Ponticity post author Kiwi 21 Oktober 2026

18 Tahun Mengabdi, Pak Ali Pamit dengan Kenangan dan Permohonan Maaf

Photo of 18 Tahun Mengabdi, Pak Ali Pamit dengan Kenangan dan Permohonan Maaf

PONTIANAK, SP - Ada perpisahan yang tidak membutuhkan banyak kata untuk menggambarkan panjangnya kebersamaan. Cukup dengan selembar surat penghargaan, cerita lama yang kembali mengalir, serta jabat tangan dalam suasana kekeluargaan, perjalanan pengabdian selama 18 tahun pun dikenang dengan penuh haru.

Suasana itulah yang mewarnai pertemuan Mat Ali Chandra, Sang Driver andalan dengan Bruder Stephanus Paiman OFMCap, Ketua sekaligus Penanggung Jawab Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak (FRKP), Rabu (21/10/2026), sekitar pukul 12.15 WIB.

Di sela-sela kesibukannya mengemasi barang-barang yang masih tertinggal di sekretariat forum, Pak Ali menerima surat penghargaan atas pengabdiannya selama 18 tahun bersama FRKP.

Bukan sekadar selembar kertas, penghargaan itu menjadi tanda terima kasih atas perjalanan panjang, kebersamaan, serta suka dan duka yang telah dilalui bersama dalam pelayanan kemanusiaan.
Di hadapan Bruder Stephanus, dengan disaksikan Mas Yono, cerita-cerita lama kembali mengalir.
Ada kenangan yang mengundang senyum, ada pula kisah perjalanan yang mengingatkan mereka pada begitu banyak waktu yang telah dihabiskan untuk melayani sesama.

Kebersamaan itu kini memasuki babak baru. Posisi Pak Ali sebagai pengemudi ambulans akan dilanjutkan Mas Yono bersama Mardi Utomo, yang akrab disapa Mas Tomo. Namun, pergantian tugas tidak serta-merta menghapus jejak pengabdian yang telah ditinggalkan selama hampir dua dekade.

Di tengah suasana tersebut, Pak Ali menitipkan pesan untuk seluruh pengurus FRKP, baik yang lama maupun yang baru. Dengan rendah hati, ia meminta agar segala kekurangan selama bergaul dan bekerja bersama dapat dimaafkan.

“Kalau dalam keseharian ada tutur sapa atau tingkah laku saya yang kurang berkenan, tolong sampaikan kepada kawan-kawan pengurus, baik yang lama maupun yang baru, saya mohon dimaafkan. Saye suka ceplas-ceplos klo ngomong,” ujar Pak Ali.

Pengakuan sederhana itu terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari di sebuah komunitas relawan. Di tengah kesibukan, perbedaan karakter, dan pekerjaan yang menuntut kebersamaan, kata-kata yang terucap terkadang tidak selalu sempurna.
Namun, di baliknya, ada hubungan yang telah dibangun selama bertahun-tahun dan layak dijaga dengan saling memaafkan.

Bruder Stephanus pun menyampaikan terima kasih atas kebersamaan dan pengabdian Pak Ali selama berada di FRKP. Ucapan itu disampaikannya atas nama pribadi maupun dalam kapasitasnya sebagai Ketua dan Penanggung Jawab forum.

Menurut Bruder Stephanus, sebenarnya penyerahan penghargaan tersebut direncanakan bersamaan dengan kegiatan FRKP pada 28 September lalu. Namun, kondisi kesehatan Pak Ali saat itu belum memungkinkan sehingga pertemuan harus ditunda.

Rencana pertemuan berikutnya juga beberapa kali batal. Ketika Pak Ali hendak datang ke Pontianak, ada kegiatan adat keluarga untuk cucunya yang membuat perjalanan urung dilakukan.
Seminggu lalu, rencana kedatangannya kembali tertunda karena ada anggota keluarga yang meninggal dunia.

Hingga akhirnya, Rabu siang itu, mereka dapat kembali bertemu. Tidak ada kemeriahan khusus, tetapi pertemuan sederhana tersebut justru memberi ruang bagi keduanya untuk menyampaikan hal-hal yang mungkin selama ini belum sempat diucapkan.

Bruder Stephanus juga mengingatkan bahwa dalam perjalanan bersama, teguran dan celoteh yang kerap disampaikan bukanlah sesuatu yang perlu dibawa sebagai ganjalan. Semua itu, katanya, dimaksudkan untuk kebaikan bersama dan keberlangsungan pelayanan di FRKP.

“Dalam keseharian, Pak Ali mungkin kerap mendengar celoteh saya, tetapi semua itu untuk kebaikan kita bersama. Jika ada waktu ke Pontianak, forum ini sebagai rumah terbuka bagi kita bersama. FRKP selalu terbuka buat Pak Ali,” ungkap Bruder Stephanus.

Ia berharap komunikasi dan hubungan baik yang selama ini terjalin tetap terpelihara, meskipun Pak Ali tidak lagi menjalankan tugas sehari-hari di forum.
Perkembangan teknologi komunikasi juga memungkinkan mereka untuk tetap saling menyapa dan berbagi kabar tanpa harus selalu bertemu secara langsung.

“Selamat beraktivitas bersama keluarga di kampung, Pak Ali. Kami mendoakan Pak Ali dan keluarga senantiasa sehat dan sejahtera,” tuturnya.

Sementara itu, menjelang sore sekitar pukul 15.30 WIB, Mas Tomo dan Mas Yono dijadwalkan membantu mengantarkan barang-barang Pak Ali menggunakan ambulans menuju dermaga motor air di Rasau.

Perjalanan itu menjadi bagian kecil dari sebuah perpisahan yang berlangsung sederhana. Barang-barang yang semula tersimpan di sekretariat akan dibawa pergi, tetapi kenangan tentang 18 tahun kebersamaan tidak ikut dikemasi.

Sebab, bagi mereka yang pernah berjalan bersama dalam kerja-kerja kemanusiaan, berakhirnya sebuah tugas bukan berarti berakhir pula persaudaraan.

Pak Ali mungkin tak lagi berada di balik kemudi ambulans FRKP, tetapi pintu forum tetap terbuka, sebagaimana hubungan kekeluargaan yang telah mereka rawat selama bertahun-tahun.

Di FRKP, pengabdian boleh berganti tangan. Namun, rasa terima kasih, kenangan, dan persaudaraan akan selalu menemukan jalannya untuk tetap tinggal. (*)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda