Oleh : Mukhlis, Kasi Bimas Islam Kemenag Mempawah, Mahasiswa Pascasarjana IAIN Pontianak
PENGUATAN moderasi beragama bukan lagi sekadar wacana normatif di atas kertas nasional, melainkan sebuah manifestasi nyata yang berdenyut riuh di tingkat akar rumput.
Salah satu potret terbaik dari kehidupan berbangsa yang harmonis, inklusif, dan damai ini dapat disaksikan secara jernih di Desa Sungai Purun Kecil, Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat.
Desa ini sukses mentransformasikan nilai-nilai luhur toleransi menjadi sebuah ekosistem kehidupan sehari-hari, sekaligus menjadi pembuktian bahwa kemajemukan apabila dirawat dengan ketulusan dapat menjadi modal sosial terbesar bagi kemajuan suatu daerah.
Selaras dengan Asta Prioritas Kementerian Agama
Menteri Agama Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A. meluncurkan program Asta Protas (Asta Prioritas) yaitu delapan program prioritas Kementerian Agama (Kemenag) RI meliputi ; Meningkatkan Kerukunan dan Cinta Kemanusiaan, Penguatan Ekoteologi, Layanan Keagamaan Berdampak, Mewujudkan Pendidikan Unggul, Ramah, dan Terintegrasi, Pemberdayaan Pesantren, Pemberdayaan Ekonomi Umat, Sukses penyelenggaraan Haji dan Umrah, serta Digitalisasi Tata Kelola.
Sesuai Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 244 Tahun 2025, Asta Protas dirancang untuk periode 2025–2029 guna menyukseskan visi "Asta Cita" Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Tujuan utama dari delapan program strategis ini adalah mewujudkan "Kemenag Berdampak", artinya setiap kebijakan dan layanan keagamaan harus dirasakan manfaatnya secara langsung, inklusif, nyata, dan terukur oleh seluruh lapisan masyarakat.
Langkah taktis Desa Sungai Purun Kecil dalam menjaga ritme kedamaian sosial ini sejatinya berjalan beriringan dengan komitmen utama pemerintah pusat melalui Kementerian Agama Republik Indonesia. Kemenag terus menggaungkan program "Asta Prioritas", yang salah satu pilar paling krusial di dalamnya adalah penguatan moderasi beragama dan perawatan kerukunan umat secara berkesinambungan.
Melalui pembentukan Kampung Moderasi Beragama (KMB), Kementerian Agama berupaya keras membangun sebuah role model atau percontohan wilayah skala desa yang mampu memitigasi potensi gesekan sosial, menepis radikalisme, serta menumbuhkan sikap saling menghormati di tengah perbedaan doktrin teologis.
Penetapan Desa Sungai Purun Kecil sebagai salah satu Kampung Moderasi Beragama di Kabupaten Mempawah merupakan legitimasi otentik dari negara.
Hal ini membuktikan bahwa tatanan lokal di desa ini tidak sekadar pasif dalam menerima perbedaan, melainkan aktif mengimplementasikan arah kebijakan strategis nasional tersebut ke dalam tatanan kultural dan aksi nyata secara turun-temurun.
Kemenag memandang bahwa kerukunan yang organik seperti di Sungai Purun Kecil adalah benteng hakiki bagi ketahanan nasional dari ronggongan intoleransi.
Keadaan Geografis dan Demografis Desa Sungai Purun Kecil
Mengenal Desa Sungai Purun Kecil secara mendalam memerlukan pemahaman atas aspek spasial dan kemajemukan insani yang membentuknya.
Secara geografis, desa ini menempati posisi yang sangat strategis karena dibelah langsung oleh Jalur Trans-Kalimantan, sebuah urat nadi jalan raya nasional yang menghubungkan Kota Pontianak sebagai ibu kota provinsi menuju Kota Singkawang.
Ditinjau dari bentang spasialnya, Sungai Purun Kecil tercatat sebagai desa terluas di Kecamatan Sungai Pinyuh dengan cakupan wilayah mencapai 39,45 kilometer persegi, atau merangkum sekitar 23,05 persen dari total luas keseluruhan wilayah kecamatan.
Wilayahnya yang lapang dan berbatasan langsung dengan kawasan pesisir menjadikannya sebagai koridor ekonomi yang dinamis, sibuk, dan terbuka bagi mobilitas berbagai kelompok masyarakat.
Secara demografis, bentangan wilayah yang luas ini dihuni oleh total penduduk yang kini berkisar antara 5.500 hingga 5.800 jiwa.
Kemajemukan di desa ini tergambar secara presisi melalui komposisi pemeluk agama di tingkat akar rumput.
Berdasarkan rujukan data kependudukan sektoral, penganut agama Islam menempati porsi mayoritas dengan kisaran 56-58 persen, disusul oleh komunitas penganut Buddha dan Konghucu yang cukup signifikan sebesar 32-35 persen, serta pemeluk agama Kristen Protestan dan Katolik yang merangkum sekitar 8-10 persen dari total populasi desa.
Keberagaman iman ini merepresentasikan perpaduan erat dari empat pilar etnis utama yang telah menetap ratusan tahun: Melayu, Tionghoa Hakka, Dayak, dan Bugis.
Heterogenitas yang nyata ini tidak melahirkan pengkotak-kotakan wilayah secara eksklusif. Seluruh pemeluk agama membaur di atas tanah yang sama, menjadikan keterbukaan geografis dan data demografis tersebut sebagai kekuatan utama pembentuk mentalitas warga yang inklusif.
Indikasi Klenteng Dekat Masjid: Simbol Akulturasi dan Toleransi Spasial
Indikator visual paling kuat dan mencolok yang langsung tertangkap mata oleh siapapun pengemudi yang melintasi Jalur Trans-Kalimantan di desa ini adalah tata letak bangunan tempat ibadah yang berdiri berdekatan tanpa jarak psikologis.
Di tepi jalan utama desa, Klenteng Lo Fong Pak berdiri berdampingan secara damai dan harmonis dengan Masjid Mujahidin. Kedekatan spasial yang intim ini menjadi indikasi fisik yang tak terbantahkan mengenai kedalaman rasa saling percaya (mutual trust) serta toleransi praktis yang telah mendarah daging di sanubari warga Purun Kecil.
Klenteng Lo Fong Pak sendiri bukan sekadar bangunan baru, melainkan sebuah situs cagar budaya bernilai sejarah tinggi yang diperkirakan telah berdiri sejak abad ke-18 dengan usia menembus 280 tahun lebih. Rumah ibadah ini merekam jejak migrasi pekerja tambang emas asal Tiongkok Selatan pada era keemasan Kongsi Republik Lanfang (Luo Fangbo).
Uniknya, aspek akulturasi arsitektur terlihat sangat kental pada fisik bangunan. Walau atapnya mempertahankan gaya Minnan/Hakka yang melengkung landai dengan ornamen naga klasik, struktur tiang penyangga dan rangka utamanya mengeksploitasi material lokal berupa kayu belian (kayu besi) khas Kalimantan yang tersohor tahan banting terhadap cuaca tropis basah.
Selain itu, pondasi bawah bangunan mengadopsi teknik tapak luas khas rumah panggung Melayu pesisir untuk mengantisipasi kontur tanah gambut. Di dalam ruang spiritualnya, selain altar kedewaan Tri Darma, terdapat tablet penghormatan khusus bagi Lo Fong Pak yang diposisikan sebagai pahlawan pelindung lokal.
Berdampingannya bangunan akulturatif ini dengan Masjid Mujahidin menjadi bukti nyata bahwa perbedaan keyakinan tidak pernah dianggap sebagai ancaman yang menakutkan, melainkan sebuah garis estetika religius yang justru memperindah dan mendewasakan wajah desa.
Kegiatan Kemasyarakatan yang Mengumpulkan Orang Banyak
Ikatan kerukunan spasial tersebut tidak dibiarkan statis, melainkan senantiasa dirawat secara berkala melalui berbagai kegiatan kemasyarakatan masif yang melibatkan pengumpulan massa dalam jumlah besar dari lintas iman dan etnis:
Tradisi Saling Kunjung Lebaran, Imlek, dan Gawai: Saat fajar Idul Fitri menyingsing, setelah malam takbiran yang riuh, warga etnis Tionghoa dan Dayak akan berbondong-bondong mengenakan pakaian rapi untuk bertamu ke rumah-rumah tetangga mereka yang Muslim.
Mereka duduk melingkar, menikmati hidangan ketupat dan bontong (ketan putih) dalam suasana keakraban yang hangat. Momentum penuh sukacita ini akan berulang dalam skala yang sama secara timbal balik ketika Tahun Baru Imlek maupun perayaan Gawai Dayak tiba. Rumah-rumah warga terbuka lebar bagi siapa saja tanpa memandang latar belakang iman.
Peringatan Budaya Robo-Robo: Tradisi tahunan berskala besar khas budaya Melayu Kesultanan Mempawah ini ditujukan sebagai ritual doa tolak bala dan rasa syukur.
Di Desa Sungai Purun Kecil, perayaan Robo-Robo digarap bersama oleh jajaran pemerintah desa dan seluruh komponen masyarakat. Ratusan warga lintas etnis akan menggelar tikar panjang di sepanjang pinggiran jalan raya nasional atau di dermaga sungai, lalu duduk bersila bersama untuk makan siang massal. Di atas tikar tersebut, sekat-sekat perbedaan iman lebur total oleh rasa persaudaraan sebagai sesama warga kampung.
Festival Sahur-Sahur dan Semangat Agustusan: Setiap bulan suci Ramadan, Kabupaten Mempawah menggelar Festival Sahur-Sahur yang bernuansa pariwisata religius.
Pemuda lintas agama di Sungai Purun Kecil aktif berkolaborasi membentuk tim perkusi. Ketukan ritme rebana dan bedug Islami berpadu apik dengan aransemen dinamis khas ketukan barongsai Tionghoa, menciptakan harmoni seni yang luar biasa.
Semangat kebersamaan ini memuncak kembali pada momen Hari Kemerdekaan RI setiap tanggal 17 Agustus, di mana seluruh elemen desa bersatu padu menyelenggarakan pesta rakyat, perlombaan tradisional, hingga panggung hiburan malam puncak secara gotong royong.
Sistem Pengamanan Silang Berbasis Pemuda: Manifestasi tertinggi dari pengumpulan massa ini tampak pada sistem ketertiban dan keamanan swadaya saat hari besar keagamaan.
Ketika ribuan umat Islam memadati Masjid Mujahidin untuk melaksanakan Salat Idul Fitri hingga meluber ke jalan raya nasional, puluhan pemuda dari unsur Kristen (Dayak) dan Konghucu/Buddha (Tionghoa) berbaris rapi di jalanan. Mereka mengorbankan waktu liburnya untuk mengatur area parkir, memitigasi kemacetan Jalur Trans-Kalimantan, serta menjaga ketenangan jalannya ibadah.
Sebaliknya, peran penjagaan fisik ini akan diambil alih secara sukarela oleh pemuda Muslim (Banser/Karang Taruna) saat umat Tionghoa merayakan ritual penghormatan di Klenteng Lo Fong Pak atau saat umat Kristiani melangsungkan ibadah sakral Natal di gereja-gereja lokal.
Dampak Manis bagi Struktur Sosial dan Ekonomi Desa
Melalui jalinan empat pilar linier tersebut, Desa Sungai Purun Kecil berhasil mengirimkan pesan kuat dan berharga kepada seluruh penjuru nusantara.
Keharmonisan kultural ini pada akhirnya bermuara pada keuntungan ekonomi (economic benefit) yang nyata bagi kemajuan desa. Stabilitas keamanan yang absolut membuat iklim investasi dan usaha di sepanjang Jalur Trans-Kalimantan tumbuh sangat subur tanpa dibayangi ketakutan akan konflik komunal. Ruko, toko kelontong, pasar lokal, bengkel, hingga kedai kopitiam berkembang pesat didorong oleh kerja sama rantai pasok antar-etnis yang solid.
Status desa sebagai Kampung Moderasi Beragama juga mempermudah masuknya kucuran dana pembinaan serta proyek pembangunan infrastruktur strategis dari pemerintah pusat maupun daerah.
Melalui tata kelola Badan Usaha Milik Desa (BumDes) yang diisi oleh kepengurusan inklusif lintas suku, potensi wisata religi dan cagar budaya terus dikapitalisasi demi kesejahteraan kolektif masyarakat.
Di Desa Sungai Purun Kecil, kerukunan sejati bukan lagi sekadar slogan hiasan dinding, melainkan sebuah laku hidup yang dipraktikkan di jalanan, di pasar, dan di antara dinding-dinding rumah ibadah yang saling bertetangga dengan anggun. (*)