Ponticity post authorKiwi 27 April 2026

Dari Imajinasi ke Halaman Buku: Novel Ketiga Adnan “Adnova Magna: Lingkaran Darah” Menjaga Literasi Pelajar

Photo of Dari Imajinasi ke Halaman Buku: Novel Ketiga Adnan “Adnova Magna: Lingkaran Darah” Menjaga Literasi Pelajar

PONTIANAK,SP - Di tengah arus teknologi yang membuat banyak remaja lebih akrab dengan layar gawai daripada halaman buku, seorang pelajar dari SMA Negeri 1 Pontianak justru menorehkan prestasi membanggakan di dunia literasi. Ia adalah Muhammad Rifqi Adnan, siswa yang kembali meluncurkan novel ketiganya berjudul Adnova Magna: Lingkaran Darah.

Novel ini menjadi bukti konsistensi Adnan dalam berkarya. Bagi remaja seusianya, menulis satu buku saja bukan hal mudah. Namun Adnan mampu melahirkan karya demi karya, menjadikan menulis sebagai bagian dari perjalanan hidupnya sejak kecil.

Imajinasi yang Dituangkan Menjadi Cerita

Bagi Adnan, menulis adalah cara untuk menyalurkan imajinasi. Dunia cerita yang ia bangun bukan sekadar hiburan, tetapi juga ruang untuk menuangkan gagasan yang selama ini hidup dalam pikirannya.

Adnan mengaku novel terbarunya lahir dari keinginannya mengembangkan imajinasi sekaligus memberikan cerita menarik bagi pembaca yang menantikan karya-karyanya.

“Novel ini saya buat karena saya sangat ingin mengembangkan imajinasi saya, sekaligus saya tuangkan ke dalam kata-kata yang indah agar para pembaca tidak bosan menunggu lanjutan novel terbitan saya,” ujar Adnan.

Dalam novel tersebut, ia menghadirkan kisah menegangkan tentang serangan zombie misterius yang terjadi di lingkungan sekolah, lengkap dengan konflik persahabatan, ketegangan, dan misteri yang terus berkembang.

Menulis sebagai Investasi Masa Depan

Bagi Adnan, menulis bukan sekadar hobi. Ia memandang karya-karya yang ia buat sebagai investasi masa depan sekaligus prestasi yang akan selalu ia kenang.

“Saya menulis buku ini dengan keinginan untuk investasi masa depan sekaligus prestasi yang dapat saya simpan hingga masa depan,” kata Adnan.

Pandangan itu menunjukkan kedewasaan berpikir seorang pelajar yang memandang literasi sebagai bagian penting dari perjalanan hidupnya.

Proses Kreatif Hampir Dua Tahun

Proses penulisan novel ini tidak berlangsung singkat. Adnan membutuhkan waktu sekitar satu tahun sembilan bulan untuk menyelesaikannya.

Ia memulai proses tersebut dari mencari ide cerita. Inspirasi datang dari berbagai film yang ia tonton, termasuk serial populer seperti All of Us Are Dead yang juga mengangkat tema serangan zombie.

“Saya mulai memproduksi buku ini selama satu tahun sembilan bulan. Diawali dari pemilihan ide yang saya dapatkan dari beberapa film yang saya tonton, di antaranya seperti All of Us Are Dead dan lain-lain. Untuk kendala menurut saya tidak ada yang terlalu signifikan,” ungkapnya.

Ketelitian dalam menyusun alur cerita serta kesabaran dalam menulis menjadi kunci hingga novel tersebut akhirnya selesai.

Dukungan Orang Terdekat

Di balik lahirnya karya ini, Adnan tidak berjalan sendiri. Dukungan dari keluarga dan teman-teman menjadi bagian penting dari proses kreatifnya.

Ia menyebut orang tuanya sebagai pendukung utama dalam perjalanan menulis. Selain itu, beberapa teman dekat juga turut memberi semangat dan motivasi.

“Yang banyak membantu tentu orang tua saya, dan juga teman-teman sebaya saya seperti Sirkanz, Ibnu, dan Irma,” katanya.

Dukungan lingkungan sekitar membuat Adnan semakin percaya diri untuk terus menulis dan mengembangkan ide-ide ceritanya.

Kebanggaan Sekolah

Prestasi Adnan mendapat apresiasi dari pihak SMA Negeri 1 Pontianak. Kepala sekolah, Indang Maryati, menyampaikan rasa bangganya terhadap capaian siswa tersebut.

Menurutnya, di tengah kondisi saat ini, minat menulis buku di kalangan pelajar memang sangat minim. Karena itu, karya Adnan menjadi contoh inspiratif bagi siswa lainnya.

“Alhamdulillah kami sangat bangga terhadap siswa kami ini. Walaupun dalam keadaan perhatian khusus, Adnan memiliki kemampuan dan prestasi yang sangat luar biasa dalam menulis buku,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pihak sekolah sangat mendukung kegiatan ekstrakurikuler dan pengembangan bakat siswa, dengan dukungan dari guru, komite sekolah, serta orang tua.

SMA Negeri 1 Pontianak juga memberikan apresiasi kepada siswa-siswa berprestasi yang mampu mengharumkan nama sekolah di tingkat kota, provinsi, nasional bahkan internasional.

Pesan untuk Para Pembaca

Bagi Adnan, pembaca memiliki tempat istimewa dalam setiap karya yang ia tulis. Ia berharap cerita yang ia buat dapat memberikan kepuasan dan kesan mendalam bagi para penikmat novelnya.

“Semoga para pembaca selalu merasa puas akan cerita yang saya buat. Walau tidak selamanya di saat prima, tapi usaha saya dalam menyenangkan kalian tidak pernah habis,” pesan Adnan kepada para pembacanya.

Dengan terbitnya Adnova Magna: Lingkaran Darah, Adnan kembali membuktikan bahwa usia muda bukanlah penghalang untuk berkarya. Dari sebuah imajinasi sederhana yang tumbuh sejak kecil, ia kini mampu melahirkan cerita yang menjangkau banyak pembaca.

Dan mungkin, dari ruang kelas di Pontianak itulah, langkah seorang penulis muda sedang perlahan menapaki masa depan yang lebih besar di dunia literasi. (*)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda