Ponticity post author Kiwi 18 Oktober 2026

UNOSO Ajak Siswa Jadi Peneliti Muda Lewat Proyek Coco Filter

Photo of UNOSO Ajak Siswa Jadi Peneliti Muda Lewat Proyek Coco Filter

BPONTIANAK,SP - Persoalan air gambut di Kalimantan Barat menjadi ruang belajar bagi 55 siswa SMA Negeri 2 dan SMA Negeri 11 Pontianak untuk mengembangkan inovasi pengolahan air berbasis sains. Melalui proyek Coco Filter, para siswa ditantang merancang, merakit, dan menguji mini filter air gambut menggunakan berbagai material penyaring, termasuk karbon aktif berbasis ampas kelapa.

Program yang digagas tim Program Studi Kimia, Fakultas IPA dan Kelautan (FIPAK), Universitas OSO ini dilaksanakan di SMAN 11 Pontianak pada 8 Oktober 2026 dan SMAN 2 Pontianak pada 9 Oktober 2026. Kegiatan bertajuk Penerapan Project-Based Learning melalui Proyek Coco Filter: Pembuatan Mini Filter Air Gambut Berbasis Karbon Aktif Ampas Kelapa bagi Siswa SMAN 2 dan SMAN 11 Pontianak tersebut menjadi bagian dari Program Titik Kumpul Saintek dalam ekosistem SEMESTA (Semesta Sains dan Teknologi).

Sebanyak 30 siswa SMAN 2 Pontianak dan 25 siswa SMAN 11 Pontianak mengikuti kegiatan tersebut. Mereka dibagi menjadi 10 kelompok, masing-masing lima kelompok dari setiap sekolah, untuk mengembangkan rancangan filter berdasarkan konsep kimia yang telah dipelajari.

Melalui pendekatan Project-Based Learning (PjBL), siswa tidak hanya menerima materi secara teoretis, tetapi juga terlibat langsung dalam proses eksperimen. Mulai dari mengidentifikasi persoalan, menyusun rancangan, memilih material, melakukan pengujian, hingga menganalisis hasilnya berdasarkan data ilmiah.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pretest untuk mengukur pemahaman awal siswa mengenai kualitas air, prinsip filtrasi, dan pemanfaatan material adsorben. Selanjutnya, peserta mengikuti praktikum pengujian air gambut dan merancang sistem filtrasi secara berkelompok.

Sebelum proses penyaringan, setiap kelompok mengukur kadar besi (Fe) pada sampel air gambut sebagai data awal. Hasil pengukuran tersebut kemudian menjadi pembanding untuk mengevaluasi kinerja filter yang mereka kembangkan.

Setiap kelompok merakit dua jenis alat penyaring, yakni filter acuan dan filter inovasi. Filter acuan berfungsi sebagai pembanding, sedangkan filter inovasi dirancang berdasarkan kreativitas siswa serta pemahaman mereka terhadap karakteristik berbagai material penyaring.

Beragam bahan digunakan dalam proses perancangan, mulai dari kapas dakron, ijuk, zeolit, pasir, kerikil, ferolit, hingga kombinasi beberapa material. Siswa diberi keleluasaan untuk memodifikasi massa bahan, jumlah lapisan, serta susunan media filtrasi guna menghasilkan rancangan yang berpotensi meningkatkan kemampuan penyisihan zat pencemar.

Menariknya, setiap kelompok menghasilkan desain filter inovasi yang berbeda. Ada kelompok yang mengombinasikan beberapa jenis material, mengubah ketebalan lapisan, hingga menyusun media penyaring berdasarkan karakteristik fisik dan fungsi masing-masing bahan.

Setelah perakitan selesai, siswa menguji air hasil penyaringan dari kedua filter dengan mengukur kadar Fe sebanyak dua kali untuk setiap jenis filter atau secara duplo. Hasil pengujian kemudian dibandingkan dengan kadar besi awal untuk melihat perbedaan kinerja filter acuan dan filter inovasi.

Proses tersebut memberikan pengalaman kepada siswa bahwa eksperimen ilmiah tidak berhenti pada pembuatan alat. Mereka juga harus mengumpulkan data, membandingkan hasil, dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti yang diperoleh.

Suasana praktikum berlangsung antusias. Para siswa aktif berdiskusi, menyusun lapisan media penyaring, melakukan pengukuran, serta membandingkan rancangan bersama anggota kelompoknya.

Bagi sebagian peserta, kegiatan ini menjadi pengalaman baru karena memberikan kesempatan untuk melakukan pengujian kualitas air secara lebih mendalam dibandingkan praktikum yang biasa mereka ikuti di sekolah.

Salah seorang siswa SMAN 11 Pontianak, Avent, mengungkapkan bahwa Coco Filter menjadi pengalaman pertamanya melakukan pengujian kadar zat dalam air.

Menurut Avent, kegiatan tersebut memberinya kesempatan untuk memahami proses pengujian kualitas air sekaligus mencoba mengembangkan alat filtrasi bersama teman-temannya.

Ia juga optimistis terhadap hasil proyek kelompoknya dan berharap rancangan yang dikembangkan dapat menjadi salah satu karya terbaik dalam kegiatan showcase Coco Filter yang direncanakan berlangsung pada November 2026 di Universitas OSO.

Pemilihan air gambut sebagai objek eksperimen bukan tanpa alasan. Kondisi lingkungan Kalimantan Barat yang memiliki kawasan gambut menjadikan persoalan kualitas air relevan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Air gambut umumnya memiliki warna kecokelatan dan bersifat asam. Dalam kondisi tertentu, air tersebut juga dapat mengandung besi sehingga memerlukan pengolahan yang sesuai sebelum dimanfaatkan untuk kebutuhan tertentu.

Melalui Coco Filter, siswa diajak memahami bahwa persoalan lingkungan dapat dipelajari melalui pendekatan ilmiah, termasuk dengan mengeksplorasi pemanfaatan material sederhana dan limbah organik.

Ampas kelapa menjadi salah satu bahan yang diperkenalkan karena dapat diolah menjadi karbon aktif. Material ini berpotensi dimanfaatkan sebagai adsorben dalam proses pengolahan air, meskipun efektivitasnya tetap perlu dibuktikan melalui pengujian.

Dengan pendekatan tersebut, pembelajaran kimia diharapkan menjadi lebih kontekstual. Konsep yang sebelumnya dipahami melalui teori dapat diterapkan untuk mengamati dan menguji persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Selain praktikum, peserta mengikuti posttest untuk mengevaluasi pemahaman setelah kegiatan serta mengisi survei kepuasan sebagai bahan evaluasi pelaksanaan program.

Rangkaian pembelajaran ini diharapkan dapat meningkatkan literasi sains, keterampilan eksperimen, kreativitas, kerja sama tim, serta kemampuan berpikir kritis siswa.

Kegiatan Coco Filter juga melibatkan mahasiswa aktif Program Studi Kimia Universitas OSO angkatan 2024 dan 2025. Mereka turut mendampingi siswa selama proses perakitan alat, pengujian kualitas air, hingga pelaksanaan praktikum.

Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian dari upaya membangun kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah. Selain membantu peserta memahami prosedur eksperimen, mahasiswa juga memperoleh pengalaman dalam mendampingi pembelajaran sains dan menjelaskan konsep kimia secara langsung.

Sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan pembelajaran, tim pelaksana Universitas OSO menyerahkan perangkat Coco Filter kepada kedua sekolah. Serah terima dilakukan di SMAN 11 Pontianak pada 8 Oktober 2026 dan SMAN 2 Pontianak pada 9 Oktober 2026.

Perangkat tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai media praktikum dan mendukung pengembangan kegiatan sains di sekolah, sehingga pembelajaran berbasis proyek dapat terus dikembangkan setelah program selesai.

Kolaborasi dosen, mahasiswa, guru, dan siswa ini sekaligus menjadi sarana memperkenalkan penerapan ilmu kimia dalam menjawab persoalan lingkungan. Melalui eksperimen sederhana, siswa diajak mengenali proses penelitian sekaligus memahami pentingnya pengujian dan analisis data sebelum menyimpulkan keberhasilan sebuah inovasi.

Praktikum di kedua sekolah bukan menjadi akhir dari rangkaian Coco Filter. Sebanyak 10 kelompok siswa selanjutnya akan mempersiapkan hasil eksperimen mereka untuk dipresentasikan dalam kegiatan showcase yang direncanakan berlangsung pada November 2026 di Universitas OSO.

Dalam kegiatan puncak tersebut, setiap kelompok akan menyajikan poster ilmiah yang memuat rancangan filter, variasi material, data hasil pengukuran, serta analisis perbandingan kinerja filter acuan dan filter inovasi.

Tiga kelompok terbaik akan dipilih berdasarkan sejumlah aspek penilaian, meliputi kualitas poster, inovasi yang dikembangkan, kemampuan menganalisis data, dan keterampilan presentasi ilmiah.

Melalui tahapan tersebut, siswa tidak hanya ditantang menghasilkan alat penyaring, tetapi juga belajar mempertanggungjawabkan hasil eksperimen dan mengomunikasikan temuan secara sistematis.

Universitas OSO berharap Coco Filter dapat menumbuhkan minat generasi muda terhadap sains dan teknologi sekaligus memperkuat pemahaman bahwa inovasi tidak selalu harus dimulai dari peralatan yang rumit.

Dari air gambut, ampas kelapa, dan kreativitas siswa, Coco Filter menjadi ruang belajar untuk mengenalkan proses penelitian sejak dini. Lebih dari sekadar membuat mini filter, program ini mendorong siswa berani mengajukan gagasan, menguji hipotesis, membaca data, dan berpikir sebagai peneliti muda dalam mencari solusi atas persoalan lingkungan. (din)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda