Internasional post authorelgiants 29 Mei 2026

Iran Kecam Ancaman Trump ke Oman, Ketegangan Timur Tengah Memuncak

Photo of Iran Kecam Ancaman Trump ke Oman, Ketegangan Timur Tengah Memuncak

JAKARTA, SP - Iran langsung bereaksi menanggapi pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengancam akan membombardir Oman.

Ancaman tersebut disampaikan Trump untuk memperingatkan Oman agar tidak membantu negara tetangganya tersebut.

Iran kemudian merespons ancaman Trump tersebut dan menegaskan itu sebagai pernyataan "berbahaya" dan perilaku "bully" atau perundung.

Juru bicara Menteri Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei mengatakan ancaman tersebut merupakan bentuk pelanggaran terhadap prinsip dasar hukum internasional. Ia menilai Oman sebagai negara yang telah berperan aktif sebagai mediator negosiasi perdamaian.

"Ancaman untuk 'menghancurkan' negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa yang selalu memainkan peran konstruktif, efektif, dan bertanggung jawab dalam perdamaian dan keamanan regional, serta telah menggunakan upaya mulianya dalam melayani perdamaian dan stabilitas regional sebagai mediator dalam proses diplomatik selama bertahun-tahun, bukan hanya pelanggaran terhadap prinsip dasar pelarangan ancaman penggunaan kekerasan, tetapi juga tanda berbahaya lain dari normalisasi pelanggaran hukum dan intimidasi dalam hubungan internasional," kata Baghaei, dikutip dari Turkiye Today.

Ia menyatakan solidaritas Iran dengan "negara sahabat dan saudara Oman" dan mengutuk apa yang digambarkannya sebagai "retorika mengancam dari pejabat Amerika terhadap Iran dan beberapa negara regional lainnya."

Baghaei juga mengutuk keras serangan AS di fasilitas militer Pelabuhan Bandar Abbas Iran dan menyebut mereka melakukan "aksi agresif melawan integritas teritorial dan kedaulatan nasional Iran.

Serangan itu juga dinilainya sebagai "pelanggaran terang-terangan" terhadap piagam PBB dan gencatan senjata 8 April. Baghaei kemudian menekankan hak hukum Iran untuk mempertahankan integritas teritorialnya berdasarkan Pasal 51 Piagam PBB.

Trump sebelumnya melontarkan ancaman meledakkan Oman jika bekerja sama dengan Iran terkait penutupan Selat Hormuz.

"Tidak ada yang akan mengendalikannya. Ini perairan internasional, dan Oman akan berperilaku seperti negara lain, atau kami harus meledakkan mereka. Mereka mengerti itu. Mereka akan baik-baik saja," kata Trump dikutip dari Aljazeera.

Sejauh ini, Oman dikenal sebagai negara yang netral belum menyatakan keinginannya untuk bergabung dengan Iran dalam mengendalikan Selat Hormuz. AS dan Oman adalah sekutu dekat yang telah terjalin lebih dari 200 tahun.

Iran Kutuk Serangan AS

Sebelumnya juga, Iran mengutuk keras serangan militer Amerika Serikat di dekat Bandar Abbas di Iran selatan, serta menuduh Washington berulang kali melanggar gencatan senjata dan mengancam negara-negara di kawasan, menurut Kementerian Luar Negeri Iran, Kamis (28/5).

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan serangan AS di dekat Bandar Abbas, yang dilakukan pada Kamis dini hari, merupakan "pelanggaran terang-terangan" terhadap hukum internasional dan Piagam PBB.

Baghaei mengatakan Dewan Keamanan PBB berkewajiban untuk memenuhi tanggung jawab hukumnya dengan meminta pertanggungjawaban AS atas atas agresi yang telah dilancarkan terhadap integritas teritorial dan kedaulatan nasional Iran.

Dia juga menuduh Washington terus menerus melanggar gencatan senjata yang mulai berlaku pada 8 April, dengan menyebutkan serangan terhadap kapal dagang di wilayah Teluk dan perairan internasional, serta serangan udara baru-baru ini di Iran selatan.

Juru bicara tersebut menekankan tekad Iran untuk mengambil "semua tindakan yang diperlukan" untuk mempertahankan kedaulatan dan integritas teritorialnya sesuai dengan Pasal 51 Piagam PBB.

Baghaei juga mengecam apa yang digambarkannya sebagai retorika mengancam oleh pejabat AS terhadap Iran dan beberapa negara regional, sambil menyatakan solidaritas terhadap Oman.

Dia mengatakan ancaman "penghancuran" negara anggota PBB, seperti Oman, yang telah memainkan peran konstruktif dan bertanggung jawab dalam upaya perdamaian regional dan mediasi diplomatik, merupakan normalisasi berbahaya dari "pelanggaran hukum dan intimidasi" dalam hubungan internasional.

Seorang pejabat AS juga mengatakan kepada Anadolu bahwa pasukan AS telah menembak jatuh empat drone Iran di dekat Selat Hormuz dan menyerang stasiun kontrol darat Iran di Bandar Abbas yang diduga sedang bersiap untuk meluncurkan drone lain.

Pejabat tersebut menggambarkan tindakan AS sebagai "terukur" dan "murni defensif," mengatakan bahwa tindakan tersebut dimaksudkan untuk mempertahankan gencatan senjata.

Sebagai tanggapan atas serangan AS, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengatakan telah menargetkan pangkalan udara AS di Kuwait sebagai pembalasan atas apa yang digambarkannya sebagai serangan udara Amerika di dekat Bandara Bandar Abbas.

Menurut kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim News Agency, IRGC mengatakan serangan balasan itu terjadi beberapa jam setelah proyektil udara AS diduga menghantam daerah dekat bandara di kota pelabuhan selatan tersebut.

Ketegangan terbaru itu terjadi saat upaya sedang berlangsung untuk mencapai kesepakatan yang lebih luas setelah perang pada 28 Februari, ketika AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran, yang memicu serangan balasan drone dan rudal Iran di seluruh wilayah dan penutupan Selat Hormuz.

Gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April melalui mediasi Pakistan, meskipun negosiasi di Islamabad gagal menghasilkan penyelesaian permanen.

Presiden AS Donald Trump kemudian memperpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu sambil terus memberlakukan pembatasan pada kapal-kapal yang terkait dengan pelabuhan Iran. (cnn/ant)

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda