tetap memiliki arah dalam menjaga persatuan bangsa.

"Empat Pilar bukan hanya untuk dihafalkan, tetapi harus dipahami dan diamalkan. Ketika masyarakat memegang teguh nilai Pancasila, menghormati konstitusi, menjaga keutuhan NKRI, dan menghidupi semangat Bhinneka Tunggal Ika, maka bangsa ini akan memiliki kekuatan untuk menghadapi berbagai tantangan," ujar Maria Goreti.

Menurutnya, generasi muda memiliki posisi yang sangat strategis sebagai penerus estafet pembangunan nasional. Oleh karena itu, mereka harus dibekali bukan hanya dengan kemampuan akademik, tetapi juga karakter kebangsaan, toleransi, integritas, dan kepedulian terhadap sesama.

Maria Goreti mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut juga dilatarbelakangi oleh keprihatinannya terhadap kondisi bangsa saat ini. Berbagai persoalan seperti perlambatan ekonomi, meningkatnya tantangan memperoleh lapangan pekerjaan, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), ketidakpastian ekonomi, hingga persoalan sosial yang dirasakan masyarakat menjadi perhatian bersama.

Ia menilai, persoalan tersebut tidak cukup diselesaikan hanya melalui pendekatan ekonomi atau kebijakan pemerintah semata, tetapi juga membutuhkan kekuatan moral, persatuan, dan optimisme seluruh anak bangsa.

"Sebagai manusia kita memiliki ikhtiar. Kita bekerja, berdiskusi, mencari solusi, tetapi kita juga memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar setiap niat baik untuk bangsa ini diberikan jalan. Karena itu kami mengadakan Doa untuk Negeri sebagai bagian dari ikhtiar bersama," katanya.

Maria Goreti menjelaskan bahwa kegiatan Doa untuk Negeri sengaja dilaksanakan bertepatan dengan hari pertama rangkaian kegiatan di daerah pemilihannya sebagai bentuk harapan agar seluruh agenda pengabdian kepada masyarakat mendapat penyertaan Tuhan sekaligus menjadi doa bersama bagi Indonesia.
Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan langkah sederhana, tetapi memiliki makna yang mendalam. Ia berharap masyarakat dapat melihat ketulusan niat dari kegiatan tersebut, yakni mengajak seluruh elemen bangsa untuk tidak kehilangan harapan dalam menghadapi berbagai persoalan.

"Kami menitipkan harapan kepada Tuhan agar bangsa ini tetap dijaga. Mungkin ini langkah kecil, tetapi setiap perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan bersama-sama," tuturnya.

Doa untuk Negeri juga menjadi momentum mempertemukan generasi muda lintas agama dalam satu forum kebersamaan. Maria Goreti menilai ruang-ruang seperti ini masih relatif jarang dilakukan, padahal dialog lintas iman sangat penting untuk memperkuat rasa saling percaya dan mempererat persaudaraan antaranak bangsa.

"Kalau selama ini ada hubungan yang mungkin membeku karena perbedaan latar belakang, malam ini kita cairkan melalui dialog dan doa bersama. Kita ingin anak-anak muda saling mengenal, saling menghormati, dan membangun Indonesia bersama tanpa memandang perbedaan agama maupun suku," ujarnya.

Ia menegaskan bahwa setiap peserta memanjatkan doa sesuai ajaran dan keyakinannya masing-masing. Perbedaan cara berdoa tidak menjadi penghalang untuk memiliki tujuan yang sama, yaitu memohon agar Indonesia senantiasa diberikan kedamaian, persatuan, keadilan, kesejahteraan, serta dijauhkan dari perpecahan dan berbagai krisis.
Selain menyampaikan materi kebangsaan, kegiatan juga diisi dengan dialog interaktif. Para mahasiswa diberikan kesempatan menyampaikan pandangan maupun pertanyaan mengenai perkembangan kondisi bangsa saat ini.

Salah satu peserta, Federico Ariwibowo, Anggota PMKRI Kabupaten Kubu Raya, mempertanyakan tantangan yang dihadapi Indonesia, terutama berkaitan dengan kondisi ekonomi, kesempatan kerja bagi lulusan perguruan tinggi, serta peran generasi muda dalam menghadapi perubahan zaman.

Menanggapi hal tersebut, Maria Goreti mengatakan bahwa persoalan ketenagakerjaan bukan hanya menjadi tantangan Kalimantan Barat ataupun Indonesia, melainkan juga dialami banyak negara di dunia. Karena itu, menurutnya, generasi muda perlu mengembangkan pola pikir yang tidak hanya berorientasi menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan.

Ia menilai Kalimantan Barat memiliki sumber daya alam yang melimpah dan peluang besar di sektor pertanian, perkebunan, perikanan, hingga ekonomi kreatif. Potensi tersebut harus dimanfaatkan melalui inovasi dan kewirausahaan sehingga mampu membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
"Mahasiswa sudah berada pada level yang harus mulai berpikir bagaimana menciptakan kesempatan kerja bagi orang lain. Potensi Kalimantan Barat sangat besar, tinggal bagaimana keberanian dan kreativitas generasi muda mengelolanya," katanya.

Maria Goreti juga menegaskan bahwa penyelesaian persoalan ekonomi memerlukan pembenahan yang menyeluruh, mulai dari regulasi, pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas sumber daya manusia, hingga kebijakan yang berpihak kepada masyarakat. Seluruh aspek tersebut, menurutnya, harus berjalan secara seimbang agar pembangunan dapat memberikan manfaat yang nyata.

Menutup kegiatan, seluruh peserta berdiri bersama dalam suasana khidmat mengikuti Doa untuk Negeri yang dipimpin secara bergantian oleh tokoh agama dan perwakilan lintas iman.

Masing-masing memanjatkan doa menurut keyakinannya, namun dengan satu tujuan yang sama, yakni memohon agar Indonesia tetap kokoh dalam persatuan, para pemimpinnya diberikan kebijaksanaan, masyarakat hidup dalam kedamaian, serta generasi muda mampu menjadi penerus bangsa yang berintegritas, toleran, dan berlandaskan nilai-nilai Empat Pilar MPR RI.

Melalui sosialisasi dan doa bersama tersebut, Maria Goreti berharap semangat kebangsaan tidak berhenti sebagai wacana, tetapi menjadi gerakan nyata yang tumbuh dari generasi muda.

Ia meyakini bahwa persatuan, toleransi, dan pengamalan nilai-nilai Empat Pilar merupakan modal utama bagi Indonesia untuk menghadapi berbagai tantangan serta mewujudkan cita-cita bangsa sebagaimana diamanatkan oleh para pendiri negara. (mul)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda