PONTIANAK,SP - Upaya menembus batas lokal menuju panggung global kini tak lagi sekadar wacana di dunia kampus. Universitas PGRI Pontianak membuktikan langkah itu lewat penyelenggaraan konferensi internasional yang tak hanya berskala besar, tetapi juga sarat makna strategis.
Fakultas MIPA dan Teknologi (FMIPATEK) sukses menggelar International Joint Conference on Mathematics, Science, Technology, and Education (IJC-MaSTEd) 2026, kemarin.
Mengusung tema “Innovative and Inclusive Collaborative Approaches to Address Global Challenges in Mathematics, Science, Technology, and Education”, forum ini menjadi ruang temu gagasan lintas negara dalam menjawab tantangan global melalui pendekatan kolaboratif.
Sekitar 200 peserta ambil bagian, baik secara luring maupun daring. Dari jumlah itu, 116 peserta tercatat sebagai pemakalah yang berasal dari 21 instansi mulai dari perguruan tinggi dalam dan luar negeri, praktisi, mahasiswa, hingga instansi pemerintah. Angka ini bukan sekadar statistik, tetapi cerminan meningkatnya kesadaran akan pentingnya kolaborasi ilmiah lintas disiplin.
Rangkaian kegiatan dibuka dengan seremoni yang memadukan nuansa akademik dan budaya. Mulai dari menyanyikan lagu kebangsaan, doa bersama, hingga penampilan tari tradisional mahasiswa sebuah simbol bahwa internasionalisasi tidak harus tercerabut dari akar lokal.
Dekan FMIPATEK, Yudi Darma, menegaskan bahwa konferensi ini bukan agenda tunggal, melainkan bagian dari ekosistem akademik yang lebih luas.
“Kegiatan ini merupakan wujud nyata komitmen kami dalam mendorong transformasi pendidikan tinggi yang kolaboratif, adaptif, dan berorientasi global. Konferensi ini menjadi ruang strategis untuk mempertemukan gagasan, memperkuat jejaring akademik, serta membuka peluang kolaborasi internasional yang berkelanjutan,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menyebut IJC-MaSTEd 2026 sebagai tonggak sejarah. Ini adalah konferensi internasional pertama yang digelar FMIPATEK sebuah langkah awal yang menandai ambisi institusi untuk membangun reputasi global.
“Ini bukan sekadar konferensi, tetapi tonggak sejarah bagi FMIPATEK dalam membangun reputasi akademik internasional,” tambahnya.
Pembukaan resmi dilakukan oleh Wakil Rektor I, Aunurrahman, yang menekankan pentingnya kolaborasi lintas negara di tengah kompleksitas tantangan global yang semakin dinamis.
Momentum strategis lainnya terlihat dari penandatanganan Memorandum of Institutional Cooperation antara fakultas di lingkungan kampus dengan sejumlah mitra, seperti IPG Sarawak Malaysia, Universitas Muhammadiyah Pontianak, dan ISBI Singkawang.
Kerja sama ini menjadi fondasi awal penguatan jejaring internasional dalam bidang pendidikan, riset, dan pengabdian masyarakat.
Pada sesi utama, peserta mendapatkan perspektif global dari para keynote speaker, di antaranya Kamalawati Binti Dolhan, Daisy Mae R. Bongtiwon, serta Pedro Sáenz-López. Berbagai isu strategis dibahas, mulai dari inovasi pembelajaran hingga tantangan pendidikan masa depan.
Memasuki sesi paralel, dinamika diskusi semakin terasa. Sebanyak 10 ruang presentasi 6 luring dan 4 daring dipenuhi paparan riset dan inovasi akademik. Topik yang diangkat pun beragam dan relevan, mulai dari pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), GeoGebra, Augmented Reality, hingga pendekatan STEM dan literasi numerasi. Isu lingkungan, termasuk riset pesisir, juga menjadi perhatian penting dalam forum ini.
Lebih dari sekadar ajang presentasi, konferensi ini membuka ruang pertukaran gagasan yang konstruktif. Dari sinilah diharapkan lahir kolaborasi lintas institusi yang berkelanjutan, sekaligus inovasi yang mampu menjawab persoalan nyata di bidang pendidikan dan teknologi.
Penyelenggaraan IJC-MaSTEd 2026 menjadi penegas arah baru FMIPATEK sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan yang progresif dan terbuka terhadap kolaborasi global. Sebuah langkah yang menunjukkan bahwa dari Pontianak, kontribusi untuk dunia bukan hal yang mustahil.(din)