Ponticity post authorKiwi 29 Mei 2026

Dari Jual Jengkol hingga Menerima Kalpataru: Kesederhanaan Mgr Samuel Oton Sidin OFM Cap yang Menginspirasi

Photo of Dari Jual Jengkol hingga Menerima Kalpataru: Kesederhanaan Mgr Samuel Oton Sidin OFM Cap yang Menginspirasi

PONTIANAK, SP - Mgr Dr Samuel Oton Sidin OFM Cap, Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak, membagikan kisah perjuangannya saat merintis kawasan Wisma Pelangi di Dusun Benuah, Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat (Kalbar).

Ditemui di Wisma Keuskupan Agung Pontianak, Jumat malam (22/5/2026), Mgr Samuel mengaku pernah berjualan jengkol dan daging babi hasil ternaknya sendiri demi menopang biaya operasional pengelolaan kawasan yang kini menjadi hutan alam seluas sekitar 100 hektare.

“Selain jualan buah jengkol, saya juga menjual daging babi hasil ternak sendiri dari Benuah sampai ke Batang Tarang, Kabupaten Sanggau,” ungkapnya.

Ia mengenang, pada tahun 1998 harga jengkol kupas dijual sekitar Rp4 ribu per kilogram.

Hasil penjualan itu digunakan untuk membiayai pengelolaan lahan tandus yang perlahan diubah menjadi kawasan hijau dan asri.

Kini, Wisma Pelangi milik Ordo Fratrum Minorum Capucinorum (OFM Cap) dikenal luas sebagai salah satu wisata alam dan pusat pembelajaran lingkungan hidup di Kalimantan Barat.

Mgr Samuel juga mengakui peran besar Bruder Stephanus Paiman OFM Cap dalam memperkenalkan Wisma Pelangi kepada masyarakat luas melalui berbagai pemberitaan media massa.

Upaya tersebut turut mengantarkan Mgr Samuel menerima Penghargaan Kalpataru dari Presiden Republik Indonesia pada tahun 2012.

Ditunjuk Menjadi Administrator Apostolik

Vatikan secara resmi mengumumkan penunjukan Mgr Samuel Oton Sidin sebagai Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak pada Sabtu, 30 Agustus 2025, pukul 12.00 waktu Vatikan atau pukul 18.00 WIB.

Ia menjalankan tugas sebagai Administrator Apostolik “sede vacante et ad nutum Sanctae Sedis” sambil tetap menjabat sebagai Uskup Sintang.

Penunjukan tersebut dilakukan setelah Uskup Agung Pontianak sebelumnya, Mgr Agustinus Agus OP, memasuki usia pensiun 75 tahun sesuai ketentuan Gereja Katolik.

Dalam Gereja Katolik, Administrator Apostolik bertugas memimpin keuskupan secara sementara ketika terjadi kekosongan tahta uskup. Jabatan ini ditunjuk langsung oleh Takhta Suci dan memiliki kewenangan hampir setara uskup definitif, namun tetap dibatasi oleh hukum kanonik tertentu.

Tugasnya mencakup pelayanan pastoral, pengelolaan administrasi keuskupan, pembinaan umat, hingga menjaga kesinambungan kehidupan rohani Gereja sampai ditunjuknya uskup definitif.

Kesaksian Bruder Stephanus Paiman: Hidup Sederhana di Rumah Pelangi

Bruder Stephanus Paiman OFM Cap, Ketua Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak (FRKP), membagikan kenangan hidup bersama Mgr Samuel saat merintis Rumah Pelangi pada awal tahun 2000-an.

Menurutnya, Mgr Samuel adalah pribadi sederhana, kebapakan, bijaksana, rendah hati, dan seorang pendoa.

“Saya beberapa kali tinggal serumah dengan beliau. Kesederhanaannya sungguh luar biasa,” kenang Bruder Stephanus.

Ia menceritakan suatu sore setelah hujan deras pada tahun 2001, persediaan beras di Rumah Pelangi hampir habis.

“Pak Petrus berbisik kepada saya, ‘Bruder, beras kita tinggal satu canting.’ Jalan masih becek karena belum diaspal. Akhirnya kami memasak bubur dengan air lebih banyak supaya cukup sampai pagi,” tuturnya.

Keesokan harinya, Bruder Stephanus membawa dua karung beras masing-masing 20 kilogram menggunakan sepeda motor Honda Win dari Pontianak menuju Rumah Pelangi.

Dalam kesempatan lain, Mgr Samuel juga pernah memetik pucuk tanaman liar sejenis pakis yang biasanya hanya dipakai untuk hiasan kandang Natal.

“Beliau merebusnya dan makan dengan sambal terasi. Saya mencoba memakannya, rasanya pahit sekali. Tapi beliau menikmatinya dengan santai sambil berkata, ‘Enak kan, sedikit pahit,’” kisah Bruder Stephanus sambil tertawa.

Tak jarang, ketika beberapa hari tidak ada lauk ikan, Mgr Samuel pergi memancing dan memasang bubu bambu sendiri. Hasil tangkapannya berupa ikan kecil, kodok, hingga ular air kemudian dimasak dalam bambu.

“Luar biasa enaknya, mungkin juga karena situasi saat itu,” ujarnya.

Kesederhanaan, kerja keras, dan semangat pengabdian Mgr Samuel Oton Sidin menjadi inspirasi banyak orang, terutama dalam menjaga lingkungan hidup dan melayani umat tanpa pamrih.

“Beliau Sosok Bapa yang Sederhana dan Tangguh”

Kesan Mendalam Bruder Stephanus Paiman OFM Cap untuk Sahabatnya, Mgr Samuel Oton Sidin

Bruder Stephanus Paiman OFM Cap mengaku memiliki banyak kenangan mendalam selama hidup bersama Mgr Samuel Oton Sidin saat merintis Rumah Pelangi di Dusun Benuah.

Menurut Bruder Stephanus, Mgr Samuel adalah pribadi sederhana, pekerja keras, rendah hati, dan selalu mengandalkan doa dalam setiap perjuangan hidupnya.

“Saya beberapa kali serumah dengan beliau. Mgr Samuel itu sosok yang kebapakan, bijaksana, sederhana, dan sangat dekat dengan orang kecil,” ungkap Bruder Stephanus.

Ia mengenang masa-masa sulit ketika mereka harus bertahan dengan persediaan makanan seadanya di tengah kondisi jalan yang masih rusak dan akses yang terbatas.

Dalam situasi kekurangan, Mgr Samuel tidak pernah mengeluh. Bahkan, beliau rela mencari ikan sendiri, memasang bubu bambu, hingga memanfaatkan tanaman liar di sekitar Rumah Pelangi untuk dimasak bersama.

“Beliau selalu mengajarkan kesederhanaan dan rasa syukur. Apa yang ada dimakan bersama dengan penuh sukacita,” tutur Bruder Stephanus.

Bagi Bruder Stephanus, perjuangan Mgr Samuel dalam membangun Wisma Pelangi bukan sekadar membangun hutan atau tempat wisata alam, tetapi juga membangun semangat hidup, kepedulian lingkungan, dan ketulusan melayani sesama.
“Beliau bukan hanya seorang pemimpin Gereja, tetapi juga sahabat perjuangan yang memberi teladan nyata tentang pengorbanan dan cinta kasih,” pungkasnya. (aep)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda