Penulis : Amalia Irfani
Dosen IAIN Pontianak/Sekretaris LPP PWM Kalbar
Kalau sampan mudik ke Landak,
Bersauh sejenak di tepian Kapuas
Kalau Pontianak ingin tetap tegak,
Kite jage dengan ikhlas
Pantun Melayu tersebut sederhana, tetapi pesannya sejalan dengan tema Hari Jadi ke 255 Kota Pontianak tahun ini dengan tema "Pontianak Tangguh Bersahabat ". Sebuah tema yang mengandung makna bahwa kemajuan kota tidak hanya bergantung pada pemerintah, melainkan pada kesadaran seluruh warga untuk menjaga lingkungan, merawat kebersamaan, dan memastikan pembangunan berjalan berkelanjutan.
Sebagai ibu kota Provinsi Kalimantan Barat, Pontianak telah berkembang menjadi pusat perdagangan, jasa, pendidikan, dan pemerintahan. Dengan jumlah penduduk yang kini mencapai lebih dari 690 ribu jiwa, tantangan perkotaan semakin kompleks. Persoalan lingkungan, pengelolaan sampah, kualitas sungai, ruang terbuka hijau, hingga kohesi sosial menjadi isu yang harus dijawab bersama. Data kependudukan Kota Pontianak tahun 2025 menunjukkan jumlah penduduk berada pada kisaran 690 ribu hingga 693 ribu jiwa.
Tema hari jadi Kota Pontianak menjadi relevan karena mengingatkan bahwa kota yang baik bukan hanya dibangun oleh anggaran dan kebijakan, tetapi juga oleh perilaku warganya. Jalan yang bersih lahir dari masyarakat yang disiplin. Lingkungan yang sehat tercipta dari kepedulian bersama. Kota yang harmonis tumbuh dari sikap saling menghargai di tengah keberagaman.
Pontianak memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki banyak kota lain. Kota ini dibangun dan dibesarkan oleh keberadaan Sungai Kapuas dan Sungai Landak. Sejak masa Kesultanan Kadriah hingga era modern, sungai menjadi pusat kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat. Karena itu, menjaga sungai sama dengan menjaga identitas kota.
Pemerintah Kota Pontianak melalui Dinas Lingkungan Hidup Kota Pontianak secara rutin melakukan pemantauan kualitas air pada 27 titik di Sungai Kapuas Besar, Sungai Kapuas Kecil, dan Sungai Landak. Langkah ini menunjukkan bahwa kualitas lingkungan menjadi perhatian serius dalam pembangunan kota. Namun tanggung jawab menjaga lingkungan tidak bisa dibebankan kepada pemerintah semata. Data Dinas Lingkungan Hidup Kota Pontianak menunjukkan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup Kota Pontianak tahun 2025 berada pada angka 65,69 dengan Indeks Kualitas Udara sebesar 72,43. Angka tersebut menjadi pengingat bahwa kualitas lingkungan harus terus dijaga dan ditingkatkan melalui keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Persoalan sampah menjadi contoh nyata. Seiring bertambahnya jumlah penduduk, volume sampah yang dihasilkan setiap hari juga terus meningkat. Program bank sampah, pengelolaan sampah terpadu, dan berbagai kampanye kebersihan yang dilakukan pemerintah akan sulit berhasil tanpa perubahan perilaku masyarakat. Sampah yang dibuang ke sungai atau saluran air pada akhirnya akan kembali menjadi masalah bagi warga sendiri, baik dalam bentuk pencemaran maupun genangan saat musim hujan.
Di sisi lain, Pontianak patut bersyukur karena memiliki capaian positif dalam penyediaan ruang terbuka hijau. Hingga tahun 2025, luas Ruang Terbuka Hijau (RTH) mencapai sekitar 31,35 persen dari luas wilayah kota, melampaui batas minimum nasional sebesar 30 persen. Capaian ini menunjukkan komitmen pemerintah dan masyarakat dalam menciptakan kota yang lebih hijau dan nyaman untuk ditinggali.
Namun, salah satu tantangan yang patut menjadi perhatian dalam pembangunan Kota Pontianak adalah kualitas udara. Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat semakin akrab dengan fenomena kabut asap yang hadir hampir setiap musim kemarau. Asap yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Kalimantan Barat tidak hanya mengurangi jarak pandang, tetapi juga menurunkan kualitas udara yang dihirup masyarakat setiap hari, dan berpengaruh pada aktifitas hidup masyarakat di semua sektor.
Pada saat yang sama, pertumbuhan jumlah kendaraan dan aktivitas perkotaan turut menambah beban lingkungan yang harus ditanggung kota ini. Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa udara bersih bukan sesuatu yang bisa dianggap tersedia selamanya. Jika sungai adalah urat nadi Pontianak, maka udara yang sehat adalah napas kehidupan kota. Akan tetapi untuk menjadikan Pontianak tangguh bersahabat tidak hanya berbicara tentang lingkungan. Tema tersebut juga menyangkut upaya menjaga harmoni sosial.
Pontianak adalah rumah bagi berbagai etnis dan budaya yang telah hidup berdampingan selama ratusan tahun. Kerukunan yang selama ini terjaga merupakan modal sosial yang sangat berharga bagi pembangunan kota.
Di tengah derasnya arus informasi dan media sosial, menjaga persatuan menjadi tantangan yang tidak kalah penting. Masyarakat perlu lebih bijak dalam menyikapi informasi serta mengedepankan dialog dan toleransi. Sebab kota yang maju tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonominya, tetapi juga dari kemampuan warganya menjaga kebersamaan.
Karena itu, Hari Jadi Kota Pontianak tidak seharusnya dimaknai hanya sebagai seremoni tahunan. Misalnya dengan lomba, berpakaian ala Melayu, tetapi menjadi ajakan untuk memperkuat rasa memiliki terhadap kota. Sebab ketika setiap warga ikut menjaga Pontianak, sesungguhnya mereka sedang menjaga masa depan mereka sendiri.
Selamat Hari Jadi ke-255 Kota Pontianak. Pontianak Tangguh Bersahabat, dari tepian Kapuas untuk kota yang lebih hijau, harmonis, dan bermartabat. (*)